MajmusSunda News – Bandung, Kamis (09/07/2026) – WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri-5 dengan mengajak pembaca menjelajahi Geopark Nasional Dieng di jantung Jawa Tengah, sebuah dataran tinggi vulkanik yang memadukan keindahan lanskap, warisan budaya, dan pelajaran penting tentang mitigasi bencana. Dari kawah aktif, fenomena gas beracun, hingga tradisi rambut gimbal yang melegenda, Dieng memperlihatkan bagaimana geologi, kehidupan, dan kebudayaan saling membentuk perjalanan panjang peradaban manusia di Nusantara.
Teman-teman, mari kita mendaki ke jantung Jawa Tengah: Geopark Nasional Dieng. Dikenal luas sebagai “Negeri Para Dewa”, dataran tinggi eksotis ini menyuguhkan ruang refleksi yang mendalam tentang bagaimana keindahan bentang alam yang memukau selalu berdampingan erat dengan ancaman laten dari dalam perut bumi. Eksplorasi ke kawasan ini bukan sekadar perjalanan menikmati pesona kabut dan peninggalan purbakala, melainkan sebuah kontemplasi filosofis yang menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud, menyadari mutlaknya kuasa dan keagungan Sang Pencipta Jagat Raya. Kehadiran formasi cagar bumi purba ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang literasi kebumian yang menyandingkan kedaulatan sains kebencanaan dengan kemegahan tata sosial-budaya masyarakat lokal. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik yang menyimpan rekam jejak trauma masa lalu harus sukses ditransformasikan menjadi kompas ketangguhan bangsa yang menyejahterakan ekonomi masyarakat di atas kaki sendiri.
Keunggulan abiotik (abiotic) objek cagar bumi di jantung Jawa Tengah ini dikunci rapat oleh posisi geografisnya sebagai dataran tinggi vulkanik berelevasi rata-rata 2.000 mdpl yang tersusun atas kompleks kaldera Kuarter yang masih aktif. Aktivitas magma dangkal hidrotermal yang melimpah memicu kemunculan manifestasi energi panas bumi di permukaan, mulai dari semburan lumpur mendidih berkala di Kawah Sikidang hingga fenomena optik-kimiawi akibat interaksi gas belerang yang melahirkan kemilau Telaga Warna. Namun, Dieng juga menyimpan catatan kelam geologi berupa tragedi erupsi freatik Kawah Sinila pada tahun 1979 yang melepaskan gas karbon dioksida (CO₂) berkonsentrasi tinggi. Gas yang lebih berat daripada udara itu merayap turun menuju kawasan permukiman dan merenggut 149 jiwa dalam keheningan malam. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi vulkanik paling memilukan di Indonesia serta melahirkan sistem pemantauan aktivitas gas vulkanik yang semakin ketat oleh PVMBG. Di kawasan ini pula masyarakat mengenal fenomena embun upas, yaitu kristalisasi embun yang muncul pada musim kemarau akibat suhu permukaan yang sangat rendah.

Karakteristik tanah vulkanik subur yang kaya mineral tersebut secara otomatis merawat pilar hayati (biotic) kasta tertinggi dengan keanekaragaman flora dan fauna yang mampu beradaptasi sempurna pada kelembapan tinggi. Lereng-lereng pegunungan Dieng menjadi oasis bagi tanaman khas dataran tinggi, seperti pepaya gunung Carica (Vasconcellea pubescens) dan ginseng Jawa Purwaceng (Pimpinella pruatjan) yang berkhasiat herbal, bersanding dengan domestikasi unik domba Wonosobo yang berbulu lebat. Rahim ekologi hutan lindung di sekitar telaga juga menjadi habitat yang aman bagi beragam burung endemik Pulau Jawa, termasuk Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), sang penguasa langit rimba yang kini berstatus terancam punah. Luar biasanya, alam menyediakan mekanisme keselamatan alami melalui vegetasi di sekitar kawasan. Daun-daun yang mendadak menguning, layu, dan mengering kerap menjadi indikator awal adanya peningkatan konsentrasi gas vulkanik di permukaan sehingga dapat menjadi peringatan dini bagi masyarakat setempat.
Pada panggung sejarah sosiokultural (cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik fisik dan hayati kawasan menjadi warisan spiritual purba, kecerdasan rekayasa hidrologi, hingga tradisi budaya yang tetap lestari. Nenek moyang Nusantara merespons keluhuran tempat yang diyakini sebagai kahyangan para dewa dengan membangun Kompleks Candi Arjuna pada sekitar abad ke-8 Masehi sebagai salah satu pusat spiritual Hindu tertua di Pulau Jawa. Bersamaan dengan itu, dibangun pula saluran drainase kuno yang dikenal sebagai Gangsiran Aswatama, sebuah terowongan yang dipahat menembus batuan untuk mengendalikan genangan air di kawasan dataran tinggi Dieng. Hubungan kosmologis ini semakin kuat melalui tradisi anak-anak berambut gimbal alami yang dipercaya masyarakat sebagai titipan leluhur dan harus diruwat melalui upacara adat yang kini dikenal luas sebagai Dieng Culture Festival. Di sisi lain, pengalaman menghadapi bencana gas beracun telah membentuk budaya mitigasi masyarakat yang semakin tangguh. Warga bersama pemerintah dan PVMBG mengembangkan sistem kesiapsiagaan berbasis edukasi kebencanaan, pemantauan aktivitas vulkanik, jalur evakuasi, serta pemanfaatan teknologi deteksi gas untuk melindungi permukiman maupun lahan pertanian dataran tinggi.
Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara ancaman gas freatik Sinila, keunikan ekosistem Carica–Purwaceng, dan warisan budaya Candi Arjuna wajib diposisikan sebagai alarm sekaligus kompas fondasi utama dari gagasan besar Environmentally Sound and Sustainable Development (ESSD). Langkah pengungkapan sasis kaldera, mitigasi hidrotermal, dan manajemen kebencanaan ini dirancang bukan sekadar untuk pariwisata semata, melainkan juga menjadi katalisator penggerak jiwa nasionalisme yang tangguh dalam mengarungi takdir hidup di atas Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Keberhasilan membalikkan bayang-bayang tragedi masa lalu menjadi panggung kebudayaan dunia sekaligus model kesiapsiagaan masyarakat membuktikan keluhuran jiwa manusia Nusantara dalam berdamai dengan alam. Sains dan adat harus terus berpadu erat, mengunci keselamatan peradaban, sekaligus memastikan bahwa tanah sakral Dieng tetap berdiri tegak menopang masa depan Indonesia yang berdaulat, lestari, dan berwawasan lingkungan seutuhnya.
#Dieng #GeoparkNasionalDieng #ErupsiSinila1979 #TelagaWarna #CandiArjuna #RambutGimbalDieng #CaricaDieng #MitigasiBencana #WawasanKebangsaan #WISATABUMINUSANTARA

Judul: WISATABUMI NUSANTARA Seri 5: Alarm Gas Beracun dan Mistik Rambut Gimbal Dieng
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












