MajmusSunda News, Rabu (21/10/2026) – Malam ini, di Mataram, Lombok, setelah menjalani berbagai kegiatan sejak siang hari, saya menyempatkan diri minum kopi bersama teman-teman seperjalanan. Obrolan berlangsung santai, diselingi canda dan tawa. Percakapan mengalir dari berbagai pernak-pernik keseharian, perkembangan yang sedang ramai dibicarakan, hingga beragam kejadian yang menjadi bagian dari kehidupan di sekitar kita. Begitulah kehidupan sosial berjalan. Ketika orang-orang berkumpul, cerita datang silih berganti, keseriusan bercampur kelakar, dan berbagai persoalan menjadi bagian dari percakapan yang menghangatkan kebersamaan. Saya menikmati suasana itu dengan kesadaran bahwa setiap perjumpaan memiliki caranya sendiri untuk mempererat hubungan antar manusia. Di sela-sela percakapan tersebut, pikiran saya juga bergerak ke arah lain, merenungkan apa yang sesungguhnya perlu terus kita rawat di dalam diri.
Kehidupan memang tidak seluruhnya berisi perkara besar dan pemikiran mendalam. Ada hal-hal kecil yang membuat hari terasa hidup, ada cerita yang mengundang tawa, ada kabar yang menarik perhatian, dan ada pula berbagai peristiwa yang menjadi bahan percakapan karena sedang ramai diperbincangkan. Semua itu memiliki tempatnya sendiri dalam pergaulan manusia. Kita berbagi cerita karena hidup memang dijalani bersama, sementara percakapan membantu kita mengenali pengalaman, pandangan, dan keadaan satu sama lain. Saya memahami mengapa obrolan malam itu mengalir ke berbagai arah. Apa yang dibicarakan merupakan bagian dari kenyataan yang sedang dihadapi dan diperhatikan bersama. Namun, sebuah perjumpaan juga dapat membawa kita pada perenungan yang lebih personal, tentang apa yang membuat hati tetap tenteram di tengah begitu banyak hal yang datang silih berganti.
Setelah acara minum kopi selesai, saya kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Suasana yang semula ramai berganti sunyi, memberi kesempatan bagi pikiran untuk menata kembali kesan dari hari yang telah dijalani. Dalam suasana itu, saya menyadari bahwa keramaian dan kesunyian sama-sama memiliki tempat dalam kehidupan. Keramaian mempertemukan kita dengan banyak hal di luar diri, sedangkan kesunyian memberi kesempatan untuk menyimak apa yang tumbuh di dalam diri. Tidak semua percakapan harus menghasilkan pemikiran besar, dan tidak setiap perjumpaan harus meninggalkan pelajaran tertentu agar memiliki arti. Namun, ada kalanya sebuah pengalaman sehari-hari justru menjadi pintu menuju pertanyaan yang lebih mendasar. Bukan tentang siapa yang mengatakan apa, melainkan tentang bagaimana kita menjaga hati ketika berhadapan dengan begitu banyak cerita, keinginan, dan kesibukan. Dalam suasana itulah saya teringat pada sebuah sabda Rasulullah.
Sabda itu berbunyi, _innallaha yuhibbul abdata taqiyyal ghaniyyal khafiyya_. Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi. Kalimatnya singkat, tetapi menyimpan arah perenungan yang luas. Takwa mengingatkan kita pada arah kehidupan yang perlu dijaga, rasa cukup mengajarkan hati agar tidak terus dikuasai oleh keinginan, sedangkan sifat tersembunyi mengajak kita mengenali nilai yang tidak selalu membutuhkan pengakuan. Ketiganya seperti mengingatkan bahwa kualitas hidup bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya hal yang kita ketahui, ramainya hubungan yang kita bangun, atau luasnya perhatian yang kita peroleh. Ada ukuran yang lebih dalam, yakni bagaimana kita menjaga hubungan dengan Allah, menata keinginan, dan menempatkan diri dengan rendah hati di tengah kehidupan. Di sanalah ketenteraman memperoleh pijakannya.
Sepanjang perjalanan hidup, kita menjalani pekerjaan, memikul amanah, membangun hubungan, dan mengikuti berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Kita berbincang, bertukar kabar, bercanda, serta berusaha memahami dunia yang terus bergerak. Semua itu merupakan bagian dari kenyataan hidup yang patut dijalani dengan lapang hati. Pada saat yang sama, kita perlu menjaga agar kesibukan lahiriah berjalan seiring dengan pertumbuhan batin. Takwa, misalnya, bukan hanya terasa ketika kita berdoa atau berada dalam suasana khusyuk, melainkan juga dalam cara mengambil keputusan, memperlakukan sesama, memenuhi amanah, dan menjaga arah ketika menjalani rutinitas. Bahkan dalam percakapan ringan, takwa dapat hadir melalui pilihan kata, penghormatan terhadap orang lain, serta kemampuan menahan diri agar tidak merendahkan atau menyakiti. Dengan demikian, kehidupan sehari-hari bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan ruang untuk terus memperbaiki hubungan dengan sesama dan dengan Allah.
Seiring bertambahnya pengalaman, kita belajar bahwa memiliki banyak hal tidak selalu membuat hati merasa cukup. Keinginan dapat terus tumbuh, perhatian mudah berpindah, dan kita kerap mengikuti berbagai hal yang sedang ramai di sekitar. Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha atau kehilangan minat terhadap kehidupan. Rasa cukup justru membuat kita mampu berikhtiar dengan lapang, mensyukuri apa yang telah dimiliki, dan tidak membiarkan keinginan menguasai seluruh ruang batin. Demikian pula sifat tersembunyi, yang mengingatkan bahwa nilai kehidupan tidak seluruhnya bergantung pada apa yang tampak. Ada kebaikan dalam bekerja dengan sungguh-sungguh, ada ketulusan dalam membantu tanpa mengharapkan pujian, dan ada kedalaman dalam menjaga hubungan dengan Allah tanpa menjadikannya bahan untuk memperoleh pengakuan. Kita tetap dapat hadir, bergaul, berkarya, dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama, sambil menjaga sebagian ruang batin agar tetap jernih dan dekat kepada-Nya. Sebab, yang tersembunyi bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan tidak menggantungkan nilai diri pada pandangan manusia.
Dari perjumpaan sederhana malam ini, saya kembali diingatkan bahwa ketenteraman tidak menuntut kita memilih antara keramaian dan kesunyian. Kita dapat menikmati percakapan tanpa kehilangan arah, mengikuti perkembangan kehidupan tanpa diperbudak oleh keinginan, serta membangun hubungan dengan banyak orang tanpa menggantungkan harga diri pada pengakuan mereka. Takwa menjaga arah langkah, rasa cukup melapangkan hati, dan ketulusan mengajarkan kita berbuat baik tanpa selalu membutuhkan sorotan. Ketiganya bukan sekadar sifat yang indah untuk dibicarakan, melainkan latihan batin yang perlu hadir dalam keputusan dan perilaku sehari-hari. Barangkali, ukuran kedewasaan, kecerdasan bahkan “kebesaran” bukanlah seberapa banyak percakapan yang kita kuasai atau seberapa luas perhatian yang kita dapatkan, melainkan seberapa mampu kita tetap jernih ketika berada di tengah keramaian, tetap bersyukur ketika berhadapan dengan keinginan, dan tetap tulus ketika tidak seorang pun menyaksikan. Sebab, hati yang tenteram bukan hati yang terpisah dari kehidupan, melainkan hati yang mampu menjalani kehidupan tanpa kehilangan arah pulangnya kepada Allah.
Mataram, 20 Oktober 2026
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Yang Dicari Setelah Keramaian: Tiga Sifat yang Menenteramkan Hati
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












