MajmusSunda News, Rabu (15/04/2026) – Artikel berjudul “Kerentanan Ideologis” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, Indonesia memasuki ketegangan global dengan kaki teringkus dan posisi ideologis yang goyah. Terbukti, ketahanan ideologis pemimpin politik itu tak dapat diukur dari kerasnya menggebrak podium. Ia justru diuji di tempat yang lebih sunyi: pada daya resiliensi saat tekanan datang menghadang, ketika janji-janji besar mulai runtuh pelan-pelan dikorbankan dengan dalih strategi.

Di mimbar, kata-kata boleh tetap menyala. “Bebas aktif” diulang bak mantra, seolah cukup untuk menjaga arah tetap lurus. Kalimatnya tegap, nadanya meyakinkan. Namun di balik itu, arah angin pelan-pelan mengambil alih kendali, sementara kompas yang diklaim digenggam sendiri mulai diabaikan.
Ada kehendak untuk tampil lebih besar dari ukuran diri berdiri di panggung global, memainkan peran yang terdengar megah. Tetapi kehendak itu tak diiringi kewaskitaan untuk mengukur kapasitas. Maka yang lahir bukan kepemimpinan, melainkan pertunjukan. Pemimpin itu terjebak dalam langgam pentas dirinya sendiri, bergerak seolah mengatur irama, padahal langkahnya telah lebih dulu ditentukan oleh kekuatan yang lebih lihai.
Ironinya, ketika negara-negara lain mulai menjaga jarak dari pusaran tekanan “bandit” adidaya, memilih berhitung dengan dingin, Indonesia justru melangkah mendekat seolah kedekatan adalah kekuatan, padahal sering kali ia hanyalah bentuk lain dari kerentanan yang disamarkan.
Di sanalah satir itu bekerja tanpa perlu ditertawakan: antara klaim kemandirian dan praktik ketergantungan, antara retorika yang berkobar dan realitas yang bertekuk lutut. Keberanian seakan diukur dari kerasnya suara di dalam negeri, bukan dari keteguhan sikap ketika berhadapan dengan kuasa luar.
Padahal, menjaga jarak aman sering kali jauh lebih bijak daripada mendekat tanpa perhitungan. Sebab dalam kedekatan yang tak setara, pilihan menjadi sempit dan yang tersisa hanyalah menunggu kapan keputusan diambil oleh pihak lain, atas nama kepentingan yang tak pernah sepenuhnya milik kita.
Yang tersisa bukan sekadar kesalahan strategi, melainkan ironi: ketika prinsip tak runtuh dengan suara keras, melainkan perlahan disesuaikan hingga suatu hari, tak lagi dikenali sebagai prinsip.
***
Judul: Kerentanan Ideologis
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












