MajmusSunda News – Bandung, Kamis (26/02/2026) – STI Sukses Pergelarkan “Karsa Rekacipta Indrawati Lukman” di De Majestic Braga untuk membuktikan komitmennya selama 58 tahun melestarikan Tari Sunda. Studio Tari Indra (STI) kembali mempersembahkan pagelaran tari yang berlangsung pada Sabtu, 14 Februari 2026 di Gedung Majestic, Jl. Braga No. 1 Kota Bandung, mulai pukul 15.30–17.30 WIB.
Sekitar 300-an penonton lebih memenuhi gedung pertunjukan bekas gedong bioskop elit bernuansa art deco di Kota Bandung itu. Hingga banyak yang tidak kebagian kursi, mereka terpaksa duduk di lantai atau naik ke balkon.

STI Sukses Pergelarkan Karya Indrawati Lukman di De Majestic
Dalam pagelaran bertajuk “Karsa Rekacipta Indrawati Lukman” tersebut, sejumlah tokoh penting hadir menyaksikan pertunjukan. STI Sukses Pergelarkan karya maestro dengan menghadirkan Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., Dr. Atalia Praratya, S.IP., M.I.Kom. (Ibu Cinta) – Anggota DPR RI, Prof. Dr. Endang Tjaturwati (Guru Besar Tari ISBI), Dr. Eti RS (Sastrawati Sunda), Andrew Boucahrd (Pengamat Seni Tradisi dari Santa Cruz, California, USA), Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Pengurus Daerah Jawa Barat, Leon Hanafi bersama 20 pengurus INTI, Surya Disastra, penyair dan sastrawan China & aktivis Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP), serta tamu undangan lainnya. Semuanya tidak beringsut dari tempat duduknya hingga pagelaran berakhir.
Kadisbudpar Kota Bandung, Ir. Adi Junjunan Mustafa, M.Sc., pun sangat mengapresiasi terhadap semangat dan kecintaan luar biasa Sang Maestro berusia 82 tahun ini dalam memajukan seni tari tradisional Sunda. Hingga Adi berkelakar menyebut usia Indrawati itu 28, bukan 82 tahun. Oleh karena itu, tentu saja kata Adi, Pemerintah Kota Bandung sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bu Indra dan pihaknya sudah menghubungkan STI dengan industri pariwisata Kota Bandung dan berkonsultasi dengan Wali Kota Muhammad Farhan untuk diberi fasilitas dan izin mempergelarkan tari tradisi Sunda di hadapan para wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Kota Bandung.

“Mohon doa dan dukungan dari Bapak/Ibu sekalian. Kita wujudkan, kita jayakan seni tari Sunda tradisional di Kota Bandung. Ini sudah saya sampaikan langsung ke Pak Wali Kota, kita ingin ada pertunjukan selain di Majestic dan Wali Kota sangat terbuka, mempersilakan Pendopo dijadikan tempat pertunjukan seni tari,” katanya serius.
Sementara Ibu Cinta, Atalia Praratya, menyoroti gigihnya perjuangan seorang perempuan dalam menjaga keberlangsungan sesuatu yang harus dijaga dan sangat berharga yang diamanatkan leluhur Sunda.
“Saya saksikan bagaimana konsistensi seorang wanoja/perempuan mampu menggerakkan sesuatu yang harus mengalir sampai kapan pun. Kita satu masa akan hilang, tapi jejak kita akan tetap hadir di tengah-tengah masyarakat, dan saya berharap Bu Indrawati Lukman ini akan terus menggelorakan semangat kita mencintai budaya, dan akan memberi kemanfaatan dan kebahagiaan bagi kita semua. Kita bersama harus bersemangat untuk budaya. Mari kita menjadi warga yang cinta budaya sendiri,” ajaknya.
Dalam pagelaran tersebut kebetulan disajikan pula Fragmen Tari (Sendratari) “Senjakala Cinta Jayengrana” yang disutradarai Dosen Teater ISBI Bandung, Irwan Jamal. Kata Prof. Arthur S. Nalan (Guru Besar Sosiologi Seni ISBI Bandung), cerita ini merupakan sempalan cerita dari Serat Menak Cina, gubahan Raden Ngabehi Yasadipura, pujangga ternama dari Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada abad ke-18 (1729–1803). Sebuah cerita petualangan cinta antara Jayengrana dengan Dewi Adaninggar, seorang putri dari negeri tirai bambu. Kebetulan waktunya bersamaan dengan Imlek (hari ke-15) dalam budaya Tionghoa. Jadi sekalian saja pihak STI mengundang komunitas Tionghoa.

Kebetulan yang hadir ketuanya langsung, Leon Hanafi, Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Pengurus Daerah Jawa Barat, beserta 20 urang rombongannya. Leon mengatakan bahwa pihaknya juga peduli kepada budaya daerah. Malah sudah dua kali mengadakan Seminar Ketahanan Budaya Sunda. Jadi kehadirannya bersama teman-temannya saat itu merupakan salah satu kegiatan untuk mendukung seni-budaya Sunda, dalam hal ini Maestro tari Sunda Indrawati Lukman.
“Jadi ini adalah suatu ekspresi betapa indahnya budaya daerah, terutama budaya Sunda. Tadi juga ada selingan sendratari Putri Tiongkok dan Pangeran Jayengrana itu kan legenda yang pagelarannya waktunya dekat dengan Imlek. Memang budaya itu tidak ada batas. Jadi budaya yang paling indah itu adalah budaya yang saling menghargai dan saling memiliki,” ungkapnya, sambil mengabarkan kemungkinan kerja sama INTI dengan STI menggelar pagelaran yang lebih besar lagi (kolosal) sekitar 17 Agustus, Oktober atau November 2026 di tempat berbeda. “Ya karena ini adalah suatu pagelaran Tari Sunda yang harus kita kembangkan dan lebih dilestarikan,” tegas Leon.

Sependapat hal itu, Surya Disastra, penyair dan sastrawan China, aktivis Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) yang juga anggota INTI, sangat mengapresiasi pagelaran ini.
“Ini luar biasa, bisa berkembang sampai saat ini. Sebuah pementasan yang luar biasa dan jarang, tariannya sangat dinamis, bervariasi, klasik dengan modern dipadukan, itu hebat koreonya, Bu Indra ini memang luar biasa,” puji penyair yang sering menterjemahkan sajak-sajak China ke dalam sajak Sunda dan sebaliknya ini.
Pujian juga datang dari sastrawati Sunda Dr. Etty RS, “Pokona mah pagelaran Ceu Indra mah, pasti Eceu mah hayang nongton. Sabab kahijina Ceu Indra mah Maestro, kaduana Ceu Indrana pasti kaul ngiring ngibing, katilu pintonan tarina pasti sae, perfeksionis (sempurna), kitu deui tina kostum, pangrawit/Nayaga sareng pagelaranna direka-reka kalayan apik, rapih. Mugia Ceu Indra sehat teras sing panjang yuswa pan tos sepuh nya, kedah aya nu neraskeun, kedah aya maestro-maestro deui,” katanya serius.
Apresiasi juga datang dari warga Santa Cruz, California, Amerika Serikat, Andrew Boucahrd, “Senang sekali melihat hasil perjuangan Ceu Indra yang tiada hentinya mengembangkan dan melestarikan Seni Sunda agar terus hidup dan ada generasi penerusnya,” pujinya tulus. Makanya kata dia, Bu Indra harus terus didukung, biar terus bersemangat dan terus bisa mengajar. Kalau orang tuanya semangat kan anaknya juga ikut semangat. Musisi dan pengamat seni yang akrab dipanggil Andy ini pernah mengambil Program Dharma Siswa di Jurusan/Prodi Karawitan ISBI Bandung. Andy sekarang sudah bisa memainkan hampir seluruh jenis alat musik Sunda.
Demikian juga apresiasi dari generasi muda. Regina Putri yang datang bersama teman-temannya mahasiswa Prodi Tari Angkatan 2025 (Semester 2) ISBI Bandung.
“Saya tahu Bu Indra karena memang beliau seorang Maestro Tari terkenal, jadi selain ditugaskan oleh kampus, saya juga ingin menonton pertunjukannya, dan saya sangat terkesan dan terinspirasi serta bersemangat untuk melanjutkannya,” kata Regina.

Mendengar begitu banyak pujian, Indrawati Lukman mengatakan bahwa semua ini berkat para pendukung dan pemusik, karena tanpa dukungan talen-talen dan iringan musik, apa jadinya sebuah pagelaran tari. Ia menegaskan bahwa momentum ini membuktikan STI Sukses Pergelarkan karya-karya terbaik yang mempertemukan tradisi dan semangat zaman.
“Pagelaran ini kami laksanakan karena rasa kecintaan kami pada Tari Klasik dan Kreasi Baru, agar generasi muda mencintai dan melestarikan Tari Sunda. Kedua, semua ini takkan terlaksana apabila tidak ada dukungan dari pejabat di lingkungan kebudayaan, dan para sponsor yang sangat saya banggakan,” kata Indrawati haru, sambil mengatakan kemungkinan besar ke depan akan berkolaborasi dengan pihak INTI mengadakan pagelaran tari kolosal.
Kali ini, dalam Milangkalana ke-58 STI menyuguhkan ragam tari kreasi khas STI, garapan kreasi Indrawati bersama para penata tari yang mumpuni, Fier, Daeng, Rachel, Datam, Dedev, Edo, dan Deri. Momentum ini kembali menegaskan bahwa STI Sukses Pergelarkan pertunjukan yang bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan dalam pelestarian seni tari Sunda.
Tarian yang melibatkan mahasiswa ISBI Bandung dan siswa SMA ini menampilkan tarian kreasi baru karya Indrawati Lukman mulai dari tahun 1951/1952, 1969, 1970, hingga 2026. Digarap dalam kemasan pendek (trailer) singkat, medley, diambil intisarinya saja, tetapi berkualitas hingga enak ditonton dan tidak membosankan. Satu bagian terdiri dari enam tarian, rata-rata ditampilkan dalam 20 menit, kecuali tarian anak 10 menit. Jadi pagelaran tari dua babak ini ditambah sempalan drama tari memakan waktu 1,5 jam (satu setengah jam), totalnya 2 jam dengan sambutan-sambutan.
Selain tarian lepas, dalam pagelaran kali ini pun STI menyelipkan Fragmen Tari (Sendratari) “Senjakala Cinta Jayengrana”, sempalan cerita dari Serat Menak Cina, gubahan Raden Ngabehi Yasadipura, pujangga ternama dari Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada abad ke-18 (1729–1803).

Selain disuguhi sendratari yang apik, teatrikal dan dihiasi tata musik dan lampu serta balutan estetis tekno, para penonton terutama orang tua juga terlihat merasa haru-biru, bangga dan merasa lucu dengan ditampilkannya tarian khusus anak-anak, permainan bambu Keprak-kepruk, Tari Ayam, dan Moyeg. Hal ini memang lahir dari rasa keprihatinan Sang Maestro atas hilangnya tarian khusus untuk anak-anak. “Saya prihatin kalau anak-anak disuruh jaipong (tari remaja, dewasa, red.), makanya saya mencoba membuat Tari Ayam, permainan dengan bambu dan Moyeg (igel-igelan) yang selaras dengan alam mereka, pengganti Jaipong,” kata Indrawati.
Selain itu, Indrawati yang kini berusia 82 tahun pun masih luwes dan enerjik menarikan “Sekar Malela”, tarian baru ciptaannya yang menggambarkan kegagahan perempuan dari cerita Panji Malela. Hal itu untuk memenuhi permintaan murid-muridnya terutama dari luar Bandung yang akan datang ingin menyaksikan Sang Maestro menari.
Tarian yang dipergelarkan, selengkapnya: Tari Ponggawa, Tari Sulintang (1951/1952), Tari Rinekadewi (1971), Tari Batik (1969), Tari Topeng Sasikirana (2022), Tari Lagean Tabuhan (2007), Tari Ayam, Keprak-Kepruk, Moyeg, Tari Wiragajati (2018), Tari Gentra Pinutri (1989), Tari Sekar Malela (2026), Tari Belibis (2003), serta Fragmen Tari (Sendratari) “Senjakala Cinta Jayengrana” (2026).
Judul: STI Sukses Pergelarkan “Karsa Rekacipta Indrawati Lukman” di De Majestic Braga
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah












