MajmusSunda News, Sabtu (02/05/2026) – Dalam memperingati HARDIKNAS ( Hari Pendidikan Nasional ) Tahun 2026, yang perlu kita telaah bukanlah makna dari Semboyan Semboyan yang ditampilkan, tapi hasilnya kadangkala tidak seirama dengan kenyataan di lapangan, mengkaji perkembangan dan hambatan perilaku Anak didik, Guru, Pengajar, Masyarakat serta Pembuat Kebijakan Pendidikan, yang berdampak dalam setup lingkungan, Organisasi ataupun Lembaga Pendidikan itu sendiri.
Observasi terhadap perkembangan anak didik, remaja serta generasi muda, yang menunjukkan perilaku anti sosial yang telah mengarah ke kriminal ( memukuli teman sendiri, memukuli Guru, membuly sesama pelajar, menghina Guru dll ) juga penyalah gunaan narkoba, bullies, gank motor, pelecehan seksual, tawuran, terutama kekerasan Violence hampir tidak terkendali, terutama perilaku.
Perubahan perilaku mereka itu, produk dari cara berfikir dan di reinforce oleh emosi dan perasaan, kemudian membentuk ciri perilaku yang disebut karakter dan dilabel kepribadian ( penyimpangan Psikologis dan jiwa ), kebanyakan dilatarbelakangi masalah Sosial ekonomi keluarga, lingkungan , dan masyarakat yang sedang bergumul mengatasi kemiskinan, globalisasi, dan perkembangan teknologi yang pesat. Remaja dan Anak muda sedang didera Culture Shock, yang sangat berpengaruh pada penampilan untuk menyatakan diri survive dalam persaingan yang terbuka , ketat dan cepat.
Lembaga Pendidikan perlu Bimbingan Penyuluhan atau Ahli Konseling yang mumpuni (Psikolog), supaya mampu dan faham Kesehatan mental Siswa atau Anak didik dipelihara, dengan meningkatkan kapasitas Psikologis untuk menjaga keseimbangan mental Homeostatis dalam menghadapi tekanan Sosial dan Peer, agar mereka dapat membuat pilihan yang lebih masuk diakal, berbudi pekerti, sehat In Conscious mind.
Peran BP atau Ahli Konseling yang profesional di Sekolah Sekolah, dibekali dengan pengetahuan dan skills untuk mengatasi gangguan itu. Secara umum yang mewabah di lingkaran peserta didik, adalah gangguan Psikologis yang tidak diintervensi, sehingga berkembang dan menghasilkan perilaku anti sosial, pasif agressive negativistic, avoidence, dependent, schizoid, narcisistic, sadistic, melancholic, histrionic, paranoid, obsesive compulsive, bahkan borderline, yang ditandai oleh perilaku perilaku menyimpang.
Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa perasaan dan emosi adalah produk dari fikiran yang diciptakan sebagai respons terhadap setiap situasi dan kejadian yang dialami. Sedangkan perasaan ketidak nyamanan, adalah disharmoni otak dengan fikiran yang sering membelenggu, sampai akhirnya menjadi gangguan yang membuat anak anak tidak berfungsi secara individual dan Sosial. Kesemuanya merupakan tantangan dunia pendidikan, yang tidak boleh diabaikan.
***
Judul : Sisi Kelabu Dunia Pendidikan – Yang Perlu Menjadi Perhatian Serius Secara Terpadu
Penulis : Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor : Raka Alvaro Triputra












