Tangga Yang Harus Berani Ditinggalkan

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Selasa (22/09/2026) – Kita sering mengira kehidupan adalah proses menaiki tangga. Satu pencapaian membuka anak tangga berikutnya, satu pengakuan mengundang pengakuan yang lebih tinggi. Kita pun terbiasa memandang ketinggian sebagai ukuran keberhasilan, seolah semakin tinggi kaki berpijak, semakin dekat pula kita kepada kebenaran. Padahal, Karl Popper mengingatkan bahwa pengetahuan manusia tidak pernah mencapai titik akhir. Apa yang hari ini kita yakini benar harus tetap bersedia diuji, dikritik, bahkan ditinggalkan ketika ditemukan alasan yang lebih kuat. Barangkali karena itu, tangga pengetahuan bukan sekadar jalan untuk naik, tetapi juga tempat untuk belajar bahwa semakin tinggi kita memandang, semakin luas pula cakrawala yang belum kita mengerti.

Kehidupan intelek bukan kehidupan yang semakin kukuh mempertahankan kebenaran milik sendiri, melainkan kehidupan yang semakin lapang menerima kemungkinan bahwa diri sendiri dapat keliru. Kritik bukan batu yang dilemparkan untuk meruntuhkan, tetapi cermin yang membantu kita melihat bagian diri yang belum tampak. Kesalahan bukan selalu tanda kegagalan, karena dari sanalah koreksi menemukan pintunya. Yang tumbuh dalam diri seorang intelek bukan hanya jumlah pengetahuan, melainkan keberanian untuk terus membongkar keyakinan yang sudah telanjur nyaman, lalu menyusunnya kembali dengan kerendahan hati.

Di sini kehidupan akademik dan kehidupan intelek perlu dibedakan. Kehidupan akademik memiliki institusi, aturan, jenjang, gelar, karya, jabatan dan berbagai ukuran yang diperlukan agar dunia pengetahuan dapat bekerja. Semua itu memiliki tempatnya sendiri. Namun kehidupan intelek tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan ruang akademik, ketika jabatan selesai, atau ketika pengakuan mulai berjarak. Akademik dapat menjadi profesi, sedangkan intelek adalah cara berada di hadapan pengetahuan dan kebenaran. Ia tidak mengenakan toga sepanjang hidup, tetapi membawa rasa ingin tahu ke mana pun kaki melangkah.

Ada pula kegelisahan yang tumbuh ketika perjalanan intelektual bersentuhan dengan dinamika kehidupan akademik. Lingkungan yang semestinya menjadi taman tempat rasa ingin tahu tumbuh, keberanian berpikir bersemi, dan ketekunan mencari kebenaran menemukan ruangnya, dalam perjalanannya kadang lebih banyak disibukkan oleh ukuran administratif, simbol pencapaian, dan berbagai bentuk pengakuan yang belum selalu berbanding lurus dengan kedalaman ilmu. Dari sana tumbuh sebuah pertanyaan yang tidak perlu disuarakan dengan keras. Apakah tangga yang selama ini kita naiki masih benar-benar membawa kita menuju kehidupan intelek yang kita cita-citakan, atau kita sekadar terlalu sibuk menghitung anak tangga hingga lupa melihat arah perjalanan?

Ada saat ketika seseorang perlu berhenti di atas tangga yang telah dinaikinya. Bukan untuk menghitung berapa banyak anak tangga yang berhasil dilewati, melainkan untuk memandang sejenak ke arah yang dituju. Apa yang dahulu dianggap penting, apakah masih penting? Apa yang dahulu dikejar, apakah masih layak dikejar? Dan apakah semua yang telah dicapai benar-benar membawa kita semakin dekat kepada diri yang hendak kita kenali? Sebab tidak setiap tangga harus dinaiki sampai puncaknya. Ada tangga yang memang mengantarkan kita ke tempat tertentu, tetapi ada pula tangga yang perlu ditinggalkan agar perjalanan menemukan arah yang baru.

Pada suatu titik, gelar, jabatan, penghargaan, reputasi, bahkan gambaran tentang diri yang dibangun selama puluhan tahun, perlu diletakkan sebagai bagian dari perjalanan, bukan keseluruhan makna perjalanan. Semua itu pernah penting, tetapi tidak harus menjadi rumah bagi kesadaran. Kebebasan intelektual juga berarti memiliki keberanian untuk melepaskan sesuatu yang pernah diperjuangkan, ketika hati dan akal telah menemukan bahwa ia tidak lagi membawa kita kepada makna yang dicari. Ada perjalanan yang arahnya bukan lagi ke atas, melainkan ke dalam. Dan sering kali, perjalanan ke dalam justru membuat pandangan terhadap dunia menjadi lebih jernih.

Ilmu pun tidak berhenti pada mengetahui. Ia dapat bergerak perlahan menuju hikmah, ketika pengetahuan mulai mengubah cara kita memandang kehidupan. Semakin banyak yang diketahui, semakin terasa luas wilayah yang belum tersentuh. Semakin dalam berpikir, semakin rendah hati di hadapan keluasan pengetahuan yang melampaui jangkauan manusia. Pada tahap itu, ilmu tidak lagi menjadi tangga untuk meninggikan diri, melainkan jendela untuk melihat betapa kecilnya diri di hadapan keluasan ciptaan dan kebesaran Yang Maha Mengetahui. Pengetahuan yang matang bukan hanya membuat kita pandai menjawab, tetapi juga mengajarkan kapan harus menundukkan kepala.

Maka kita tidak hanya perlu mengoreksi teori tentang dunia, tetapi juga berani mengoreksi teori tentang diri sendiri. Keyakinan tentang siapa kita, tentang apa yang telah kita capai, bahkan tentang seberapa penting keberadaan kita, semuanya perlu terbuka terhadap koreksi. Pertanyaan yang perlahan menjadi penting bukan lagi seberapa tinggi kita telah naik, melainkan ke mana seluruh perjalanan ini membawa kita. Ilmu tetap dicintai. Membaca tetap dilakukan. Berpikir tetap dijalankan. Menulis tetap diteruskan. Hanya saja semuanya tidak lagi harus menjadi pembuktian tentang siapa diri kita. Semakin luas pengetahuan, semakin rendah hati. Semakin banyak pencapaian, semakin ringan menggenggamnya. Semakin sering mengoreksi dunia, semakin berani mengoreksi diri. Dan semakin jauh perjalanan intelek, semoga semakin dekat pula kesadaran kepada Yang Maha Mengetahui. Sebab ada saat ketika manusia tidak lagi sibuk menjadi seseorang. Ia hanya ingin belajar menjadi hamba.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Tangga Yang Harus Berani Ditinggalkan
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *