Proses Pergerakan Mental (Logika), Dalam Bentuk Fikiran Terkait Term Trancendental-Contra Dictorys

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Sabtu (12/09/2026) – Artikel Berjudul “Proses Pergerakan Mental (Logika), Dalam Bentuk Fikiran Terkait Term Trancendental-Contra Dictorys” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Mempelajari bentuk fikiran, dan ada dua bentuk utama pemikiran, Pemikiran langsung dan Pemikiran tidak langsung, dengan landasan mempunyai bentuk pemikiran, dengan mudah kita akan dapat mencapai Onderdeel atau Spare Part Pemikiran, mulai dari Term, Konsep , Preposisi dan Supposisi. Meraih dan mencapai kesimpulan tanpa pertolongan, atau tanpa melalui pemikiran disebut Pemikiran Langsung, sedangkan Pemikiran Tidak Langsung adalah Pemikiran hanya dspat mencapai kesimpulan, bila melalui bentuk pemikiran lain.

Pemikiran langsung, diantaranya pertama adalah Opposisi, misalnya : Hexagon, Kontraxis, Alterna, Sub Alterna, yang kedua adalah Conversi. Sedangkan pemikiran tidak langsung, diantaranya adalah Deductive, Inductive, Argumen Cumulative ( Convergensi Kemungkinan ). Pemikiran Deductive adalah suatu pemikiran yang bergerak, dari hal umum ke hal yang kurang umum, prinsip dasarnya adalah hubungan antar pengertian *( Koherensi antar Pengertian )* memakai satu loncatan pengertian fihak ketiga, bentuk methodanya adalah *Syllogisme* tetapi ini tidak meliputi keseluruhan, jadi bukan hubungan pengertian dengan pengalaman riil., terdapat pada *Premise* , data yang terdapat sebelum kesimpulan tercapai, jika betul betul terdapat hubungan antar Premise, maka kesimpulan dikatakan pasti.( akurat ).

Statement ini sama sekali tergantung pada Premisenya, maka bentuk pemikiran ini disebut pemikiran yang Tertutup ( Closed System Statement ).
Dalam sifat sifat orang Dogmatis, pada orang orang yang berlatar belakang Religious, kebenaran pemikiran sudah ditetapkan sebelumnya, yaitu sebelum kesimpulan tercapai, kalau terjadi ketidak sesuaian yang sungguh sungguh dengan pengalaman riil, maka kesalahan terletak dalam prinsip atau Dalil umum., dan ini sangat tergantung pada Logika yang bersangkutan, bila Intelegensinya cukup, ia akan menerimanya, tetapi bila yang bersangkutan kurang cukup Intelegensianya, ia akan menutup kesadarannya., kriteria betul salahnya Premise ditentukan sepenuhnya oleh Subyek, kebenarannya tidak dapat dicheck dengan Experiment.

Jadi dalam Filsafat, disebut Logis tetapi tidak Dialektis, maka Logika jangan dijadikan tujuan, Logika hanya meluruskan jalan Pemikiran., mengatur, menarik isi kesimpulan , tidak memberi Isi Pemikiran., seperti yang terkait dalam bidang Ethika, bahwa tujuan hidup adalah keseimbangan jiwa ( Ethumia ), seperti Induksi dari pengalaman nyata ke pengertian umum dalam Logika Formil dan Logika Tradisional ( yang dikemukakan Aristoteles ), yang berseberangan dengan Francis Bacon, menyebutkan Logika Syllogismenya Aristoteles, dengan To Organon, sedangkan dia sendiri mengemukakan Novum Organum ( Induksi ).

=====00000=====

***

Judul: Proses Pergerakan Mental (Logika), Dalam Bentuk Fikiran Terkait Term Trancendental-Contra Dictorys
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *