Bappenas Sebagai Pusat Kekuatan Intelektual!

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (08/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Bappenas Sebagai Pusat Kekuatan Intelektual!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Sekitar 15 bulan lalu, pidato serah terima jabatan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dari Suharso Momoarfa ke Rachmat Pambudy, betul- betul menarik untuk diselami lebih dalam. Saat itu, Prof. Rachmat Pambudy menyatakan Bappenas merupakan pusat kekuatan intelektual yang menyusun, merancang dan merumuskan perencanaan pembangunan masa depan.

Pidatonya Kang Rachmat Pambudy ini mengingatkan penulis kepada peristiwa aksi mahasiswa tahun 1978 yang penuh dengan dinamika politik di negeri ini. Salah satu momen yang masih terngiang-ngiang di telinga adalah statemen seorang aktivis kampus yang mengumandangkan pernyataan “intelektual tanpa moral, sama saja dengan munafik”. Hal itu diucapkan dalam sebuah panggung Mimbar Bebas Mahasiswa.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Apa yang disampaikan Kang Rachmat Pambudy dengan apa yang disuarakan aktivis mahasiswa di Kampus Rakyat sekitar 48 tahun lalu tersebut, sepertinya ada “benang merah” yang saling terkait dan saling menguatkan. Sebagai pusat kekuatan intelektual, Bappenas wajib hukumnya diisi oleh orang-orang yang memiliki kualitas intelektual dan integritas moral yang dapat dibanggakan keberadaannya dalam membangun bangsa dan negara.

Itu sebabnya, dalam berbagai kesempatan Presiden Prabowo selalu menyatakan dan berpesan kepada para Menteri yang membantunya, untuk selalu mengedepankan jiwa ksatria dan membebaskan diri dari perbuatan yang tercela. Bersama Prabowo dalam membangun bangsa, dijamin halal 100 %, tidak ada celah sedikit pun untuk korupsi, khususnya yang berhubungan dengan korupsi APBN.

“Warning” Presiden Prabowo seperti ini, tentu penting unyuk dihayati oleh para pembantunya. Presiden ingin agar dalam 5 tahun kepemimpinannya, benar-benar mampu melahirkan Indonesia yang bebas korupsi. Hal ini akan terwujud, jika pemimpin bangsa mampu mempertontonkan perilaku yang terpuji. Proses ikan busuk selalu diawali dari kepalanya, bukan ekornya.

Komitmen Presiden Prabowo untuk mewujudkan Pemerintahan yang bebas korupsi ini, tentu patut didukung dengan sepenuh hati. Masyarakat bukan hanya sekedar memberi acungan jempol, namun yang lebih penting lagi adalah memposisikan diri sebagai “reminder” bagi Pemerintah sekiranya terekam ada indikasi korupsi dan sejenisnya. Bahkan Presiden telah meminta Menteri-Menterinya untuk mencopot bawahannya, jika terekam ada perilaku yang tidak senafas dengan komitmen Presiden diatas.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah mencopot banyak pejabat di Kementerian yang dipimpinnya, karena terbukti melakukan praktek korupsi. Langkah ini diharapkan dapat ditempuh oleh Menteri-Menteri lain, yang memang ingin mendukung komitmen Presiden Prabowo dalam menjalankan pemerintahannya. Betapa indahnya hidup di Tanah Merdeka, bila negeri ini betul-betul bebas korupsi.

Menjadi pemimpin bangsa, memang harus teruji, baik kekuatan intelektualitas atau pun moralitasnya. Sekalipun para Menteri banyak yang diusulkan partai politik, namun keputusan akhirnya tetap berada ditangan Presiden melalui hak prerogatifnya. Itu sebabnya, Presiden tetap ikut bertanggung-jawab jika terekam ada kiprah para pembantunya, yang nyeleneh dan mengecewakan rakyat.

Atas hal demikian, kita percaya Presiden Prabowo tidak akan ragu untuk mencopot Menteri-Menterinya, yang dalam praktek kesehariannya tidak sejalan dengan komitmen sebagaimana ditetapkan Presiden. Ini penting, karena kalau Presiden sudah meminta Menteri-Menteri mencopot bawahannya yang terlibat praktek korupsi, maka tidak sulit bagi Presiden untuk mengganti pembantunya yang korupsi.

Selama Pemerintahan sebelum-sebelumnya, sudah banyak Menteri yang dicopot dari jabatannya, karena terindikasi dan terbukti melakuksn korupsi atau gratifikasi. Banyak pula Menteri yang dijebloskan ke dalam bui dan menjadi penghuni hotel prodeo. Mereka ada yang tertangkap karena Operasi Tangkap Tangan (OTT), tapi ada juga yang ditangkap karena kejahatan administrasinya.

Kita berharap agar para Menteri yang tergabung dalam Kabinet Merah Putih bentukan Presiden Prabowo ini, tidak akan ada seorang pun yang terlibat dalam praktek korupsi dan sejenisnya. Kita percaya Menteri-Menteri yang umumnya memiliki kekuatan intelektualitas cukup tinggi ini akan dibarengi pula dengan tingginya kekuatan moralitasnya. Mereka pasti paham, intelektual tanpa moral sama saja dengan munafik !

Omong kosong suatu bangsa akan mampu mewujudkan cita-cita nasionalnya, tanpa ditopang oleh kaum intelektusl dan cendekia. Catatan kritisnya adalah intelektual seperti apa yang kita harapkan mampu membawa Tanah Merdeka ini ke kehidupan yang senafas dengan tujuan nasionalnya?. Jawabannya tegas, mereka adalah intelektual yang memiliki kadar moral yang dibanggakan.

Membangun bangsa dan negara, jelas bukan hanya membangun fisik material, namun juga moral spiritual nya. Keseimbangan diantara keduanya, sangat dibutuhkan. Inilah salah satu pertimbangan, mengapa bangsa ini butuh para pemimpin, yang dapat menjadi suri teladan dan panutan dalam menerapkan perilaku kesehariannya. Mereka yang mampu membuat SATU antara tutur kata dan perbuatannya.

Jujur diakui, tidak mudah mengukur kadar moral seseorang. Beda dengan ukuran intelektual yang umumnya dapat dilihat dari jenjang akademik yang dilaluinya. Seseorang, tercatat memiliki gelar Profesor, mestinya memiliki banyak kelebihan dari sisi intelektualitasnya, ketimbang mereka yang bukan Profesor. Pernyataan ini tentu tidak berlaku bagi Profesor abal-abal, yang saat ini sedang hangat diguncingkan.

Akhirnya, kita percaya, mareka yang akan membantu Kang Rachmat Pambudy di Bappenas adalah sekumpulan anak bangsa yang teruji kadar intelektualitasnya, sekaligus dengan kadar moralitasya. Hanya perlu diingatkan, jangan sampai sebagai pusat kekuatan intelektual, Bappenas dipenuhi oleh kaum intelektual yang rendah kadar moralitasnya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Bappenas Sebagai Pusat Kekuatan Intelektual!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *