Ulama Penuntun

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Selasa (25/08/2026)  Artikel berjudul “Ulama Penuntun” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama adalah momen tepat untuk mengaca diri.

Di zaman baru, tatkala dunia bergerak melesat melebihi kecepatan doa, sementara negeri masih dirundung begitu banyak masalah, ulama berdiri di antara dua arus: warisan masa lalu dan tantangan masa depan, impian kemajuan dan keterbelakangan umat.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di belakangnya terbentang kitab dan kebijaksanaan para pendahulu; di hadapannya, teknologi, pengetahuan, dan perubahan tanpa jeda. Warisan tak cukup disimpan, masa depan tak cukup disambut. Kitab harus dibaca untuk menerangi zaman.

Karena itu, jangan sampai ulama lebih mendekati istana daripada umat, lebih sibuk berpolitik daripada menuntun kepatutan etik, lebih peduli memperkaya diri daripada memperjuangkan kesejahteraan umat.

Di luar gemerlap kemajuan dan pesatnya teknologi, masih terbentang ketertinggalan lama: kemiskinan, pendidikan timpang, dan layanan dasar yang tak merata. Di balik itu tumbuh kesenjangan baru: akses dan penguasaan teknologi. Sebagian melaju bersama kecerdasan buatan, sementara sebagian umat masih tertatih mengikutinya.

Ulama harus menjadi jembatan: mendorong ilmu, pendidikan, kecakapan teknologi, dan kemandirian ekonomi, sembari menjaga agar kemajuan tetap berakar pada nilai. Di tengah banjir informasi, ia menjadi penapis—memilah kebenaran dari kebisingan, pengetahuan dari manipulasi, dan kemajuan dari sekadar kecepatan.

Maka ulama zaman baru bukan sekadar pewaris masa lalu, melainkan penafsir bagi masa depan; bukan hanya penjaga kesalehan, melainkan penggerak kemaslahatan. Ia membawa hikmah menyeberangi zaman, agar kemajuan tak kehilangan kemanusiaan, teknologi tak memperlebar kesenjangan, dan ilmu tak kehilangan keberpihakan.

Negeri ini tidak hanya membutuhkan ulama yang menunjukkan arah kiblat, tetapi juga yang berani menunjukkan ke mana keadilan mengarah, kepada siapa kebenaran berpihak, untuk apa ilmu diabdikan, dan bagaimana agama harus berperan.

Di sanalah ulama semestinya berdiri—di tengah umat, membawa lentera, menjaga cahaya tetap menyala.

***

Judul: Ulama Penuntun
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *