Wisatabumi Nusantara Seri #50: “Permata Galuh: Jejak Vulkanik Tua, Tinggalan Sejarah Klasik, dan Konservasi DAS Citanduy”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Selasa (11/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-50 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang alam Galuh di Priangan Timur yang memadukan jejak vulkanisme tua, lembah Sungai Citanduy, tinggalan sejarah klasik, serta benteng hutan Gunung Sawal. Melalui perspektif geologi, sejarah, ekologi, dan geoliterasi, seri ini mengulas hubungan antara lanskap purba, perkembangan Kerajaan Galuh, dan pentingnya konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy.

SINOPSIS: Esai ini membedah lanskap morfotektonik Cekungan Galuh di koridor Priangan Timur sebagai laboratorium alam kuno yang megah. Melalui penelusuran toponimi, nama Galuh sendiri bermakna permata yang dapat mengacu pada wilayah yang sangat berharga, pusat kesejahteraan, atau posisinya yang “di tengah-tengah”. Melalui pendekatan geoliterasi, diuraikan mata rantai hubungan hulu-hilir antara sasis abiotik purba, sebaran tinggalan sejarah klasik, hingga urgensi konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy demi merawat kelestarian warisan bumi Nusantara.

1. Fondasi Vulkanik, Lembah Purba Citanduy, dan Pertumbuhan Galuh

Evolusi bentang alam koridor Galuh ini secara fisis dibangun oleh material breksi andesit dan tanah andosol pelapukan vulkanik tua Kuarter Gunung Sawal yang kini sudah tidak aktif lagi. Proses pembentukannya dikontrol oleh sesar aktif regional purba yang juga menghasilkan lembah besar. Di lembah itu mengalir Sungai Citanduy yang mengalir dari hulunya di Gunung Cakrabuana dan Gunung Sawal dan bermuara di laguna Segara Anak di laut selatan, batas antara Kabupaten Pangandaran (Jawa Barat) dan Cilacap (Jawa Tengah). Awalnya, di tengah-tengah antara hulu-hilir itulah berdiri Kerajaan Galuh yang secara toponimi berarti “permata”, “ratu”, “emas”, “batu bersinar yang belum digosok”; bisa juga berarti “inti” atau “pusat” yang sangat berharga, dengan ibu kota pertamanya di Karangkamulyan sebelum akhirnya mencapai puncak keemasannya di Kawali seiring dengan perkembangan Panjalu di sebelah baratnya. Sungai Citanduy itu sendiri adalah sungai utama di Priangan Timur dan ketujuh di Pulau Jawa, terbesar dan terpanjang; yang menjadi salah satu pusat perhatian pemerintah untuk mengonservasinya sejak 1980-an hingga kini.

2. Zona Subur Air Dulu dan Puluhan Situs Budaya

Kondisi fisik Zona Galuh, sisi barat laut Gunung Sawal di sekitar Cihaurbeuti, terdapat keunikan situs cagar geologi berupa Tambang Purba Elizabeth (Elizabeth Mining), sebuah kompleks bekas galian tambang peninggalan era kolonial yang memburu urat hidrotermal kaya kandungan mineral seng atau zinc. Di bagian barat aliran sungai juga menampilkan wisata sungai yang menawan seperti Curug Jami atau Curug Logam Timah Desa Sukamaju, dan Ciharus di Desa Padamulya. Di daerah aliran sungai (DAS) Citanduy dengan Cimuntur sebagai anak sungai utamanya, berkembang wilayah yang pada mulanya banyak mata air dan pesawahan yang menjadi lumbung padi kerajaan dulu, seperti di Desa Lumbung, salah satu akses penting pendakian ke Gunung Sawal. Keunggulan wilayah jejak gunung api tua yang subur air di timur Priangan ini telah melahirkan mata air Cipanjalu, Situ Lengkong, Curug Tujuh dan mata air Citaman, di Panjalu; Batu Susun Rompe yang merupakan columnar joint di Blok Rompe, Sukaraharja, Situ Hyang di Sadewata, Lumbung; Situs Winduraja, Astana Gede dan Talaga Warna di Kawali; Situs Cisusuru di Ciamis, dan Situs Budaya Karangkamulyan di Cijeunjing.

Wisatabumi Nusantara
Foto: Situ Lengkong Panjalu — Allefauzan/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

3. Barisan Hutan Gunung Sawal dan Benteng Penahan Air

Kekayaan latar alam tanah vulkanik tua dan stabilitas mikroklimat ketinggian secara otomatis memicu ledakan pilar biotik berupa hutan hujan tropis pegunungan bawah di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Sabuk hijau yang kokoh membentang di tatar Galuh ini bertindak sebagai menara resapan dan perisai alami pelindung tebing dari ancaman erosi denudasi akibat tingginya curah hujan tahunan. Tegakan pohon keras lokal sekelas rasamala, puspa, dan saninten berakar dalam bekerja keras mencengkeram struktur tanah gembur agar tidak mudah ambles menjadi longsoran klastik. Ekosistem hutan primer yang rimbun ini berfungsi sempurna sebagai spons biologi makro penahan air permukaan (run-off), memaksa air hujan meresap optimal menjadi cadangan akuifer tertekan, sekaligus menjadi rumah aman bagi fauna endemik Jawa sekelas macan tutul jawa, owa jawa, dan surili.

4. Prinsip Kejayaan Hidup dan Panjangnya Dinasti Pemerintahan di Priangan Timur

Pada dimensi sosiokultural, Kerajaan Galuh menempati wilayah Priangan Timur ini dengan ibu kota pertamanya di Karangkamulyan yang bersebelahan dengan situs Cisusuru berada di jontor (daerah segitiga yang diapit) muara Cimuntur ke Citanduy dengan Citanduy itu sendiri, tepat berada di titik tengah koridor hidrologi sungai itu antara sumbernya dengan muaranya sebagai jangkar logistik dan simpul navigasi sungai yang sangat ideal; dan ini pula mungkin di antara makna “Galuh”; yang didirikan oleh Wretikandayun pada abad ke-7 M, pelanjut dari Tarumanagara. Tokoh ini menjadi peletak dasar sejarah klasik kerajaan di Pulau Jawa sampai ke Bali melalui keturunannya. Beberapa dekade kemudian, setelah Galuh dengan Sunda bersatu, kerajaan mencapai kegemilangannya di bawah Maha Prabu Niskala Wastukanca atau bergelar Prabu Resi Buana Tunggaldewata yang memerintah lebih dari seabad lamanya, dalam keadaan damai sejahtera, aman sentosa. Karakteristik kepemimpinannya memadukan otoritas politik tertinggi (Mahaprabu) sekaligus kearifan spiritual kedewataan (Praburesi) dengan ajarannya yang dicontohkannya sehari-hari dan diikuti rakyatnya yang dipahat di batuan andesit, kini disebut Prasasti Kawali: “pakena gawe rahayu, pakeun heubeul jaya di bhuana”, kurang lebih bermakna: “jadikanlah pekerjaan yang berkualitas atau mendatangkan keselamatan (rahayu) itu sebagai kebiasaan sehari-hari agar lama jaya dalam kehidupan”.

5. Epilog: Komitmen Konservasi Daerah Aliran Sungai Citanduy

Citanduy dulu, masa lalu, sebagai urat nadi kesejahteraan Kerajaan Galuh, kini merupakan sistem hidrologi vital sebagai andalan kehidupan masyarakat Priangan Timur. Tradisi lisan mencatat sang Mahaprabu dipusarakan di Nusalarang di tengah Situ Panjalu itu, seakan menitipkan salah satu hulu terpenting dan sumber utama aliran sungai tersebut. Memelihara aliran sungai adalah kewajiban setiap warga, khususnya yang tinggal di DAS tersebut, termasuk memelihara mata air Cipanjalu, Situ Panjalu, dan kawasan hulu di hutan-hutan tameng hidrologi sungai purba tersebut di Gunung Sawal, aliran Cimuntur, dan sungai-sungai lainnya. Langkah nyata ini mencakup perlindungan mata air-mata air yang tersebar di wilayah Kecamatan Panjalu, Lumbung, Kawali, Sadananya, Ciamis, Cijeunjing, dan lainnya. Pengembangan geowisata ke kawasan permata Galuh wajib diisi oleh gerakan geoliterasi demi menegakkan daulat konservasi Citanduy secara berkelanjutan!

#GeowisataNusantara #Seri50_PermataGaluh #VulkanikTuaGunungSawal #SitusCisusuruKertabumi #ArkeoGeologiKarangkamulyan #PrasastiAstanaGedeKawali #SituLengkongPanjalu #KonservasiDASCitanduy #MineralogiTanahAndosol #HidrogeologiSungaiCimuntur #KedaulatanLingkunganNKRI

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #50: “Permata Galuh: Jejak Vulkanik Tua, Tinggalan Sejarah Klasik, dan Konservasi DAS Citanduy”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *