Banyak Teman, tapi Tak Selalu Banyak yang Mengingatkan Pulang

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (11/08/2026) Kita hidup dalam zaman ketika memiliki teman terasa semakin mudah. Ada teman sekolah, teman kerja, teman usaha, teman organisasi, teman perjalanan, teman komunitas, bahkan teman yang setiap hari hadir melalui layar. Lingkaran pergaulan semakin luas, tetapi kedekatan belum tentu ikut bertambah. Ada teman yang membuat kita tertawa, membuka jalan, mengajak berkarya, atau membuat kita berani mengejar sesuatu yang lebih tinggi. Semua itu baik pada tempatnya. Namun semakin panjang usia perjalanan, semakin terasa bahwa manusia membutuhkan teman yang tidak hanya membuatnya bergerak lebih cepat, tetapi juga tidak keberatan membuatnya berhenti. Bukan hanya yang berkata mari kita kejar, tetapi sesekali yang cukup berkata, “Sudahlah, hari sudah terlalu panjang. Pulanglah.”

Di banyak ruang kehidupan, pertemanan mudah berkelindan dengan kepentingan. Dalam birokrasi ada jabatan dan kewenangan, dalam bisnis ada peluang dan keuntungan, dalam politik ada pengaruh dan kekuasaan, dalam organisasi ada posisi dan reputasi. Bahkan dalam pergaulan yang tampak cair, kedekatan kadang tumbuh karena kesamaan kepentingan. Tidak seluruhnya buruk. Manusia memang hidup di antara kebutuhan dan tujuan. Tetapi ketika kepentingan terlalu lama menjadi bahasa pergaulan, persahabatan dapat kehilangan kemampuan untuk hadir tanpa sedang menginginkan sesuatu. Kita menjadi pandai menemukan teman untuk maju bersama, tetapi semakin jarang menemukan teman yang cukup dekat untuk menghentikan langkah dan berkata, “Ayo, pulang.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mungkin justru di situlah kasih sayang bekerja. Seorang sahabat yang melihat kawannya masih bekerja hingga larut malam tidak selalu perlu memberi nasihat panjang. Cukup mengatakan bahwa pekerjaan dapat dilanjutkan esok hari, sebab ada rumah yang menunggu, ada pasangan, ada anak-anak, ada kehidupan yang tidak tercatat dalam agenda pekerjaan. Ada sesuatu yang dapat diselamatkan oleh satu kalimat sederhana itu, yaitu waktu yang mungkin tanpa disadari sedang ditinggalkan.

Dunia sains pun tidak berada di luar persoalan manusia. Ketika laporan penelitian belum selesai, tenggat semakin dekat, publikasi dikejar, reputasi dibangun dan target harus dicapai, ajakan yang terdengar sering kali justru, “Sedikit lagi, kita selesaikan malam ini.” Tidak ada yang salah dengan ketekunan. Ilmu memang membutuhkan kesungguhan. Tetapi manusia bukan hanya makhluk yang menghasilkan pengetahuan. Ia juga seseorang yang memiliki rumah, keluarga, tubuh yang dapat lelah dan hati yang dapat sepi. Ada pekerjaan yang dapat diselesaikan besok, tetapi ada waktu bersama keluarga yang tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama. Laporan penelitian dapat direvisi, tetapi masa kecil seorang anak tidak mempunyai tombol ulang.

Dunia akademik pun hanya salah satu cermin kehidupan manusia. Ilmu membawa manusia kepada pencarian kebenaran, tetapi di sekelilingnya tumbuh karier, jabatan, reputasi, pengaruh, kesejahteraan dan kemasyhuran. Semua memiliki tempatnya. Yang menarik, sejarah ilmu memperlihatkan bahwa pencarian pengetahuan tidak selalu harus membuat manusia kehilangan kemanusiaannya. Charles Darwin dan Joseph Dalton Hooker, misalnya, menjalin persahabatan panjang yang terpelihara melalui lebih dari seribu dua ratus surat. Mereka bertukar gagasan ilmiah, tetapi hubungan itu tidak berhenti pada ilmu. Di antara perdebatan, keraguan dan persoalan kehidupan, keduanya juga menemukan ruang untuk saling menjadi manusia. Ilmu mempertemukan pikiran mereka, tetapi persahabatan membuat pertemuan itu mempunyai umur yang lebih panjang daripada sebuah gagasan.

Ada pula pertemanan yang tumbuh menjadi persaudaraan bagi keluarga masing-masing. Persahabatan Soekarno dan Mohammad Hatta dapat disentuhkan di sini, dengan segala kompleksitas hubungan keduanya. Mereka pernah berada dalam satu perjuangan besar, berjalan bersama dalam bagian penting sejarah bangsa, sekaligus mengalami perbedaan pandangan. Justru di sana terlihat bahwa persahabatan tidak selalu berarti kesamaan dalam segala hal. Kadang kedekatan diuji ketika perbedaan tidak serta-merta menghapus penghormatan. Dari hubungan yang panjang, lingkaran persahabatan bahkan dapat meluas kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Pertemanan tidak berhenti pada dua nama, tetapi tumbuh menjadi persaudaraan yang memiliki ruang di luar kepentingan keduanya.

Lalu kata pulang menjadi semakin dalam. Pada mulanya pulang berarti kembali ke rumah setelah perjalanan yang melelahkan. Kemudian ia menjadi kembali kepada orang-orang yang mengenal kita ketika kita tidak sedang menjadi siapa-siapa. Dan pada suatu usia, pulang perlahan menemukan makna yang lebih sunyi. Ada pulang kepada Ilahi. Sebab apa pun yang selama ini dikejar pada akhirnya memiliki batas. Jabatan akan berganti, gelar akan ditinggalkan, kemasyhuran akan mereda, karya akan menemukan waktunya sendiri, dan tubuh pun suatu hari akan mengembalikan apa yang selama ini dipinjamkan kehidupan. Pada kepulangan terakhir itu, mungkin sahabat terbaik bukan hanya orang yang membantu kita mencapai banyak hal, melainkan orang yang selama perjalanan membuat kita tidak kehilangan arah tentang kepada siapa seluruh pencapaian itu akhirnya dikembalikan.

Kita tetap membutuhkan teman yang mengajak berkarya, memperluas ilmu, membangun usaha, melakukan perjalanan dan mencapai kehidupan yang lebih baik. Hidup memerlukan orang-orang yang membuat langkah kita lebih berani. Tetapi alangkah beruntungnya bila di antara begitu banyak teman yang menemani kita mengejar dunia, masih ada seseorang yang sesekali membuat kita berhenti. Ia tidak iri ketika kita berhasil, tidak merasa kecil ketika kita tumbuh, dan tidak selalu mendorong kita untuk berlari. Kadang ia hanya berkata, “Pulanglah.” Lalu kita pulang kepada rumah, kepada pasangan, kepada anak-anak, kepada percakapan yang mungkin telah lama tertunda. Setelah itu, ketika malam menjadi lebih sunyi, kita mungkin baru menyadari bahwa rumah pun ternyata bukan tempat terakhir. Ada kepulangan yang lebih jauh, lebih hening dan lebih pasti. Dan mungkin salah satu bentuk kasih sayang paling tinggi dalam sebuah persahabatan adalah ketika seseorang tidak hanya menemani kita sepanjang perjalanan, tetapi menjaga agar kita tetap tahu ke mana perjalanan itu akan kembali.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Banyak Teman, tapi Tak Selalu Banyak yang Mengingatkan Pulang
Penulis:Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *