MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (12/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Susahnya Menurunkan Harga Beras!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Pertanyaan tentang melejitnya harga beras di pasar padahal produksi beras secara nasional berlimpah, sempat mengundang diskusi yang cukup hangat. Banyak pihak meragukan data tentang produksi beras yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, kalau produksi memang berlimpah, mestinya harga tidak akan melesat naik. Sebaliknya, jika produksi sedikit, wajar kalau harganya naik.

Pemerintah tampak cukup kesulitan menurunkan harga beras, karenq beberapa faktor yang kompleks dan saling terkait. Bebagai alasannya antara lain pertama, keterbatasan pasokan. Keterbatasan pasokan beras dapat menyebabkan harga meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti produksi yang tidak stabil, gangguan cuaca, atau masalah distribusi.
Kedua, ketergantungan pada impor. Indonesia masih mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ketergantungan pada impor dapat membuat harga beras lebih rentan terhadap fluktuasi harga global.
Ketiga, biaya produksi. Biaya produksi beras yang tinggi dapat membuat harga jual beras menjadi lebih mahal. Biaya produksi yang tinggi dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti harga pupuk, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya.
Keempat, distribusi yang tidak efektif. Distribusi beras yang tidak efektif dapat menyebabkan harga beras menjadi lebih mahal di daerah-daerah tertentu. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti infrastruktur yang tidak memadai, biaya transportasi yang tinggi, atau masalah logistik.
Kelima, kebijakan yang belum efektif. Kebijakan pemerintah untuk mengendalikan harga beras mungkin belum efektif dalam menekan harga beras. Pemerintah perlu melakukan evaluasi dan perbaikan kebijakan untuk meningkatkan efektivitasnya ¹. Dalam mengatasi masalah ini, pemerintah perlu melakukan upaya yang komprehensif dan terintegrasi, termasuk meningkatkan produksi beras dalam negeri, memperbaiki distribusi, dan mengembangkan kebijakan yang efektif untuk mengendalikan harga beras.
Di sisi lain, ada keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dimana dalam beberapa waktu ke depan harga beras dipasaran bakal turun. Mentan Amran menyatakan Pemerintah kini tengah menggelar operasi pasar besar-besaran untuk menstabilkan harga. Pemerintah ingin agar harga beras kembali ke tingkat yang wajar.
Operasi pasar dapat menjadi salah satu cara untuk menstabilkan harga beras, namun efektivitasnya masih perlu dipertanyakan. Pemerintah telah menyiapkan 1,3 juta ton beras untuk operasi pasar hingga akhir tahun dan telah melakukan beberapa upaya seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Bulog.
Beberapa alasan yang menunjukkan operasi pasar dapat efektif adalah pertama penurunan harga. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa operasi pasar telah memberi dampak terhadap penurunan harga beras di tingkat konsumen, bahkan beras berkualitas baik dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET). Kedua, stabilisasi pasokan. Operasi pasar dapat membantu menstabilkan pasokan beras di pasar, sehingga harga tidak melonjak tinggi.
Namun, beberapa ekonom masih mempertanyakan apakah operasi pasar dan bansos beras bisa menyentuh langsung konsumen rumah tangga yang paling terdampak, karena distribusi bantuan sering kali tidak merata dan proses penyalurannya acap kali menemui kendala birokrasi di tingkat daerah.
Dalam jangka panjang, pemerintah juga perlu memperhatikan kebijakan pangan nasional untuk meningkatkan produksi beras dan mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan demikian, harga beras dapat stabil dan masyarakat dapat memiliki akses yang lebih mudah terhadap pangan pokok.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebut kenaikan beras itu terjadi di tingkat penggilingan. Rata-rata harga beras di penggilingan naik 2,71 persen secara bulan ke bulan (mtm) dan 4,14 persen secara tahun ke tahun (yoy).
Jika kita pilah menurut kualitas beras di penggilingan, maka (rata-rata harga) beras premium naik 1,93 persen secara mtm dan naik 2,14 persen secara yoy. Sedangkan beras medium naik 3,07 persen secara mtm dan naik 5,96 persen secara yoy. Berdasarkan data yang dicatat BPS, harga beras di penggilingan terpantau naik dari Rp12.994 per kilogram (kg) menjadi Rp13.346 per kg.
Disodorkan pada berbagai hal yang dipaparkan diatas, Pemerintah telah melakukan beberapa upaya untuk menstabilkan harga beras, seperti memperpanjang relaksasi Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras dan melakukan operasi pasar. Namun, masih diperlukan strategi yang lebih efektif untuk mengatasi permasalahan perberasan nasional.
Pertanyaan kritisnya adalah apakah dengan membaca peta masalah yang digambarkan diatas, rasa optimis Mentan Amran soal menurunnya harga beras di pasaran, akan betul-betul dapat diwujudkan dalam tempo yang segera ? Atau tidak, dimana problem harga beras di saat ini, memang butuh penanganan yang lebih cerdas dan profesionsl.
Yang jelas, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berharap harga beras dapat turun dalam 1-2 minggu ke depan seiring dengan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebanyak 1,3 juta ton di seluruh Indonesia secara bertahap. Mentan Amran yakin bahwa operasi pasar besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah dapat membantu menurunkan harga beras.
Dalam pernyataannya, Mentan Amran juga menekankan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan menindak tegas pengusaha ataupun produsen yang terbukti melakukan kecurangan. Ia juga mengajak para pengusaha beras untuk menjalankan bisnis yang tidak merugikan masyarakat dan mematuhi aturan yang berlaku.
Semoga jadi percik permenungan bersama.
***
Judul: Susahnya Menurunkan Harga Beras!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












