MajmusSunda News – Bandung, Senin (17/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-52 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Sumedang yang mempertemukan kekayaan geologi, fosil purba, sumber air, keanekaragaman hayati, tinggalan sejarah, serta perkembangan infrastruktur modern. Melalui perspektif geoliterasi, seri ini menguraikan mata rantai hubungan antara tatanan tektonik purba, geocircle Lembah Cisaar, Tomo yang diidentifikasi sebagai jejak hantaman meteor purba (meteorite impact), benteng megabiodiversitas, kearifan adat dalam memuliakan “leuweung larangan”, hingga lompatan infrastruktur modern berupa Tol Cisumdawu dan Waduk Jatigede. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk menegaskan komitmen tata ruang konservasi dalam wujud geopark berlandaskan filosofi luhur “Larang” demi menjaga kedaulatan ekonomi serta keselamatan lingkungan tatar Priangan Tengah.
SINOPSIS: Esai ini membedah kedaulatan ekologis tatar Sumedang dari produk geologi hingga transformasi ruang sosiokultural sebagai satu kesatuan struktur kebumian yang utuh. Melalui lensa geoliterasi, diuraikan mata rantai hubungan kausalitas antara tatanan tektonik purba, sasis cekungan melingkar Lembah Cisaar, Tomo, yang diidentifikasi sebagai jejak hantaman meteor purba (meteorite impact), benteng megabiodiversitas, kearifan adat memuliakan “leuweung larangan”, hingga lompatan infrastruktur modern Tol Cisumdawu dan Waduk Jatigede. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk menegaskan komitmen tata ruang konservasi dalam wujud geopark berlandaskan filosofi luhur “Larang” demi menjaga kedaulatan ekonomi serta keselamatan lingkungan tatar Priangan Tengah.
1. Dari Gunung Api di Pusat, Rahim Sumber Air, Parade Hot Spring, Geocircle, hingga Fosil Berharga
Evolusi bentang alam di tatar Sumedang secara fisis dikontrol ketat oleh tatanan tektonik Kuarter masif yang melahirkan kemegahan kerucut gunung api yang sedang beristirahat sebagai jangkar pusat, berdampingan dengan gunung-gunung kecil di tengah hasil intrusi, runtuhan gunung api purba, atau hasil perlipatan regional; bersambung dengan kompleks gunung atau pegunungan di sektor selatan dan tenggara yang berbagi wilayah dengan kabupaten lain. Pelapukan kimiawi batuan beku andesit selama jutaan tahun menganugerahkan hamparan tanah andosol porus yang tebal dan subur.
Struktur bumi yang kaya rekahan sekunder ini bertindak sebagai sumber air alami melalui ratusan mata air, pengatur hidrologi regional, umumnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk, yang di lembah sungai utamanya kini telah dibangun bendungan besar pemersatu antarwilayah; sekaligus menjadi fondasi utama benteng geodiversitas tatar Priangan Tengah. Banyak juga muncul mata air panas (hot spring), salah satunya terkait fenomena geocircle, yakni bentang alam melingkar besar yang bukan jejak gunung api; sebagaimana dijumpai batuan sedimen yang atraktif dan fosil bernilai tinggi. Belakangan dibangun pula jalan tol. Kesemuanya menambah spirit untuk mewujudkan sebuah geopark di wilayah tengah Tatar Sunda ini.

Foto: Rachmat Darmawan/Wikimedia Commons, CC BY 4.0.
2. Sabuk Air Terjun, Barisan Hidrotermal, Jejak Meteorite Impact, dan Fosil Mamalia hingga Hiu di Cisaar
Alam Sumedang menyingkap mozaik mulai dari Gunung Tampomas di pusat wilayah dan gunung-gunung kecil di bagian tengah, sisa proses geologi yang lebih purba seperti Gunung Puyuh, Gunung Kunci, Gunung Palasari, Pasir Reungit, dan Rengganis. Juga Gunung Kareumbi, Gunung Geulis, Gunung Manglayang di selatan, dan sedikit bagian dari Gunung Cakrabuana di tenggara; menjadikan daerah itu subur dan menjadi sumber air serta pelindung daerah di hilirnya.
Bentang alam tersebut dihiasi pula oleh banyak air terjun, di mana di sekitar Kareumbi saja terdapat lebih dari lima belas, di antaranya Curug Cikorobok dan Curug Sabuk. Bersamaan dengan itu, di kaki-kaki dan lembahnya memancar banyak mata air panas (hot spring atau “Cipanas”), seperti di Sekarwangi, Buahdua; Cileungsing, Cimalaka; Ciawitali, Paseh; dua titik Cipanas di Conggeang; dan satu yang unik di tengah sawah, yaitu Ciledre, Tomo.
Kesemuanya berkaitan dengan sisa magmatisme purba Tampomas, kecuali Ciledre yang ditengarai sebagai pengaruh sesar dalam (deep fault) dan deep circulation. Sebuah bentang alam ganda bahkan triple melingkar bak stadion di dalam stadion, geocircle Cisaar, yang bukan jejak kaldera, dicurigai sebagai meteoric impact; dan batuan sedimen yang atraktif, seperti Formasi Cinambo yang terpotong jalan raya Cisaar–Wado, di pinggiran Waduk Jatigede yang membendung lembah Sungai Cimanuk.
Baru-baru ini, di Jembarwangi, lembah Cisaar, Tomo, ditemukan sejumlah fosil gajah purba Stegodon trigonocephalus berumur sekitar satu juta tahun. Kawasan itu benar-benar ladang fosil karena dijumpai pula fosil binatang purba seperti banteng, babi, kuda nil, buaya, kura-kura, hingga hiu.
3. Fringerroot, Kawasan Konservasi dan Taman Buru G. Masigit Kareumbi, dan Hingkik
Kelimpahan pasokan air bersih dan kesuburan tanah vulkanik purba secara paralel membentuk Sumedang menjadi salah satu wilayah megabiodiversitas dataran tinggi yang kaya. Misalnya fringerroot atau temu kunci, yang dalam bahasa lokal disebut bongborosan di Situraja, adalah salah satu yang terbaik di dunia.
Lanskap hutan hujan tropis pegunungan masih terjaga seperti di Kawasan Konservasi dan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, sabuk hijau Margawindu, Cisokan di Citengah, dan kawasan setara Suaka Alam di kaki Tampomas. Hutan primer ini didominasi oleh tegakan asli pohon rasamala, puspa, jamuju, dan saninten yang bertindak sebagai pengendali air. Rimbunnya tajuk kanopi hutan ini bersanding harmonis dengan perkebunan teh dan kopi.
Tumbuh juga sawo dengan baik seperti di Citali sebagai ikon flora daerah. Hutan-hutan itu menjadi rumah aman bagi kelestarian fauna hingkik atau burung hantu dan fauna yang dilindungi seperti ayam hutan, trenggiling, landak, owa jawa, surili, kijang muncak, macan tutul jawa, kucing hutan, macan kumbang, dan elang jawa. Di Sungai Cimanuk masih ada ikan hampal, lalawak, senggal, dan tagih.
4. Dari Laboratorium Paleontologi dan Geocircle Lembah Cisaar hingga Toponimi “Sumedang Larang”
Kekayaan khazanah fosil dan “meteor impact” tatar Sumedang sebaiknya terdokumentasikan, misalnya di dalam “Laboratorium Paleontologi Cisaar Tomo”, yakni sebuah repositori Pleistosen fenomenal di dalam “Cisaar Valley Geocircle”. Rantaian sejarah Bumi ini berkelindan erat bersama keluhuran toponimi nama “Sumedang” yang lahir dari rahim agung pemikiran Kerajaan “Sumedang Larang”, bersandarkan pada amanat filosofis “Insun Medal Insun Madangan” yang menjadi toponimi “Sumedang”, bermakna “aku lahir sebagai penerang bagi kehidupan”.
Kata “Larang” yang diwujudkan secara ketat menjadi prinsip larangan ekologis mutlak melalui pemuliaan leuweung larangan penjaga mata air juga berarti mahal atau sangat berharga, yang mendekati maksud dari program geopark, yang bermakna “boleh dimanfaatkan, namun tetap lestari”, atau “pemanfaatan berbasis konservasi”. Maka, menjadikan Sumedang secara keseluruhan, atau sebagiannya seperti di Lembah Cisaar dengan kekuatan berupa “taman fosil” dan geocircle meteor impact, berarti menegakkan maksud kata “Larang” itu.
Itu semua diperkuat dengan tinggalan sejarah dan budaya, Kutamaya, Samoja, Dayeuh Luhur, juga museum, Gunung Puyuh, dan Tahura Palasari–Kunci di tengah kota, sebagian besarnya menyimpan bukti-bukti fase akhir kerajaan di Tatar Sunda yang masih terawat dengan baik, ditopang dengan adanya Bendungan Jatigede dan Jalan Tol Cisumdawu sebagai lanskap budaya kekinian.
5. Epilog: Daulat “Larang”, Geopark di Sumedang, dan Tol Cisumdawu
Oleh karena itu, keberhasilan pembangunan geopark di Sumedang secara empiris bergantung penuh pada kemampuan manusia dalam menegakkan esensi suci kata “Larang” di dalam rencana penataan ruang modern. Maka, sebuah geopark, minimal di bagian tengah Sumedang yang meliputi Jatigede dan Situs Lembah Cisaar, jika keseluruhan wilayah kabupaten itu terlalu luas, sudah sepantasnya diwujudkan.
Kehadiran Jalan Tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) dan ketegasan konservasi kawasan hulu tidak boleh digadaikan oleh keserakahan investasi komersial. Toponimi daerah yang melestarikan alam hayati maupun nonhayati, seperti Pasir Hingkik, harus tetap dipertahankan.
Pemanfaatan lanskap Jatigede, situs kawah meteorit Cisaar, dan keindahan tebing cadas tol harus dikelola secara bijak, seperti melalui gerakan geowisata populer berbasis geoliterasi ilmiah guna menyejahterakan warga. Merawat kelestarian mata air, menjaga bentang alam unik, melindungi fosil, serta menegakkan disiplin tata ruang adalah tindakan nyata bela negara ekologis demi menjaga martabat dan kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
#GeowisataNusantara #Seri52_GeoparkSumedangLarang #InsunMedalInsunMadangan #LarangCisaarKeGeopark #CipanasCiledreTengahSawah #LaboratoriumPaleontologiCisaar #CisaarValleyGeocircle #FosilStegodonJembarwangi #BendunganJatigedeSumedang #TolCisumdawuGeologi #KedaulatanLingkunganNKRI

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #52: “Membangun Geopark di Sumedang, Menegakkan Arti Larang”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












