Tawa yang Menghapus Trauma di Pondok Pesantren Daarut Tahfidz

Artikel ini ditulis oleh: Romli Burhani

Salah satu program WIZSCARE 2.0 yang dilaksanakan oleh Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung - (Sumber: Romli Burhani)
Salah satu program WIZSCARE 2.0 yang dilaksanakan oleh Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung - (Sumber: Romli Burhani)

MAJMUSSUNDA NEWS, Kolom ARTIKEL/OPINI, Jumat (17/07/2026) – Tidak ada yang lebih menenangkan daripada mendengar tawa anak-anak setelah mereka melewati masa-masa penuh ketakutan. Pemandangan itulah yang terlihat di Pondok Pesantren Daarut Tahfidz, Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (15/7/2026).

Beberapa bulan lalu, kawasan ini sempat dihantam bencana longsor yang meninggalkan luka. Bukan hanya bangunan dan lingkungan sekitar yang mengalami kerusakan, tetapi juga di hati para santri. Kini, perlahan-lahan senyum mereka kembali merekah.

Di bawah rindangnya pepohonan dengan udara pegunungan yang sejuk, para santri bermain bersama, mengikuti berbagai permainan edukatif, berbagi cerita, hingga sesekali tertawa lepas. Bagi orang lain, mungkin itu hanya aktivitas biasa. Namun, bagi mereka yang pernah dihantui rasa takut setiap kali hujan turun, tawa itu memiliki arti yang jauh lebih besar: tanda bahwa harapan mulai tumbuh kembali.

Harapan tersebut dihadirkan melalui WIZSCARE 2.0, program kemanusiaan yang digelar Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung. Kegiatan ini bukan sekadar menghadirkan hiburan sesaat, tetapi menjadi bagian dari proses pemulihan bagi anak-anak yang terdampak bencana.

Foto bersama tim trauma healing Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung - (Sumber: Romli Burhani)
Foto bersama tim trauma healing Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung – (Sumber: Romli Burhani)

Luka yang Tak Selalu Terlihat

Setelah bencana berlalu, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada rumah yang rusak, jalan yang terputus, atau fasilitas umum yang perlu diperbaiki. Padahal, ada luka lain yang sering luput dari perhatian, yaitu trauma psikologis.

Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut. Ketakutan ketika mendengar suara hujan, kecemasan menghadapi kemungkinan longsor susulan, hingga hilangnya rasa percaya diri dapat terus membekas jika tidak ditangani dengan baik.

Karena itulah, WIZSCARE 2.0 menghadirkan sesi trauma healing yang dipandu tenaga profesional. Pendekatannya dibuat sederhana dan menyenangkan. Anak-anak diajak bermain, berdiskusi, bernyanyi, dan mengikuti berbagai aktivitas yang mampu mengembalikan rasa aman dalam diri mereka.

Gelak tawa yang memenuhi halaman pesantren hari itu menjadi pertanda bahwa proses penyembuhan sedang berlangsung.

Bangkit Bukan Sekadar Membangun Kembali

Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya memperbaiki bangunan yang rusak. Justru hal yang jauh lebih penting adalah membantu manusia yang mengalaminya agar kembali memiliki semangat menjalani kehidupan.

Melalui sesi motivasi, para santri diajak memahami bahwa setiap ujian selalu menyimpan pelajaran. Mereka didorong untuk tetap belajar, beribadah, menjaga persaudaraan, dan tidak kehilangan harapan terhadap masa depan.

Kegiatan trauma healing yang digelar Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung pada Rabu, 15 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daarut Tahfidz - (Sumber: Romli Burhani)
Kegiatan trauma healing yang digelar Wizstren Jawa Barat bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung pada Rabu, 15 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daarut Tahfidz – (Sumber: Romli Burhani)

Pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar seseorang sering kali lahir setelah melewati masa-masa sulit.

Selain memberikan pendampingan psikologis, kegiatan ini juga mengajak para santri lebih peduli terhadap kesehatan.

Tim dari IIDI Cabang Bandung memberikan edukasi mengenai Tuberkulosis (TB), mulai dari penyebab, cara penularan, gejala, hingga langkah pencegahannya melalui pola hidup bersih dan sehat. Para santri juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis.

Upaya ini menunjukkan bahwa membangun ketahanan masyarakat bukan hanya soal bantuan ketika bencana datang, tetapi juga memastikan kualitas kesehatan tetap terjaga setelahnya.

Hadiah yang Akan Terus Mengalir Manfaatnya

Ada satu momen yang paling membekas dalam kegiatan tersebut. Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung menyerahkan wakaf pembangunan sumur bor senilai Rp 66,5 juta untuk Pondok Pesantren Daarut Tahfidz.

Bantuan ini bukan sekadar simbol kepedulian. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang setiap hari digunakan para santri untuk beribadah, memasak, mandi, mencuci, hingga menjaga kebersihan lingkungan pesantren.

Ketua IIDI Cabang Bandung, Lia Dahliana, S.H., mengatakan bahwa kepedulian terhadap masyarakat seharusnya tidak berhenti ketika bencana selesai diberitakan.

Foto bersama Tim Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung di depan Pondok Pesantren Daarut Tahfidz, Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat - (Sumber: Romli Burhani)
Foto bersama Tim Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Bandung di depan Pondok Pesantren Daarut Tahfidz, Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat – (Sumber: Romli Burhani)

“Alhamdulillah kami dapat bekerja sama dengan Wizstren Jawa Barat dalam kegiatan WIZSCARE 2.0 untuk membantu anak-anak terdampak bencana. Selain trauma healing, kami juga menyerahkan wakaf pembangunan sumur bor senilai Rp66,5 juta. Semoga bantuan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Lia Dahliana.

Kolaborasi yang Melahirkan Harapan

Kegiatan ini juga melibatkan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Barat, Majelis Ta’lim Mutiara Hati, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat.

Kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana adalah tanggung jawab bersama. Ketika berbagai elemen masyarakat bergandengan tangan, manfaat yang dihasilkan akan jauh lebih besar daripada jika bekerja sendiri-sendiri.

Bagi Wizstren Jawa Barat, WIZSCARE 2.0 menjadi wujud nyata bahwa dana wakaf, zakat, infak, dan sedekah tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan, tetapi benar-benar diwujudkan menjadi program yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Karena Harapan Selalu Bisa Tumbuh Kembali

Menjelang siang, satu per satu tamu meninggalkan kawasan Pondok Pesantren Daarut Tahfidz. Kegiatan telah usai, tetapi semangat yang ditinggalkan masih terasa. Hal yang tersisa bukan hanya foto bersama atau dokumentasi acara, tetapi tawa anak-anak yang kembali terdengar, rasa percaya diri yang mulai tumbuh, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi cobaan.

Bencana memang dapat merobohkan bangunan. Namun kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong mampu membangun kembali harapan.

Terkadang, harapan itu hadir dalam bentuk yang sederhana: sebuah permainan, pelukan hangat, senyum seorang relawan, atau setetes air bersih yang akan terus mengalir dari sebuah sumur wakaf selama bertahun-tahun mendatang.

***

Judul: Tawa yang Menghapus Trauma di Pondok Pesantren Daarut Tahfidz
Jurnalis: Romli Burhani
Editor: Jumari Haryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *