MajmusSunda News – Bandung, Minggu (12/04/2026) – Komunitas Bandoengmooi Kota Cimahi bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) serta didukung Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) siap menggelar pertunjukan musikal teater dan tari “Munding Dongkol”, Kamis, 16 April 2026, pukul 15.30 WIB di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bukit Dago Selatan No. 53A, Kota Bandung.
Hermana HMT, dramaturg sekaligus penulis cerita pertunjukan musikal teater Munding Dongkol, mengatakan kegiatan ini difasilitasi UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat (PKDJB), Taman Budaya Jawa Barat sebagai unit teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat dengan tajuk Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat 2026 yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Menurut Hermana, dahulu masyarakat di Kota Cimahi, terutama yang hidup berdekatan dengan aliran sungai, mengenal istilah Jurig Cai (siluman air), yaitu makhluk gaib yang hidup di air dan dianggap berwatak jahat. Makhluk itu termasuk makhluk yang jarang muncul, namun sekali muncul, konon suka menarik orang yang sedang mandi atau berenang ke dasar sungai dan mengakibatkan orang itu meninggal dunia. Jurig Cai digambarkan oleh orang-orang dalam wujud menyeramkan menyerupai kepala binatang seperti buaya, ular, kerbau, atau berwujud manusia buruk rupa. Namun ada pula yang menggambarkan menyerupai gulungan samak (tikar) dan orang menyebutnya Lulub Samak. Adalah gambaran dari gelombang air yang mengalir sangat deras dan berputar di kubangan air terjun serta membuat benda-benda atau orang yang masuk dalam kubangan itu turut terbawa berputar.
Gambaran makhluk gaib yang menyerupai kerbau, masyarakat menyebutnya Siluman Munding Dongkol. Makhluk gaib penguasa sungai dengan tubuh yang gempal, tanduk menjulur ke depan, serta sorot mata tajam dan menyeramkan. Kemunculannya dipercaya sangat membahayakan. Makhluk itu muncul menjelang magrib (senja) dan selalu mengejar orang yang melihatnya. Di sisi lain, Siluman Munding Dongkol juga sering muncul ketika aliran sungai sedang meluap. Kemunculannya menjadi tanda bahwa di kawasan tersebut bakal terjadi banjir besar.
Mitos Lulub Samak dan Siluman Munding Dongkol ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan budaya masyarakat Kota Cimahi, terutama di Kampung Babakan Loa RW 07, Kelurahan Pasirkaliki, Cimahi Utara. Salah satunya memberi inspirasi hingga terlahir sebuah karya seni yang disebut Bangbarongan Munding Dongkol.
Bangbarongan Munding Dongkol adalah sejenis seni helaran atau arak-arakan yang biasanya digelar pada kegiatan kirab budaya atau karnaval budaya. Sekitar tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an, seni ini sering ditampilkan pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Babakan Loa, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara, senantiasa melakukan helaran menuju lapangan upacara Sriwijaya Cimahi (sekarang menjadi Pasar Antri). Dengan iringan musik, para peserta tidak merasa lelah saat membawa mumundingan (kerbau buatan dari ijuk), dongdang (jempana) berisi hasil pertanian, serta mengenakan barong (topeng). Sepanjang perjalanan, semua menari dan bergembira merayakan kemerdekaan. Selain itu, helaran ini juga erat kaitannya dengan upacara Ngarak Cai dan ritual Ngalokat Cai Cimahi.
Komunitas Bandoengmooi Kota Cimahi Angkat Mitos Munding Dongkol
Mitos Siluman Munding Dongkol juga menginspirasi lahirnya karya seni baru yang berkaitan dengan air dalam bentuk sajian musik, teater, dan tari. Munding Dongkol dalam komposisi tari kreasi baru mengacu pada gerak dasar tari tradisional Sunda dengan iringan instrumen dan gamelan Sunda.
Siluman Munding Dongkol digambarkan bersemayam dalam air yang tenang, senantiasa terjaga dan penuh kelembutan. Lenggoknya bagai riak air danau yang menebarkan pesona. Langkahnya gemericik seperti air terjun yang sarat keindahan. Dalam suasana itu, kehidupan terasa damai dan penuh gairah.
Namun ketika alam diusik dan air tidak memiliki tempat yang memadai untuk bersemayam, Siluman Munding Dongkol akan terbangun dari tidurnya. Kelembutannya berubah menjadi murka dan siap menghancurkan segalanya.
Dalam upaya mengangkat cerita rakyat dan mitos daerah, Hermana menyusun kisah Munding Dongkol dalam bentuk musikal teater. Cerita ini diangkat menjadi latar belakang peristiwa kekinian dalam kehidupan masyarakat modern yang masih terikat tradisi dan kepercayaan lama.
Cerita disajikan dalam perpaduan tari, musik, dialog, dan pencak silat. Pertunjukan dibuka dengan tari ritual air sebagai simbol rasa syukur atas ketersediaan air sebagai sumber kehidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, serta sebagai penunjang pertanian agar hasil panen melimpah.
Namun seiring perkembangan zaman, kehidupan masyarakat berubah. Industri berkembang, jumlah penduduk meningkat, dan kebutuhan hunian bertambah. Budaya masyarakat desa pun mulai bergeser akibat pengaruh teknologi. Uang menjadi alat tukar utama dalam kehidupan.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat pemilik lahan tidak lagi tertarik menjadi petani. Mereka memilih menjual tanahnya kepada pengembang untuk dijadikan perumahan atau perkantoran.
Pengembang melalui perantara terus membujuk pemilik tanah dengan iming-iming keuntungan finansial. Banyak yang tergoda dan akhirnya menjual tanah warisan mereka.
Akibatnya, buruh tani kehilangan pekerjaan dan merantau ke kota. Kerbau sebagai alat bajak tidak lagi digunakan karena digantikan mesin traktor. Sumber mata air pun hilang akibat pembangunan, sehingga ketersediaan air bersih semakin berkurang.
Sungai-sungai tercemar limbah perumahan dan industri. Berbagai penyakit mulai menyerang masyarakat. Sebagian warga mengaitkan hal ini dengan Siluman Munding Dongkol. Bahkan, ada isu kehilangan anak yang dikaitkan dengan tumbal. Namun akhirnya diketahui bahwa korban meninggal akibat terpeleset dan tenggelam di sungai tercemar.
Pertunjukan musikal teater Munding Dongkol ini melibatkan sekitar 45 seniman muda dari bidang tari, teater, musik, dan pencak silat. Mereka merupakan gabungan komunitas seni Kota Cimahi seperti Jalingeur, Putri Mandiri, dan Kidang Kencana di bawah binaan DKKC. Komunitas Bandoengmooi bertindak sebagai penggagas pertunjukan dengan arahan dramaturg Hermana HMT, sutradara Hafidz Permana, koreografer Riska, Nia, dan Redja, penata musik Fitra, Adit, dan Oki, penata pencak silat Melodia dan Sisca, multimedia Syifa dan Ihval, serta penata panggung Naval dan Toha. Pertunjukan ini menjadi bukti konsistensi Komunitas Bandoengmooi Kota Cimahi dalam mengangkat budaya lokal ke panggung yang lebih luas.
Judul: Komunitas Bandoengmooi Kota Cimahi Gelar Musikal Teater Munding Dongkol di Festival Seni Jabar 2026
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah












