MajmusSunda News – Bandung, Senin (17/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-54 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Cianjur Utara, mulai dari lereng vulkanik Gunung Gede, kawasan hidrotermal Cipanas, zona patahan aktif Cugenang, aliran Sungai Citarum dan Bendungan Cirata, hingga jejak religi Cikundul dan Situs Megalitikum Gunung Padang. Melalui perspektif geoliterasi, seri ini menguraikan hubungan antara dinamika geologi, sumber daya air, keanekaragaman hayati, mitigasi bencana, serta warisan budaya dan prasejarah sebagai satu kesatuan lanskap yang perlu dilindungi.
SINOPSIS: Esai ini membedah kedaulatan ekologis, warisan prasejarah, dan mitigasi bencana tektonik di koridor penampang Cianjur Utara melalui pisau analisis geoliterasi kritis. Diuraikan untaian hubungan kausalitas antara kemegahan magmatisme aktif Gunung Gede lintas batas wilayah Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, sabuk hidrotermal Cipanas, laboratorium gempa bumi patahan Cugenang, Citarum dan retensi air alirannya di Bendungan Cirata, jejak religi Cikundul, hingga punden berundak Situs Megalitikum Gunung Padang. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan sebagai maklumat bela negara ekologis guna menegakkan daulat hukum tata ruang konservasi demi menjaga keselamatan lingkungan serta kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Struktur Geografi Vulkano-Tektonik dan Poros Ruang Cianjur Utara
Evolusi bentang alam di tatar Cianjur Utara sangatlah komplet, termasuk laboratorium mitigasi bencana regional. Kerangka ruang di bagian hulu dikunci oleh kemegahan menara air vulkanik aktif Gunung Gede yang bentangan alamnya terbagi bersama Kabupaten Bogor dan Sukabumi, yang letusannya harus selalu diwaspadai tersebab semakin padatnya permukiman di bawahnya. Gunung api aktif ini juga memunculkan manifestasi hidrotermal dan akuifer penting Cipanas, serta berkembang dengan luas persawahan, perkebunan, dan perkotaan di bawahnya.
Bergeser menuju zona patahan aktif, Cugenang menyajikan panggung mitigasi dan edukasi bumi pascabencana gempa, sebelum akhirnya melandai ke arah timur laut ke Sungai Citarum sebagai batas alam dengan retensi energi air Bendungan Cirata di alirannya. Rangkaian lanskap fisis ini berkelindan serasi dengan transisi budaya religi cikal bakal Cianjur di Cikundul, lalu memuncak secara monumental pada mahakarya prasejarah punden berundak purba Gunung Padang di sektor selatan.

Foto: Arie Basuki/Wikimedia Commons.
2. Rahim Magma Gede Lintas Kabupaten, Sabuk Cipanas, Sesar Cugenang, dan Citarum
Fondasi alam kawasan ini dikontrol ketat oleh tatanan tektonik Kuarter aktif yang memahat relief perbukitan vulkanik terjal hingga lembah sungai purba. Puncak struktural Gunung Gede yang areanya beririsan dengan teritorial Sukabumi serta Bogor bertindak sebagai generator geologi utama yang menyuplai endapan material klastik subur, sekaligus menjadi hulu murni bagi jaringan hidrologi vital sungai-sungai di hilirnya.
Fluida dalam yang bersentuhan dengan sisa panas bumi mendesak keluar melalui rekahan batuan, memancar melintasi sistem hidrotermal Cipanas sebagai zona akuifer air tanah yang sangat penting bagi hidrologi regional. Di atas endapan vulkanik yang subur, kaya air, dan beriklim segar itu berkembang pesat kota Cipanas, Cimacan, dan termasuk Kota Cianjur itu sendiri; serta menyediakan fondasi bagi persawahan yang luas dan subur dengan padi khasnya seperti di Jambu Dipa.
Bersanding dengan jalur patahan aktif Sesar Cugenang yang mungkin bagian dari sistem yang lebih besar, Sesar Cimandiri, kawasan ini menjadi area riset deformasi batuan pascagempa tektonik. Sementara itu, di ujung utara-timur terdapat aliran Sungai Citarum yang memoreh perbukitan begitu dalam seperti di perbatasan dengan Rajamandala.
3. Hutan Hujan Tropis Tiga Wilayah, Bunga Krisan, Beras Pandan Wangi, dan Ayam Pelung
Kelimpahan pasokan air tanah dan kesuburan tanah andosol berporositas tinggi secara otomatis menumbuhkan keanekaragaman hayati tingkat tinggi. Sabuk hijau lereng atas dijaga ketat di bawah naungan ekosistem hutan hujan tropis pegunungan bawah hingga tinggi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang melintasi zona administratif Cianjur, Bogor, dan Sukabumi; dicirikan oleh tanaman keras asli sekelas pohon rasamala, puspa, jamuju, serta saninten yang berfungsi sebagai penahan laju air permukaan dan penyimpan air tanah.
Di sisi lain, bunga krisan seperti di Cipanas dan padi Pandan Wangi seperti di Jambu Dipa menjadi ikon flora wilayah ini. Hutan yang masih tersisa menjadi rumah aman terakhir bagi kelestarian fauna endemik langka yang dilindungi, seperti owa jawa, surili, elang jawa, hingga predator puncak macan tutul jawa. Sementara itu, ayam pelung seperti di Cugenang menjadi maskot fauna wilayah Kabupaten Cianjur.
4. Dari Jejak Religi Cikundul hingga Kemegahan Megalitikum Gunung Padang
Pada dimensi sosiokultural, Cianjur Utara mengasuh nilai tradisi serta peradaban manusia lintas zaman jauh ke masa yang sangat purba. Diawali dengan yang paling anyar, Bendungan Cirata di Citarum sebagai sumber energi, Istana Kepresidenan di Cipanas, dan gerbang pendakian utama ke area kawah dan puncak Gede yang sangat populer melalui Cibodas, Cimacan, dan Gunung Putri, Pacet.
Jejak sejarah spiritual terekam nyata di kawasan Cikundul—Dalem Cikundul—tempat bersemayamnya Raden Aria Wiratanudatar, bupati pertama sekaligus cikal bakal pendiri kebudayaan tatar Cianjur; berpadu serasi dengan bentang perkebunan teh, bunga, dan sayur hortikultura rakyat.
Gunung api aktif itu sendiri sesuai namanya—Gede—megah, yang menaungi tiga kota besar, Bogor, Sukabumi, Cianjur. Kebesarannya telah tercatat dalam naskah kuno Carita Parahyangan sejak abad ke-15.
Jejak kebudayaan masa lalu memuncak secara dramatis pada struktur punden berundak purba Situs Gunung Padang di Karyamukti, sebuah monumen megalitikum berbahan batu kolom andesit prasejarah terbesar di Asia Tenggara yang penuh misteri berkaitan dengan peradaban kuno Nusantara.
5. Epilog: Menegakkan Hukum Tata Ruang Konservasi demi Kedaulatan Lingkungan
Oleh karena itu, mengevaluasi utuh sasis Cianjur Utara dari puncak aktif Gunung Gede hingga punden purba Gunung Padang harus dikonversi menjadi maklumat penegakan hukum tata ruang secara ksatria. Keberlanjutan pasokan energi listrik Cirata, kemurnian akuifer Cipanas, serta keselamatan permukiman dari ancaman letusan Gede dan Sesar Cugenang hanya dapat dijamin jika tanah hulu steril dari alih fungsi lahan komersial yang serakah dan seringnya pelatihan mitigasi.
Ketidaktegasan dalam mengontrol pembangunan properti beton di lereng atas akan memutus fungsi spons biologi hutan, memicu katastrofe longsoran massal, serta mengirimkan banjir lumpur menuju dataran hilir metropolitan.
Merawat kelestarian menara air pegunungan, melindungi integritas cagar budaya kuno, serta menegakkan disiplin ruang adalah tindakan nyata bela negara ekologis demi menjaga martabat dan kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
#GeowisataNusantara #Seri54_CianjurUtara #TamanNasionalGedePangrango #AkuiferHidrotermalCipanas #MitigasiSesarCugenang #BendunganCirataCitarum #ZiarahBudayaCikundul #SitusMegalitikumGunungPadang #HutanRasamalaCiliwung #BelaNegaraEkologis #KedaulatanLingkunganNKRI

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #54: “Cianjur Utara, dari Lereng Gunung Api Megah sampai Gunung Padang”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












