MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026) – Ada sesuatu yang kerap luput ketika kita menjalani kehidupan dengan segala kesibukannya. Hari-hari dipenuhi pekerjaan, pikiran diramaikan rencana, dan waktu bergerak di antara berbagai keinginan yang hendak diwujudkan. Kita membangun, merawat, mengumpulkan, dan mempertahankan apa yang dianggap berharga. Semua itu berlangsung begitu wajar, seolah-olah kehidupan akan terus menyediakan kesempatan yang sama. Sampai pada suatu saat, sebuah pikiran melintas dengan tenang, tentang apa sesungguhnya yang sedang kita cari di antara sekian banyak hal yang ingin kita miliki.
Di tengah pikiran semacam itu, saya teringat pada ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, yang nasihatnya dicatat dalam _Tarikh Madinah Dimasyq_. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada kalian agar kalian mencari akhirat dengannya, bukan agar kalian condong kepadanya. Sungguh, dunia akan binasa, sementara akhirat tetap abadi.”
Saya membaca kembali kalimat itu sebagai sebuah renungan tentang dua bentang kehidupan yang kita kenali, tetapi tidak selalu kita tempatkan secara proporsional. Dunia begitu dekat, hadir dalam pekerjaan, cita-cita, harta, dan kehormatan; sedangkan akhirat berada di cakrawala keyakinan, memberi makna pada perjalanan yang sedang kita jalani.
Dalam perjalanan hidup, dunia hadir dengan wajah yang beragam. Ada ilmu yang membuat kita memahami kehidupan, jabatan yang memberi ruang untuk mengambil keputusan, kekayaan yang memungkinkan banyak hal diwujudkan, dan penghormatan yang tumbuh dari kepercayaan orang lain. Semua itu memiliki daya tariknya sendiri. Kita pun terlibat di dalamnya, dengan harapan, kesungguhan, dan sesekali kegelisahan yang sulit dijelaskan. Barangkali justru karena dunia begitu dekat dengan keseharian, batas antara menggunakannya dan melekat kepadanya menjadi sesuatu yang tidak selalu mudah dikenali.
Ada kalanya sesuatu yang semula kita kejar untuk memenuhi tanggung jawab perlahan mengambil tempat yang lebih besar dalam pikiran. Pekerjaan yang semula menjadi pengabdian dapat menyita seluruh perhatian. Kedudukan yang dahulu diterima sebagai amanah dapat menjadi bagian dari cara kita memandang diri sendiri. Bahkan, penghargaan dari orang lain dapat menghadirkan kegembiraan yang diam-diam kita tunggu kembali. Tidak selalu ada perubahan yang kasatmata. Yang berubah barangkali hanya letak sesuatu di dalam hati, tetapi dari sanalah cara kita menjalani kehidupan memperoleh arah yang berbeda.
Kalimat ‘Utsman bin Affan berikutnya terasa seperti percakapan yang berlangsung di dalam diri, “Janganlah dunia yang fana ini membuat kalian sombong dan jangan pula menyibukkan kalian dari yang abadi.” Ada dua hal yang berdekatan dalam nasihat itu, kesombongan dan kesibukan. Yang satu berhubungan dengan cara kita memandang diri, sementara yang lain berhubungan dengan ke mana perhatian kita tertuju. Seseorang dapat begitu sibuk melakukan banyak hal, tetapi kehilangan ruang untuk memahami makna dari apa yang dikerjakannya. Waktu terus terisi, sementara pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam menunggu kesempatan untuk didengarkan.
Semakin jauh perjalanan berlangsung, semakin banyak perubahan yang dapat kita saksikan. Apa yang dahulu terasa begitu penting perlahan bergeser tempatnya. Orang-orang datang dan pergi, tanggung jawab berpindah tangan, dan berbagai pencapaian menemukan batas waktunya sendiri. Kenangan tentang masa-masa yang pernah kita banggakan pun akhirnya menjadi bagian dari perjalanan yang telah berlalu. Di antara perubahan itu, pikiran tentang keabadian memperoleh ruangnya sendiri. Bukan sebagai sesuatu yang gaduh, melainkan sebagai kesadaran yang sesekali hadir ketika kita memandang kehidupan dengan jarak yang lebih lapang.
“Utamakanlah yang tetap tinggal daripada yang akan binasa. Sesungguhnya dunia akan terputus dan tempat kembali hanyalah kepada Allah.” Demikian pesan yang dinisbatkan kepada ‘Utsman bin Affan dalam riwayat tersebut. Kata-kata itu seperti menyisakan sebuah ruang hening di antara segala yang sedang kita jalani. Dunia tetap bergerak dengan segala urusannya, sementara di dalam diri manusia tersimpan kerinduan untuk memahami sesuatu yang melampaui batas-batasnya. Di antara yang sementara dan yang abadi, kita menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan, sambil perlahan mengenali kembali arti perjalanan yang selama ini kita tempuh.
Bandara Soetta 15 Okt. 2026.
Sambil menunggu boarding
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Yang Abadi: Dunia yang Fana dan Perjalanan Menuju Keabadian
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












