MajmusSunda News – Bandung, Senin (10/08/2026) – Wisatabumi Nusantara memasuki Seri ke-47 dengan mengajak pembaca menyusuri bentang pesisir Tasikmalaya Selatan yang menyimpan jejak sedimentasi laut purba, tebing pantai, mata air panas non-vulkanik, hamparan karang, hingga kekayaan biodiversitas pesisir. Melalui perspektif geologi, geowisata, ekologi, dan sosiokultural, seri ini mengulas Cipatujah, Ciheras, Sindangkerta, Karang Tawulan, dan Pulau Nusa Manuk sebagai bagian penting dari potensi alam dan ekonomi biru tatar selatan.
SINOPSIS: Esai ini membedah fondasi geologi wilayah Tasikmalaya Selatan yang didominasi oleh batuan sedimen laut purba dan bentang alam pesisir terjal. Melalui kacamata geoliterasi, diuraikan runtunan sistem batuan pantai tersembunyi, tebing pantai kasat mata pembatas pulau, hingga respons budaya masyarakat nelayan dalam merawat harmoni alam tatar selatan. Integrasi narasi kebumian ini ditujukan untuk membangun kesadaran geowisata mandiri berbasis komunitas demi menjaga kedaulatan lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Jendela Sedimentasi Miosen, Jalur Lintas Selatan, dan Karakter Fisik Pantai Cipatujah
Bentang alam tatar Tasikmalaya atau Mandala bagian Selatan menyuguhkan simfoni keragaman bumi yang sangat kontras dari jajaran gunung api utara melalui hamparan batuan sedimen laut purba Formasi Jampang dan Formasi Kalipucang. Berdiri kokoh sebagai bagian dari zona fisiografi Pegunungan Selatan Jawa Barat, wilayah ini mengekstrak sejarah geologi jutaan tahun lalu ketika dasar samudra dari kala Miosen terangkat secara tektonik ke permukaan. Koridor spasial ini membentang luas melintasi jalur lintas selatan, ditandai oleh karakter fisik Pantai Cipatujah yang memiliki hamparan pasir besi hitam masif dan tebing-tebing pantai yang kasatmata diterjang ombak besar Samudra Indonesia. Posisi geografis yang eksotis ini menenun respons budaya adaptasi masyarakat nelayan tradisional yang terbiasa membaca dinamika arus laut selatan, menciptakan rantai hubungan yang kuat antara geologi pantai dengan denyut kehidupan komunal di atasnya.
2. Lembaran Warisan Bumi Kasatmata: Dari Keunikan Air Panas Ciheras hingga Megahnya Karang Tawulan
Mengevaluasi keragaman geologi (geodiversity) di wilayah selatan ini harus dimulai dari kemegahan objek bentang alam makro yang terpahat nyata di sepanjang garis pantai Samudra Indonesia. Identifikasi lapangan di tatar pesisir Cipatujah menyuguhkan anomali geologi langka berupa kemunculan mata air panas alami non-vulkanik di Desa Ciheras, sebuah manifestasi hidrotermal unik yang keluar dari celah patahan batuan sedimen tanpa pengaruh magma gunung api aktif. Berdampingan dengan berkah geotermal tektonik tersebut, sasis permukaan pesisir memamerkan hamparan karang datar Pantai Sindangkerta berupa pelataran rata batuan karang purba seluas puluhan hektare yang menyembul kasatmata saat air surut, serta singkapan Pantai Karang Tawulan di Cikalong yang memperlihatkan gradasi runtunan lapisan sedimen purba pembatas daratan. Melongok beberapa mil ke laut lepas, lanskap abiotik ini dikunci oleh kemegahan Pulau Nusa Manuk sebagai blok batuan karang kompak terjal terluar yang berdiri soliter memecah gempuran gelombang samudra.

3. Surga Biodiversitas Pantai Selatan: Dari Penyu Hijau Cipatujah hingga Suaka Burung Laut Nusa Manuk
Sasis abiotik batuan sedimen dan pantai terjal yang khas tersebut secara paralel melahirkan hamparan kekayaan biotik (biodiversity) pesisir yang sangat spesifik dan dilindungi. Pada hamparan pasir Pantai Cipatujah dan Sindangkerta, dijumpai kawasan suaka alami yang menjadi tempat peneluran utama bagi koloni satwa langka Penyu Hijau (Chelonia mydas) di pesisir selatan Jawa Barat. Sabuk hijau pantai ini diperkuat oleh rapatnya ekosistem vegetasi Pandan Laut (Pandanus tectorius) dan formasi hutan pantai terisolasi yang berfungsi sebagai benteng biologi alami. Integrasi ekosistem biotik pesisir ini bekerja dalam diam menuju ke ruang terisolasi Pulau Nusa Manuk sebagai koloni suaka alami bagi ribuan burung laut sejati. Pulau karang tak berpenghuni ini menjadi rumah aman tempat bersarangnya populasi burung kuntul, cangak, camar, dan burung predator laut sejati yang bertumpu di sela-sela tebing karang terjal.
4. Dari Berkah Rumput Laut Karang Datar, Geliat Industri Gula Semut, hingga Potensi Ekonomi Biru
Pilar-pilar keragaman abiotik dan biotik pesisir itu pada akhirnya membentuk cetak biru dimensi sosiokultural (cultural diversity) masyarakat Mandala Selatan yang unik dalam memanfaatkan bentang alam secara bijaksana. Karakter lantai samudra dangkal berupa hamparan karang datar dimanfaatkan secara sirkular oleh warga setempat sebagai ladang pemanenan komoditas rumput laut jenis Gracilaria dan Sargassum alami sisa hempasan ombak Samudra Indonesia. Respons budaya agraris pesisir juga mengkristal kuat di sepanjang sabuk hijau Pantai Cipatujah, di mana melimpahnya tegakan pohon kelapa di atas tanah sedimen subur diolah secara turun-temurun menjadi sentra produksi gula kelapa dan gula semut tradisional. Seluruh anyaman aktivitas lokal dan tradisi upacara tahunan Hajat Laut nelayan pesisir ini bermuara pada optimalisasi potensi ekonomi biru yang tangguh di tatar selatan. Model pemanfaatan ruang laut secara berkelanjutan ini melatih kebiasaan masyarakat untuk senantiasa memuliakan ekosistem pesisir, menyadari bahwa denyut kesejahteraan komunal tidak akan pernah berjalan tanpa adanya kelestarian vegetasi kelapa dan keutuhan bentang karang penahan abrasi samudra.
5. Geowisata Mandiri Pantai Selatan: Ikhtiar Geoliterasi dan Pemuliaan Bentang Alam Unik
Oleh karena itu, menikmati keunikan pantai terjal Tasikmalaya Selatan melalui gerakan geowisata populer berbasis geoliterasi wajib diarahkan menjadi media edukasi yang murni bernyawa. Melalui kacamata literasi bumi, pejalan diajak menikmati objek berbahaya seperti Nusa Manuk lewat metode geowisata edukasi jarak jauh menggunakan lensa bidik dari atas tebing Karang Tawulan, mengamati harmoni kepakan burung laut tanpa merusak suaka alaminya. Setiap pejalan diajak untuk sadar membaca untaian sejarah bumi melalui singkapan batuan sedimen purba, sekaligus aktif menghidupkan ekonomi komunitas nelayan tradisional setempat. Pesan geowisata yang penting untuk digaungkan adalah pentingnya mitigasi bencana berbasis ekosistem melalui gerakan penghijauan pantai secara mandiri. Menanam kembali vegetasi pandan laut, pohon nyamplung, ketapang, dan kelapa di sepanjang garis pesisir bertindak sebagai benteng hijau hidup kasatmata untuk meredam dan mengurangi laju daya rusak hantaman gelombang ekstrem maupun ancaman bencana tsunami masa depan dari zona penunjaman selatan. Memuliakan keaslian alam pesisir dan ikut andil dalam pertahanan sabuk hijau ini merupakan tindakan nyata bela negara ekologis untuk mengawal kedaulatan lingkungan dari kerusakan. Memahami batas fisis sasis daratan selatan ini adalah ikhtiar murni untuk merawat keutuhan alam Zamrud Khatulistiwa demi tegaknya martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk selama-lamanya!
#GeowisataNusantara #PotensiEkonomiBiru #AirPanasNonVulkanikCiheras #KarangDatarSindangkerta #RumputLautCipatujah #GulaSemutKelapaPesisir #MitigasiTsunamiHijau #PenghijauanPantaiSelatan #SedimentasiMiosen #PulauNusaManukTerluar #TebingKarangTawulan #BelaNegaraEkologis

Judul: Wisatabumi Nusantara Seri #47: “Mandala Selatan: Dari Pesona Tebing Tepi Laut hingga Potensi Ekonomi Biru”
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Asep AZM/Parkah












