MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (06/09/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Turaes”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Turaes adalah sebutan dalam bahasa Sunda untuk serangga tonggeret atau cicada (anggota superfamili Cicadoidea). Banyak orang kerap mengira suaranya yang bising berasal dari burung, padahal bunyi nyaring tersebut dihasilkan oleh serangga ini dari atas pepohonan. Di berbagai daerah di Indonesia, turaes dikenal dengan nama yang berbeda-beda, tergantung tiruan suara yang dihasilkan. Jawa disebut Garengpung, cenggeret, uir-uir, atau kinjeng tangis. Makassar disebut Nyenyeng. Manado: Rie-rie. Kalimantan disebut kriang.

Karakteristik unik Turaes adalah Suara nyaring di akhir musim hujan. Suara turaes yang saling bersahutan biasanya menjadi pertanda alami datangnya peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Suara ini dikeluarkan oleh turaes jantan untuk menarik perhatian betina saat musim kawin. Kemudian, siklus hidup yang lama di bawah tanah. Turaes menghabiskan sebagian besar hidupnya (bisa bertahun-tahun) di dalam tanah dalam fase nimfa.
Ketika dewasa, mereka keluar ke permukaan, bertransformasi, bernyanyi, kawin, lalu mati dalam waktu yang relatif singkat. Kuliner ekstrem. Di beberapa daerah di Jawa Barat, seperti Sumedang, turaes juga dikenal sebagai bahan kuliner ekstrem musiman yang biasanya diolah dengan cara digoreng atau ditumis.
Suara turaes (tonggeret) dianggap sebagai penanda berakhirnya musim hujan dan datangnya kemarau karena adanya keterikatan erat antara siklus hidup biologis serangga ini dengan perubahan suhu serta kelembapan tanah.
Bagi masyarakat agraris, fenomena alam ini sudah dijadikan sebagai salah satu indikator pranata mangsa (penentuan musim) tradisional. Berikut adalah alasan ilmiah dan alamiah di balik fenomena tersebut:
1. Suhu udara yang meningkat merangsang transformasi. Turaes menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam tanah yang basah dan lembap dalam bentuk nimfa. Ketika musim hujan mulai mereda dan matahari mulai bersinar terik, suhu tanah meningkat dan kelembapannya berkurang. Perubahan suhu yang menghangat ini menjadi sinyal alami bagi nimfa turaes untuk keluar dari bawah tanah menuju permukaan pohon untuk melakukan metamorfosis menjadi turaes dewasa.
2. Ritual musim kawin di udara hangat.
Setelah berubah menjadi turaes dewasa, mereka hanya memiliki waktu hidup yang singkat (beberapa minggu saja) untuk bereproduksi. Udara hangat dan kering di awal musim kemarau adalah waktu ideal bagi turaes jantan untuk bernyanyi. Mereka menggetarkan membran tymbal di perutnya dengan sangat nyaring untuk menarik perhatian turaes betina agar bisa segera kawin sebelum masa hidup mereka habis. Itulah mengapa suaranya tiba-tiba terdengar serempak dan sangat bising.
3. Panduan petani untuk menanam palawija.
Secara turun-temurun, ketika suara turaes (atau garengpung) mulai ramai bersahutan di penghujung musim hujan, para petani menjadikannya alarm penanda bahwa pasokan air hujan akan segera berkurang. Momen ini digunakan petani sebagai aba-aba untuk berhenti menanam padi dan beralih mempersiapkan lahan untuk menanam tanaman palawija yang tahan kering, seperti jagung, kacang tanah, atau umbi-umbian.
Namun, akibat adanya perubahan iklim global saat ini, siklus cuaca menjadi kurang menentu. Terkadang turaes terdengar “salah musim” karena kecoh oleh fluktuasi suhu udara yang mendadak panas meskipun hujan masih sering turun. Keberadaan turaes (tonggeret) memiliki kaitan yang sangat erat dengan pelestarian lingkungan. Keberadaannya di suatu wilayah bukan sekadar pembuat bising, melainkan menjadi indikator alami yang menunjukkan seberapa sehat dan seimbangnya ekosistem di tempat tersebut.
Berikut adalah beberapa peran penting turaes dalam menjaga kelestarian lingkungan:
1. Indikator Alami Kesehatan Lingkungan (Bioindikator).
Turaes sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, polusi, dan kerusakan alam. Kualitas Tanah. Nimfa turaes hidup bertahun-tahun di dalam tanah dan bergantung pada akar pohon yang sehat. Jika tanah tercemar bahan kimia atau mengalami pemadatan ekstrem akibat pembangunan, nimfa ini tidak akan bisa bertahan hidup. Kerapian vegetasi pohon. Turaes dewasa membutuhkan pohon-pohon besar dengan kulit kayu yang sehat untuk bertelur dan mengisap cairan pohon. Jika di suatu daerah suara turaes mulai menghilang, itu menjadi alarm awal bahwa kawasan tersebut sedang mengalami deforestasi atau penurunan kualitas ruang terbuka hijau.
2. Membantu aerasi dan menyuburkan tanah.
Saat nimfa turaes siap bermetamorfosis, mereka akan menggali terowongan kecil dari dalam tanah menuju permukaan. Aktivitas menggali ini secara tidak langsung membantu proses aerasi tanah (memasukkan oksigen ke dalam tanah). Terowongan-terowongan kecil ini membuat tanah menjadi lebih gembur, sehingga air hujan lebih mudah meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan meminimalkan risiko erosi.
3. Penjaga rantai makanan (Mata Rantai Ekosistem).
Ketika ribuan turaes keluar ke permukaan secara bersamaan, mereka menjadi sumber makanan berprotein tinggi yang melimpah bagi berbagai pemangsa, seperti burung, reptil, amfibi, tawon, hingga mamalia kecil. Keberadaan turaes memastikan kelangsungan hidup populasi hewan-hewan lain tersebut tetap terjaga.
4. Menjadi pupuk alami bagi hutan.
Setelah musim kawin selesai, turaes dewasa akan mati secara massal dalam waktu singkat. Bangkai-bangkai turaes yang berjatuhan ke tanah akan membusuk dan terurai. Proses penguraian ini mengembalikan nutrisi penting (seperti nitrogen dan fosfor) kembali ke dalam tanah, yang berfungsi sebagai pupuk alami untuk menyuburkan pepohonan di sekitarnya.
Ancaman terhadap populasi turaes.
Saat ini, modernisasi dan perluasan lahan pemukiman menjadi ancaman terbesar bagi turaes. Penggunaan pestisida berlebih pada tanah dan penebangan pohon-pohon tua di perkotaan membuat serangga ini kehilangan habitatnya. Menjaga pohon-pohon besar tetap tumbuh di sekitar lingkungan kita adalah cara paling sederhana untuk melestarikan turaes agar suaranya tetap bisa kita dengar di masa depan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: “Turaes”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












