MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (15/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “HKTI “Jembatan” Pembangunan Pertanian dan Pembangunan Petani” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Dalam sebuah fokus grup diskusi (FGD) para sesepuh Himpunan Kefukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat yang membahas soal dunia pertanian di negeri ini muncul pertanyaan tentang perbedaan pembangunan pertanian dan pembangunan petani. Persoalan yang diangkatnya adalah apakah tujuan pembangunan pertanian akan bisa diraih berbarengan dengan tujuan dari pembangunan petani ?

Pembangunan pertanian adalah proses meningkatkan kemampuan dan kapasitas sektor pertanian untuk meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas hasil pertanian, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan. Pembangunan pertanian bertujuan untuk mencapai ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani, dan meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.
Pembangunan pertanian meliputi berbagai aspek, seperti: Pertama, peningkatan produksi. Meningkatkan produksi hasil pertanian melalui penggunaan teknologi modern, irigasi, dan penggunaan bibit unggul. Kedua, peningkatan produktivitas. Meningkatkan produktivitas lahan, tenaga kerja, dan modal melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien dan efektif.
Ketiga, peningkatan kualitas. Meningkatkan kualitas hasil pertanian melalui penggunaan teknologi pascapanen yang lebih baik dan standar kualitas yang lebih tinggi. Keempat, peningkatan pendapatan petani. Meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan harga jual hasil pertanian, peningkatan produksi, dan diversifikasi usaha pertanian.
Kelima, peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui peningkatan akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar. Keenam. Pengelolaan sumber daya alam. Mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah degradasi lahan. Ketujuh, pengembangan agribisnis. Mengembangkan agribisnis untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan meningkatkan kesempatan kerja di sektor pertanian.
Pembangunan pertanian dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti Revolusi Hijau. Meningkatkan produksi hasil pertanian melalui penggunaan teknologi modern dan input pertanian. Kemudian, Pertanian Berkelanjutan. Mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selanjutnya, Pertanian Organik. Mengembangkan pertanian organik untuk meningkatkan kualitas hasil pertanian dan menjaga keseimbangan lingkungan. Dan juga Agroindustri. Mengembangkan agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan meningkatkan kesempatan kerja di sektor pertanian.
Dalam konteks Indonesia, pembangunan pertanian merupakan salah satu prioritas nasional, karena sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang utama PDB (Produk Domestik Bruto) dan lapangan kerja bagi masyarakat pedesaan.
Lalu, bagaimana dengan pembangunan petani ? Pembangunan petani adalah proses meningkatkan kemampuan, kapasitas, dan kesejahteraan petani, serta meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka. Pembangunan petani bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup petani dan keluarganya, serta meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.
Pembangunan petani meliputi berbagai aspek, seperti peningkatan kemampuan. Meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola usaha pertanian, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Kemudian, peningkatan kapasitas. Meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usaha pertanian, termasuk akses ke sumber daya, modal, dan pasar.
Lalu, peningkatan pendapatan. Meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi, produktivitas, dan harga jual hasil pertanian. Bisa juga peningkatan kesejahteraan. Meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya, termasuk akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur dasar. Bahkan peningkatan partisipasi. Meningkatkan partisipasi petani dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya pertanian.
Pembangunan petani dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti: Pertama, pendidikan dan pelatihan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui pendidikan dan pelatihan. Kedua, akses ke sumber daya. Meningkatkan akses petani ke sumber daya, seperti lahan, air, dan modal.
Ketiga, teknologi pertanian. Meningkatkan penggunaan teknologi pertanian yang lebih efisien dan efektif. Keempat, pengorganisasian petani. Meningkatkan pengorganisasian petani untuk meningkatkan kekuatan tawar dan akses ke pasar. Kelima kemitraan. Meningkatkan kemitraan antara petani, pemerintah, dan swasta untuk meningkatkan pembangunan pertanian.
Dalam konteks Indonesia, pembangunan petani merupakan salah satu prioritas nasional, karena petani merupakan salah satu kelompok masyarakat yang paling rentan dan membutuhkan perhatian khusus. Pembangunan petani diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup petani dan keluarganya, serta meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional.
Beberapa contoh program pembangunan petani di Indonesia adalah:
– Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk meningkatkan akses petani ke modal.
– Program Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk meningkatkan pendapatan petani.
– Program Pendidikan dan Pelatihan Pertanian untuk meningkatkan kemampuan petani.
– Program Pengorganisasian Petani untuk meningkatkan kekuatan tawar petani.
Pembeda utama antara pembangunan pertanian dan pembangunan petani adalah fokus, sasaran dan tujuannya. Dalam Pembangunan Pertanian fokus utamanya meningkatkan produksi, produktivitas, dan kualitas hasil pertanian. Sasaran yang ingin dicapai meningkatkan kemampuan dan kapasitas sektor pertanian secara keseluruhan, termasuk infrastruktur, teknologi, dan sistem pertanian. Sedangkan tujuannya meningkatkan kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian nasional, meningkatkan ketahanan pangan, dan meningkatkan ekspor hasil pertanian.
Dalam Pembangunan Petani fokus meningkatkan kemampuan, kapasitas, dan kesejahteraan petani. Sasaran meningkatkan kualitas hidup petani dan keluarganya, serta meningkatkan pendapatan dan partisipasi petani dalam pengambilan keputusan. Dan tujuannya meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya, serta meningkatkan kontribusi petani terhadap pembangunan pertanian.
Dalam kata lain, pembangunan pertanian lebih fokus pada aspek teknis dan ekonomi pertanian, sedangkan pembangunan petani lebih fokus pada aspek sosial dan kesejahteraan petani. Pembangunan pertanian dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan “mesin” pertanian, sedangkan pembangunan petani dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan “pengemudi” mesin tersebut. Kedua upaya ini saling terkait dan penting untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Contoh pembangunan pertanian meningkatkan irigasi, penggunaan teknologi modern, dan pengembangan varietas unggul. Sedangkan pembangunan petani meningkatkan pendidikan dan pelatihan petani, meningkatkan akses ke kredit dan pasar, serta meningkatkan partisipasi petani dalam pengambilan keputusan.
HKTI sebagai organisasi petani tentu memiliki peran strategis dalam “menjembatani” kepentingan pembangunan pertanian dan pembangunan petani. HKTI perlu tampil sebagai “prine mover” pencapaian swasembada pangan sekaligus juga menjadi aktor penting dalam memakmurkan dan mensejahterakan petani di negeri ini.
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Mereka berfungsi sebagai wadah untuk menghimpun potensi petani, mengarahkan perjuangan petani, dan menjadi sarana penampung aspirasi petani.
Beberapa peran utama HKTI adalah: Pertama, pemberdayaan petani. HKTI membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani melalui pemberdayaan dan pendidikan. Kedua, jembatan dengan Pemerintah. HKTI menjadi jembatan antara petani dan pemerintah, membantu mengakses program-program pemerintah dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi petani, seperti kesulitan mendapatkan pupuk dan kartu tani.
Ketiga, pendampingan. HKTI memberikan pendampingan kepada petani untuk meningkatkan hasil produksi dan kualitas produk pertanian. Keempat, koordinasi dan komunikasi. HKTI membantu menghubungkan petani dengan dunia usaha, lembaga keuangan, dan komunitas untuk meningkatkan kesejahteraan petani.
Dengan demikian, HKTI berperan sebagai agen perubahan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memajukan sektor pertanian di Indonesia. Atas gambaran ini, jelas terungkap pembangunan pertanian memang beda dengan pembangunan petani, sekalipun diantara keduanya terdapat irisan yang cukup erat kaitan nya. Itu sebabnya, bila kita ingin mewujudkan swasembada pangan sekaligus dengan peningkatan kesejahteraan petaninya, maka kata kuncinya ada pada pembangunan pertanian dan pembangunan petani yang berkualitas. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: HKTI “Jembatan” Pembangunan Pertanian dan Pembangunan Petani
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












