Hanya untuk Mendapatkan Istri Nyi Subang Larang, Prabu Siliwangi Harus Adu Kekuatan dengan Amuk Murugul

Prabu Siliwangi untuk bisa bisa mempersunting Nyi Subang Larang, ternyata tidaklah mudah, ada hal yang mengganjal Prabu Siliwangi saat ia jatuh cinta dengan Subang Larang yang beda keyakinan.

Ilustrasi Kerajan Sunda (Foto:pexels)

MajmusSunda News, Cirebon, Ahad, (19/10/2026)-Prabu Siliwangi untuk bisa bisa mempersunting Nyi Subang Larang, ternyata tidaklah mudah, ada hal yang mengganjal Prabu Siliwangi saat ia jatuh cinta dengan Subang Larang yang beda keyakinan.

Ditulis dalam Buku Sejarah Penyebaran Perintisan Islam di Tatar Sunda oleh Drs. Yuyus Suherman Subang Larang yang sudah dididik kuat agama Islam oleh gurunya Syekh Hasanudin dan ayahnya Ki Gedeng Tapa, Syekh Hasanudin memberi isyarat kepada Prabu Siliwangi, boleh menikahi muridnya asal setelah menikah Nyi Subanglarang bisa menjalankan syariat agama Islam.

Sedang Ki Gedeng Tapa memberi isyarat sebelum menikah dengan anaknya, Prabu Siliwangi harus adu tanding alias adu kekuatan dulu dengan Amuk Murugul putra dari Prabu Susuk Tunggal Lampung yang masih saudaranya itu dari keturunan Prabu Susuk Tunggal yang bertahta di Kerajaan Sunda.

Karena kadung sudah jatuh cinta, Prabu Siliwangi dikenal dengan Sribaduga Maharaja dari Kerarajaan Sunda atau Pajajaran itu, mendapat tempat dan tawaran istimewa dari ayahnya dan gurunya Nyi Subang Larang, adapun syarat dari ayahnya, harus tanding atau adu kuat dengan Amuk Murugul sedangkan dari gurunya tetap bisa menjalankan syariat Islam setelah menikah.

Syarat yang cukup berat diajukkan oleh ayah dan gurunya itu dipenuhi oleh Prabu Siliwangi. Benar saja dalam adu kekuatan Prabu Siliwangi bisa menaklukan Amuk Murugul. Baru setelah itu Prabu SIliwangi bisa memperistri Nyi Subang Larang yang cantik.

Yuyus Suherman menulis Syekh Hasanudin adalah putra Syekh Yusup Sidik, ulama Islam terkenal dari Champa (Vietnam Selatan). Ia bermukim dan mendirikan pondok pesantren di Karawang atas ijin Ki Jumanjati (KI Gedeng Tapa ayah Nyi Subang Larang) penguasa syahbandar.

Pondok Pesantren yang didirikan Syekh Hasanudin diberi nama Pondok Quro, oleh karena itu ia disebut juga Syekh Quro. Mazhab Islam yang dikembangkan di Pondok Quro adalah Mazhab Hanafi Syekh Hasanudin datang ke Krawang dengan menumpang kapal ekspedisi keluarga Kerajaan Ming (Cina) dibawah pimpinan Laksamana Ceng Ho

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *