Tim Jemput Pangan

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (09/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Tim Jemput Pangan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Memasuki panen raya padi 2026, Bulog ditugaskan Pemerintah untuk menyerap gabah petani, lebih besar 1 juta ton setara beras ketimbang penugasan tahun 2025. Tambahan target seperti ini, tentu menuntut Bulog agar lebih cerdas dan kreatif dalam melaksanakan penugasannya tersebut. Bulog perlu terobosan cerdas, kreatif dan inovatif dalam kiprahnya.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Untuk mengejar target pengadaan 4 juta ton setara beras, Bulog mengakselerasi penyerapan melalui berbagai langkah di lapangan, termasuk penguatan tim jemput pangan dan sinergi lintas instansi. Lebih lanjut Dirut Bulog menyatakan untuk mengakselerasi target tersebut, Bulog langsung sinergi dengan TNI/Polri dan petugas penyuluh pertanian, untuk memastikan serapan GKP any quality telah memasuki usia panen.

Tim Jemput Pangan yang digarap Bulog, betul-betul sangat penting, ketika regulator pangan memberlakukan lagi penyerapan gabah secara “any quality” memasuki usia panen. Artinya sekalipun kebijakan penyerapan gabah petani tidak lagi menggunakan persyaratan kadar air dan butiran hampa tertentu, Bulog tetap menuntut supaya gabah yang dijual petani sudah memasuki usia panen

Sebagaimana diketahui, mekanisme pembelian gabah any quality berhasil mengungkit pengadaan Bulog selama Tahun 2025 mencapai 4,5 juta ton gabah kering panen. Namun untuk tahun ini, perusahaan plat merah ini akan lebih selektif dengan menetapkan beberapa kriteria. Salah satunya Bulog akan menyerap gabah any quality yang sudah memasuki usia panen.

Seperti dipahami, Pemerintah telah mengumumkan hingga 31 Desember 2025, pengadaan beras tercatat sebesar 3.191.969 ton setara beras. Jumlah tersebut berasal dari penyerapan 4.537.490 ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), serta 765.504 ton beras. Banyak pihak mengakui, kinerja Bulog dalam penyerapan gabah petani benar-benar cukup mengagumkan.

Untuk tahun ini pun, mekanisme pengadaan tetap menggunakan ketetapan any quality dengan harga Rp 6.500/kg. Namun demikian, Bulog akan lebih selektif dalam membeli gabah petani. Gabah yang Bulog serap adalah yang dipanen sesuai usia panen. Karena itu, Bulog berharap kerjasama PPL dan Babinsa/Babinkamtibnas untuk menyosialisasikan bahwa pembelian gabah pemerintah adalah yang dipanen any quality sesuai panen.

Berkaca pada pengalaman tahun lalu, dengan usia panen cukup, gabah yang diolah menjadi beras menjadi bagus. Sebaliknya, kalau belum usia panen, gabah bisa pecah-pecah dan tidak bisa tahan lama. Itu sebabnya, Bulog berpandangan, yang namanya gabah any quality dalam proses penyerapan gabah petani oleh Bulog adalah gabah yang telah memasuki usia panen.

Untuk meningkatkan efektivitas di lapangan, Tim Jemput Gabah dalam Panen Raya padi 2026 melibatkan beberapa pihak, antara lain pertama. Perum Bulog, sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas penyerapan gabah dan beras, Bulog telah menyiapkan tim untuk melakukan penyerapan gabah dan beras hasil panen petani.

Kedua, Kementerian Pertanian. Artinya, Kementerian Pertanian juga terlibat dalam Tim Jemput Gabah untuk memastikan penyerapan gabah dan beras berjalan lancar. Ketiga, Pemuda Karang Taruna. Bulog juga melibatkan Pemuda Karang Taruna dalam Tim Jemput Gabah untuk membantu penyerapan gabah dan beras di tingkat desa.

Keempat Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). PPL juga terlibat dalam Tim Jemput Gabah untuk membantu petani dalam proses penyerapan gabah dan beras. Kelima, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Babinsa dan Bhabinkamtibmas juga terlibat dalam Tim Jemput Gabah untuk membantu menjaga keamanan dan kelancaran proses penyerapan gabah dan beras.

Namun begitu, penting diingatkan dalam pelaksanaannya di lapangan Tim Jemput Gabah srpertinya akan dihadapakan pada berbagai kendala dan tantangsn. Kendala dan tantangan Tim Jemput Pangan bisa saja karena harga gabah yang tidak kompetitif. Harga gabah yang rendah dapat membuat petani tidak mau menjual hasil panennya.

Kemudian, keterbatasan infrastruktur. Kurangnya fasilitas penyimpanan dan transportasi dapat menghambat penyerapan gabah.
Bisa juga kualitas gabah yang tidak sesuai. Gabah yang tidak sesuai standar dapat menurunkan harga jual. Lalu, biaya operasional yang tinggi. Biaya pengumpulan dan pengolahan gabah dapat tinggi.

Bahkan tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dalam proses penyerapan gabah di lapangannya. Pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat saja memanfaatkan dan memainkan situasi untuk mengejar keuntungan pribadi lewat berbagai modus operandinya. Ini yang perlu diantisipasi sedini mungkin.

Hanya kita percaya, dengan adanya Tim Jemput Pangan saat panen raya, diharapkan dapat meningkatkan penyerapan gabah dan beras hasil panen petani, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan menjaga stabilitas harga pangan. Tinggal sekarang, bagaimana Tim Jemput Pangan di lapangan betul-betul mampu memberi kinerja terbaiknya demi pencapaian cita-cita mulia diatas. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Tim Jemput Pangan
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *