MajmusSunda News – Bandung, Kamis (01/10/2026) – Saya menulis ini sebagai seorang urang Sunda.
Bukan untuk menilai urang Sunda dari luar, tetapi untuk bercermin dari dalam.
Saya bangga terlahir sebagai urang Sunda. Saya mencintai Pasundan, bahasa Sunda, seni, budaya, sejarah, someah, handap asor, serta falsafah silih asah, silih asih, silih asuh.
Karena itu, tulisan ini bukan kebencian.
Ini otokritik.
Kegelisahan ini tumbuh dari pengalaman saya berorganisasi, bersilaturahmi, dan melakukan perjalanan ke Tatar Pasundan. Saya pernah ikut membidani PWS, mendirikan HIMPAS pada 2008, dan pada 2023 menerima mandat membentuk AMS di Sumatera Barat.
Dalam perjalanan itu, saya pernah mengalami bagaimana sebuah wadah baru dipandang sebagai ancaman atau “organisasi tandingan”, seolah ruang untuk berkarya hanya tersedia bagi mereka yang datang lebih dahulu.
Saya juga melakukan perjalanan sekitar sepuluh hari ke Tatar Pasundan untuk mendalami bahasa, seni, budaya, tata nilai, dan adat-istiadat Sunda. Saya bertemu banyak orang baik yang tulus menjaga warisan karuhun.
Tetapi saya juga melihat sesuatu yang membuat saya bertanya:
Mengapa kita yang memiliki silih asah, silih asih, silih asuh kadang masih sulit menerima orang yang memilih jalan berbeda?
Mengapa keberhasilan orang lain kadang terasa seperti ancaman?
Mengapa perbedaan wadah mudah berubah menjadi persaingan?
Dari sanalah saya memahami satu kalimat:
Montong Pa Aing-Aing.
Bagi saya, ini bukan sekadar “jangan aku-aku-an.”
Ini adalah pengingat ketika “aing” menjadi terlalu besar.
Aing ingin paling benar.
Aing ingin paling berhak.
Aing ingin paling diakui.
Aing ingin menjadi satu-satunya.
Padahal:
Sunda terlalu besar untuk dimiliki oleh satu orang, satu kelompok, atau satu organisasi.
Organisasi adalah wadah.
Kebudayaan adalah rumah.
PWS bukan pemilik Sunda.
AMS bukan pemilik Sunda.
Lembaga adat bukan pemilik Sunda.
Tokoh Sunda bukan pemilik Sunda.
Dan saya pun bukan pemilik Sunda.
Kita semua hanya bagian dari Sunda.
Maka Montong Pa Aing-Aing pertama-tama harus saya ucapkan kepada diri sendiri:
Ulah ngarasa pangalusna.
Jangan merasa paling baik.
Ulah ngarasa pangbenerna.
Jangan merasa paling benar.
Ulah sieun lamun batur leuwih maju.
Jangan takut ketika orang lain lebih maju.
Ulah amis basa, tapi kalakuan pikasebeuleun.
Jangan manis dalam bertutur, tetapi buruk dalam berbuat.
Ulah ngarasa urang sorangan anu paling boga hak kana Sunda.
Karena ketika aing terlalu besar, urang menjadi kecil.
Maka bagi saya:
Aing Pasundan adalah kesadaran akan akar.
Aing Siliwangi adalah kesadaran akan tanggung jawab.
Montong Pa Aing-Aing adalah kesadaran untuk mengendalikan ego.
Saya tidak ingin menjadi orang yang paling Sunda.
Saya hanya ingin menjadi urang Sunda yang terus belajar menjadi lebih baik.
Saya tidak ingin menjadi orang yang paling Siliwangi.
Saya hanya ingin berusaha pantas membawa nama Siliwangi.
Sebab menjaga Sunda bukan hanya mempertahankan apa yang diwariskan karuhun kepada kita.
Kita punya tanggung jawab agar bahasa, seni, budaya, dan tata nilai Sunda tetap hidup—agar dapat kita wariskan kepada generasi berikutnya, bukan sekadar sebagai kenangan masa lalu, tetapi sebagai jati diri yang terus tumbuh di masa depan.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan:
“Siapa yang paling berhak atas Sunda?”
Tetapi:
“Apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita?”
Aing Pasundan.
Aing Siliwangi.
Montong Pa Aing-Aing.

Judul: Aing Pasundan — Aing Siliwangi, Montong Pa Aing-Aing
Penulis: Amin Prabu (Ki Pamanah Rasa), Ketua AMS.106 Sumbar I Wakil Ketua FPK Provinsi Sumatera Barat)
Editor: Parkah












