MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (31/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Tuturut Munding” ” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
“Tuturut munding” itu peribahasa Sunda yang artinya ikut-ikutan atau meniru gaya orang lain tanpa tahu maksud dan tujuannya. Konteksnya biasanya untuk memberi sindiran ke orang yang “taklid buta” alias nurut saja sama orang lain, padahal dia sendiri tidak ngerti kenapa harus gitu. Kata “munding” sendiri artinya kerbau. Jadi bayangannya kayak kerbau yang dituntun ke mana-mana, ikut jalan di depan tanpa mikir.

Nilai falsafah dari “tuturut munding” intinya adalah kritik terhadap hilangnya akal dan kemandirian berpikir. Ada 3 nilai utama yang terkandung di dalamnya yakni : Yang utama, peringatan untuk tidak taklid buta. Kalimat ini nyindir orang yang nurut mentah-mentah tanpa paham alasannya. Di budaya Sunda, manusia dianggap harus pakai rasa dan akal dalam memilih jalan hidup. Ikut-ikutan tanpa nalar dianggap merendahkan martabat manusia. Jadi seperti “munding” yang cuma dituntun.
Selanjutnya, menjaga kemandirian berpikir dan identitas. Falsafahnya, kita boleh belajar dari orang lain, tapi jangan sampai kehilangan diri sendiri. Kalau semua diturutin tanpa filter, nilai, adat, dan jati diri bisa hilang. Ini selaras sama pepatah Sunda lain kayak “ulah sok saturut-turutna lamun lain turutaneunana”. Artinya, jangan ikut-ikutan kalau itu bukan jalan yang memang cocok buatmu.
Kemudian, konsekuensi tanggung jawab pribadi. Karena yang nurut buta itu tidak mikir, kalau salah dia tetap kena akibatnya. Filosofinya mengingatkan, hidup itu tanggung jawab kita sendiri. Makanya lebih baik paham dulu, baru ikut. Kalau tidak, “tuluy we cilaka ku polahna teh”.
Jadi singkatnya, “tuturut munding” itu pengingat Sunda buat hidup dengan sadar, kritis, dan punya pendirian. Bukan anti-guru atau anti-tradisi, tapi anti-nurut tanpa mikir.
Contoh perilaku “tuturut munding” yang sering kejadian di kehidupan sehari-hari antara lain :
1. Soal tren dan gaya hidup. Lihat teman beli iPhone, langsung ngutang buat beli juga. Padahal kebutuhannya cuma buat WA dan TikTok, dan HP lama masih lancar. Alasannya cuma “biar nggak malu”. Itu nurut tanpa mikir kebutuhan dan kemampuan sendiri.
2. Soal kerjaan dan kuliah. Ikut ambil jurusan IT karena lagi hype dan gajinya gede, padahal benci ngoding. Pas kuliah kewalahan, drop out, waktu dan uang kebuang. Itu contoh nurut arus orang banyak tanpa cek diri sendiri cocok atau nggak.
3. Soal opini dan gosip. Ada info belum jelas kebenarannya langsung disebar dan dibela mati-matian, cuma karena “kan yang ngomong influencer X”. Nggak cek fakta dulu. Ini yang paling sering disebut taklid buta versi digital.
4. Soal adat dan tradisi. Ada tradisi yang awalnya buat simbol doa, tapi sekarang dijalankan berlebihan, boros, dan nyusahin. Tapi tetap dipaksa jalan karena “dari dulu juga gitu”. Tidak ada yang berani nanya “ini tujuannya apa sih sekarang?”.
Catatan kritisnya, kalau kita melakukan sesuatu dan ditanya “kenapa?”, jawabannya cuma “ya orang lain juga gitu”. Nah itu sudah masuk “tuturut munding”. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal jika ada orang yang menyebut “tuturut munding” itu, sama saja dengan sikap seseorang yang tidak memiliki pendirian dalam melakoni kehidupannya.
Dalam dunia politik, sikap “tuturut munding” muncul sebagai perilaku ikut-ikutan tanpa memahami substansi politiknya sendiri.
Pertama, bentuk tuturut munding di politik diantaranya :
– Dukungan buta ke tokoh/partai. Mendukung atau membenci seseorang cuma karena keluarga, komunitas, atau idola ikut begitu. Alasannya “bapak gue juga pilih dia”, bukan karena baca visi-misi atau rekam jejaknya.
– Ikut aksi atau narasi viral. Ikut demo, share hashtag, atau serang lawan politik karena lagi ramai di timeline. Kalau ditanya “tuntutannya apa?”, jawabannya tidak jelas.
– Pilih calon karena populer. Pilih karena artis, karena banyak baliho, atau karena jargonnya keren, tanpa cek program dan track record.
Kedua, nilai falsafah yang dilanggar.
Sikap ini bertentangan sama prinsip politik Sunda lama yang disebut silih asih, silih asah, silih asuh. Politik yang sehat butuh asah, saling mengasah pikiran lewat diskusi dan kritik. “Tuturut munding” mematikan proses itu karena orang berhenti mikir dan cuma jadi pengikut.
Ketiga, konsekuensinya. Orang yang tuturut munding gampang dimobilisasi, tapi juga gampang kecewa. Kalau pemimpin yang diikuti gagal, dia tidak paham kenapa, karena dari awal dukungannya tidak berbasis alasan. Akhirnya politik jadi ajang ikut-ikutan massa, bukan adu gagasan.
Jadi di politik, “tuturut munding” itu pengingat buat membedakan antara loyalitas buta dan partisipasi sadar. Ikut boleh, tapi mesti tahu, ikut untuk apa. Semoga jadi bahan perenungan bersama. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Tuturut Munding”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












