WISATABUMI NUSANTARA #Seri-24: “Kharisma Merapi dan Altar Riset Gunungapi Dunia di Geopark Jogja”

Oleh: Oman Abdurahman

Wisatabumi Nusantara

MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (18/07/2026)WISATABUMI NUSANTARA memasuki Seri ke-24 dengan mengajak pembaca menjelajahi Geopark Nasional Jogja di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas vulkanisme Gunung Merapi, dinamika tektonik Sesar Opak, serta bentang alam pesisir selatan berpadu dengan warisan budaya Mataram menjadi laboratorium alam sekaligus ruang pembelajaran mitigasi bencana bertaraf dunia. Keistimewaan tersebut menjadikan Geopark Nasional Jogja sebagai kawasan yang memadukan ilmu kebumian, konservasi, budaya, dan geowisata secara berkelanjutan.

Teman-teman, setelah beberapa hari yang lalu kita membedah labirin kubah kapur Gunungsewu, mari masuk ke jantung Daerah Istimewa: Geopark Nasional Jogja! Kawasan eksotis ini menyuguhkan ruang kontemplasi mendalam tentang bagaimana pesona vulkanisme paling aktif di dunia mampu menyatu lurus di atas bentang ruang budaya Mataram sekaligus mendikte silsilah sains, biodiversitas, hingga produk kebudayaan manusia. Penjelajahan ke rahim Yogyakarta menuntun setiap jiwa untuk tertunduk bersujud menyadari mutlaknya Kuasa dan Keagungan Sang Pencipta Jagat Raya yang mengunci ancaman letusan awan panas Merapi dan bahaya laten tektonik di bawah sasis kesatuan ruang filosofis sebagai cagar pelindung peradaban. Kehadiran formasi cagar bumi purba ini bertindak sebagai sasis pembuka gerbang pariwisata minat khusus yang menyandingkan kedaulatan riset kegunungapian internasional dengan kemegahan tata sosial kultural masyarakat lokal di tatar Mataram Islam. Jalinan kosmis ini membawa pesan kuat bahwa melalui instrumen interpretasi geowisata yang mandiri, pusaka abiotik Nusantara yang menyimpan rekam jejak “wedhus gembel” dan getaran sesar harus sukses ditransformasikan menjadi kompas ketahanan nasional yang menyejahterakan ekonomi masyarakat lokal secara nyata di atas kaki sendiri.

Keunggulan abiotik (Abiotic) objek cagar bumi berskala internasional di jantung Pulau Jawa ini dikunci rapat oleh kharisma vulkanik Gunung Merapi yang menyandang predikat sebagai salah satu gunung api paling aktif di dunia. Mekanisme erupsinya yang khas berupa runtuhan kubah lava kental akibat gaya gravitasi telah menjadi rujukan ilmiah internasional dengan istilah Letusan Tipe Merapi, menjadikannya laboratorium alam bagi para peneliti kebumian dari berbagai negara. Endapan material piroklastik Merapi menghasilkan tanah andosol yang sangat subur, berpadu dengan ancaman tektonik dari jalur aktif Sesar Opak Bantul yang pernah memicu gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,3 pada tahun 2006. Keunikan geologi kawasan ini semakin lengkap dengan keberadaan Lava Bantal Berbah di Kabupaten Sleman sebagai bukti aktivitas vulkanisme bawah laut purba, serta Gumuk Pasir Parangtritis yang menampilkan bentang bukit pasir bertipe barchan, satu-satunya fenomena semacam itu di Asia Tenggara.

Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, laboratorium alam vulkanologi yang menjadi ikon Geopark Nasional Jogja. Sumber: Geopark Jogja / Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Karakteristik fisik tanah andosol yang kaya unsur hara serta pasokan air dari lereng Gunung Merapi secara alami menjaga pilar hayati (Biotic) Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan hutan di lereng Merapi berfungsi sebagai daerah resapan air yang menopang pertumbuhan pohon aren, jati, serta vegetasi nangka (Artocarpus heterophyllus) yang sejak lama menjadi bahan baku utama kuliner khas Gudeg. Ekosistem pascaerupsi juga menjadi habitat penting bagi pemulihan Anggrek Vanda tricolor yang merupakan flora endemik khas Merapi. Di kawasan Perbukitan Menoreh, Kulon Progo, hutan sekunder menjadi habitat Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), sementara Burung Kepodang (Oriolus chinensis) tetap menjadi fauna identitas Daerah Istimewa Yogyakarta yang melambangkan keluhuran budi pekerti masyarakatnya.

Pada panggung sejarah sosiokultural (Cultural), respons peradaban manusia menyublimasikan karakteristik geosfer dan biosfer menjadi filosofi tata ruang, sistem mitigasi modern, serta kekayaan budaya yang mendunia. Kesultanan Yogyakarta membangun konsep Garis Poros Imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Yogyakarta, Keraton, hingga Pantai Selatan sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Filosofi tersebut kini diperkuat melalui sistem pemantauan modern yang dijalankan oleh BPPTKG di bawah PVMBG Kementerian ESDM melalui jaringan sensor digital, sistem peringatan dini (real-time), serta penyusunan Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB). Adaptasi terhadap ancaman gempa juga diwujudkan melalui arsitektur Rumah Joglo yang lentur terhadap guncangan, penerapan mikrozonasi tata ruang, pengendalian pembangunan di sekitar jalur Sesar Opak, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan geowisata dan kuliner khas seperti Gudeg Jogja yang dimasak menggunakan daun jati.

Oleh karena itu, orkestrasi hulu-hilir antara laboratorium alam Letusan Tipe Merapi, kekayaan biodiversitas habitat Anggrek Vanda tricolor, serta kearifan tata ruang melalui Garis Poros Imajiner Keraton Yogyakarta harus diposisikan sebagai fondasi utama pembangunan berkelanjutan (Environmentally Sound and Sustainable Development). Pengembangan riset geologi melalui Peta Kawasan Rawan Bencana oleh BPPTKG, penerapan ilmu mikrozonasi di kawasan Sesar Opak, serta penguatan status Geopark Nasional tidak hanya bertujuan mendukung industri pariwisata, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana di kawasan Ring of Fire. Sinergi antara ilmu pengetahuan, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan menjadi modal utama menjaga warisan geologi Yogyakarta agar tetap lestari. Memahami perjalanan bumi dari Lava Bantal Berbah hingga aktivitas Gunung Merapi merupakan wujud nyata merawat persatuan bangsa serta menegaskan bahwa kedaulatan tanah, air, ruang, dan budaya Yogyakarta harus dijaga demi kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.

#Yogyakarta #GeoparkNasionalJogja #GunungMerapiTipeLetusan #SesarOpakBantul #PorosImajinerKeraton #BPPTKGMitigasi #GudegJogjaMentaok #GumukPasirParangtritis #WawasanKebangsaan

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: WISATABUMI NUSANTARA #Seri-24: “Kharisma Merapi dan Altar Riset Gunungapi Dunia di Geopark Jogja”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Asep AZM/Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *