Yoyon Dharsono Berharap Calung Jadi Mata Kuliah di ISBI Bandung

Yoyon Dharsono Berharap Calung
Yoyon Darsono, S.Kar., M.Sn., akademisi dan seniman Sunda. (Foto: Istimewa)

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (19/05/2026) – Yoyon Dharsono Berharap Calung jadi mata kuliah di ISBI Bandung. Hal tersebut mengemuka di acara syukuran Mulung Mantu Seniman & Akademisi Yoyon Darsono, S.Kar., M.Sn., yang berlangsung di Saung Budaya Yoyon, di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/5/2026). Putra Yoyon, Hardian Prawira, S.E., pada tanggal 14 April 2026 menikah dengan Tiara Nabila, S.Ikom., di Surade, Sukabumi.

Dalam hajatan Mulung Mantu yang didesain secara tradisional tanpa EO, tetapi sangat meriah itu, Yoyon mengundang seniman-seniman Sunda terkenal untuk unjuk kabisa menghibur ratusan tamu undangan.

Di antara tamu undangan saat itu hadir pejabat-pejabat tinggi dan Guru Besar ISBI Bandung, seperti Prof. Een Herdiani, Prof. Endang Caturwati, Prof. Neneng Yanti Khozanatu Lahpan, Dr. Ismet Ruchimat (Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung), Ketua Caraka Budaya Sunda Kabupaten Sumedang Dr. H. Dudi dan rengrengannya, dosen Unpad, Unpas, UPI Bandung, para seniman-budayawan, dan handai taulan lainnya.

Yoyon Dharsono Berharap Calung
Yayan Jatnika tampil memikat di Saung Budaya Yoyon. (Foto: Istimewa)

Siangnya, ada kesenian dari kelompok Ida Rosida (Yayasan Cangkurileung). Putri Seniman Sunda terkenal Mang Koko Koswara ini membawakan Kawih Mang Kokoan wanda anyar, diiringi kecapi Kang Aldi N. Iskandar (dosen ISBI), dkk. Kawih-kawih nostalgia bagi penonton yang berumur 50-60-an itu menggugah kenangan. Selain itu, ada juga elektone Pop Sundaan.

Nah, malamnya, setelah Da’wah Wayang (Daway) Ustad Ramdhan Juniarsyah, M.Ag. dan Musik Bambu kolaborasi Komstrad Entertainment pimpinan Yoyon Darsono, giliran para pemain calung terkenal beraksi di panggung, seperti Haji Yayan Jatnika (keponakan Darso), Ujang Darso (putra bungsu tokoh Calung, penyanyi Sunda legendaris Sang The’ Phenomenon Hendarso/Kang Darso-Alm.), Abiel Jatnika, putra Yayan Jatnika, alumni ISBI Bandung (berhalangan hadir), Mang Jey (Si Tangan Gledeg, dalang calung jago kleter, ngagorek calung melodi) cs, Nenda Harewos dari Paguyuban Calung Kabupaten Bandung.

Juga tak ketinggalan Bah Juyaman dan Bah Enjang dari Paguyuban Calung Kabupaten Sumedang dengan pirigan Gumasep Grup pimpinan Abah Adis. Ade Rohana, S.Sn., M.Si., tokoh seni penggerak Padepokan Seni Dangiang Jagat, pemain calung yang juga mantan birokrat dan Camat Pamulihan Sumedang, sedianya akan datang, tetapi tidak bisa hadir karena sakit. Semuanya ikut kaul meramaikan kariaan hajatan.

Walau malam itu hujan, penonton tetap tak beringsut menyaksikan dan menikmati lagu-lagu Sunda dari para Bentang Calung hingga akhir. Yoyon nu gaduh hajat pun didaulat kaul menyanyikan “Mawar Bodas” (karangan Uko Hendarto yang dipopulerkan Darso), bernyanyi trio bersama Yayan Jatnika dan Ujang Darso.

Tentu saja Yoyon dan keluarga terharu campur bahagia dan sangat berterima kasih kepada pengisi acara dan tamu undangan yang bekenan hadir meluangkan waktu di acara syukuran Mulung Mantu tersebut.

Nah, hiburan hajatan di Saung Budaya Yoyon yang diisi para Bentang Calung tersebut oleh Yoyon Dharsono dinamakan “Parade Bentang Calung”.

Yoyon sengaja ngasih nama tersebut karena selanjutnya mereka akan dilibatkan di perhelatan akbar Parade Bentang Calung Jawa Barat 2027 yang diinisiasinya.

Yoyon Dharsono Berharap Calung Jadi Mata Kuliah

Selain itu, karena Yoyon mengajar (dosen) di Program Studi Angklung dan Musik Bambu ISBI Bandung, Parade Bentang Calung tersebut jadi inspirasi dan memperkuat keinginannya untuk memasukkan Calung Sunda ke mata kuliah di jurusannya.

“Masa Calung Banyumas dan Calung Rindik Bali ada mata kuliahnya, sedangkan Calung Sunda tidak ada. Kan ISBI ada di tanah Sunda,” demikian alasan Yoyon.

Yoyon Dharsono Berharap Calung

Yoyon juga sudah ngobrol dengan Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, juga Ketua Jurusan Angklung dan Musik Bambu Dr. Hinhin Agung Daryana serta Sekretaris Jurusan Moch. Gigin Ginanjar, M.Sn., dan alhamdulillah semuanya mendukung, mendapat respons baik, dan Calung akan diusahakan masuk mata kuliah.

Yoyon Dharsono berharap calung tidak hanya dikenal sebagai hiburan rakyat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam pendidikan seni tradisi di perguruan tinggi. Menurutnya, Calung Sunda memiliki nilai sejarah, filosofi, dan perkembangan seni pertunjukan yang layak dipelajari secara akademis.

Dan ini jadi khabar baik bagi para seniman calung yang main di Parade Bentang Calung di Saung Budaya Yoyon, sebab mereka sempat curhat sebagai praktisi merasa tidak diakui oleh para akademisi. Calung dari daerah lain ada mata kuliahnya, tetapi Calung Sunda tidak ada. Dan kalau ada mata kuliah Calung di ISBI, ini akan sesuai dengan visi-misi ISBI sebagai garda terdepan pelestari seni budaya tradisi Sunda.

Yoyon Dharsono Berharap Calung Dilestarikan

Ya, karena Calung Sunda itu bukan hanya sekadar Calung Jingjing (calung yang ditenteng seperti yang dilihat sekarang), tetapi akan dipelajari dan dilestarikan pula Calung Tarawangsa, Calung Renteng, dan Calung Rantay yang merupakan Calung Buhun, cikal bakal calung jingjing yang ada sekarang, yang dikembangkan oleh mahasiswa Unpad yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa sekitar tahun 1961, yang dirintis Ekik Barkah dkk.

“Kalau ini terwujud, tentu para Bentang Calung termasuk Haji Yayan Jatnika (alumni ASTI sebelum jadi STSI dan menjadi ISBI Bandung sekarang), Pak Ade Rohana, dan lainnya tentu akan sangat bahagia sekali karena merasa diakui, punya induk, punya lembaga,” terang Yoyon.

Para praktisi calung tersebut juga, kata Yoyon, kalau dulu bisa dijadikan Dosen Tamu atau Dosen Luar Biasa, kalau sekarang bisa dijadikan narasumber, sample, perkembangan Calung Jawa Barat, sejarah, dan seni pertunjukan.

Kenal Calung Sejak SD di Darmaraja Sumedang

Yoyon mengenal calung sejak SD di tempat kelahirannya di Darmaraja, Sumedang. Selain diajarkan calung oleh guru SD-nya, Yoyon juga di rumah belajar calung pada Mang Ooy, pamannya (guru kesenian SD), serta kecapi salendro, piul/biola, dan suling kepada ayahnya, Pak Amin (Alm.).

“Calung itu sangat disukai masarakat dari dulu hingga sekarang. Saya aja sekarang usia sudah 65 tahun, dari SD sudah mengenal calung, diajarkan guru dan Mang Ooy (pamannya) yang juga guru SD. Selain itu, saya juga di rumah belajar kacapi salendro, biola/piul, dan suling kepada bapak, Pak Amin (Alm.). Beliau itu bukan seniman pertunjukan, tetapi seninya untuk kalangenan saja. Habis pulang dari sawah, setelah istirahat, selepas Isa saya disuruh menyalakan lampu patromak, lalu bapak memainkan kecapi salendronya di bale-bale rumah panggung, ditonton keluarga, bubar-bubar jam 10-11 malam,” kata Yoyon bercerita kenangan manisnya waktu kecil bersama keluarga.

Ya, sebagaimana kita tahu, Yoyon Darsono adalah seniman Sunda serba bisa yang sudah manggung ke berbagai mancanegara. Selain dikenal sebagai anggota grup band Krakatau Etno, ia juga dosen Institut Seni Budaya Indonesia Bandung dan Ketua Paguyuban Seniman dan Budayawan (Pasebban) Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Seniman Sunda trah keluarga besar IKOTW (Ikatan Obor Tatali Warangi) Limbangan Garut ini juga sekarang lagi rajin mengelola Saung Budaya Yoyon (SBY) di Kompleks GCI RW 17, Desa Cinunuk, Cileunyi, Kabupaten Bandung.

Karena itu, Yoyon Dharsono berharap calung bisa mendapat tempat yang lebih terhormat di dunia akademik dan menjadi warisan budaya Sunda yang terus terjaga.

Judul: Yoyon Dharsono Berharap Calung Jadi Mata Kuliah di ISBI Bandung
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *