MajmusSunda News, Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (28/04/2026) – Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si., Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat membuka secara resmi Semiloka Nasional Adinkes 2026 dengan tema “Indonesia Sehat dari Desa”. Acara ini berlangsung di Hotel Lombok Raya, Jln. Panca Usaha 11 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa (28/04/2026).
Dr. M. Subuh, MPPM selaku Ketua Umum Adinkes, meyampaikan bahwa Semiloka Nasional ini dihadiri secara luring oleh Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si., selaku Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat; dr. Tara Singh Bam, Ph.D dari Tobaco Control Asia Paciific Director, Vital Strategies; dan Nabila Arieta selaku Healthcare Nutrition Lead, Sarihusada Group; serta para tamu; undangan, dan; peserta sebanyak 700 orang.
Subuh menyampaikan bahwa jumlah perokok di Indonesia mencapai 70 juta orang dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun. Secara prevalensi, perokok laki-laki di Indonesia tertinggi tidak hanya di Asia, tetapi juga didunia.

Menurut Subuh, kerugian karena stunting mencapai sekitar 400 Triliun, sementara cukai rokok diterima kurang dari 200 triliun. Rokok juga meyebabkan Tuberkulosis, jadi pada setiap kesempatan Adinkes selalu menekankan pentingnya pengendalian tembakau.
“Kami mengundang wakil-wakil dari stakeholder di Provinsi NTB untuk hadir pada Mayors Meeting hari Rabu besok di ruangan ini untuk mencermati inovasi dan komitmen dari Kepala Daerah dalam Implementasi KTR di Daerah,” jelas Subuh.
Ketua Umum Adinkes tersebut meyakini terdapat hubungan yang kuat antara prevalensi stunting dengan faktor-faktor deteminan kesehatan lainnya, termasuk tingginya konsumsi rokok di Indonesia.
“Literatur review dan temuan di seluruh dunia menunjukkan adanya Efek merokok atau penggunaan tembakau terhadap stunting pada anak,” tambah Subuh.

Temuan-temuan di dunia ini antara lain: Pertama, rumah tangga yang mengkonsumsi rokok/tembakau menghabiskan proporsi lebih sedikit pada makanan bergizi daripada rumah tangga tanpa/non-perokok (di Srilanka dan Indonesia);
Kedua, korelasi yang signifikan antara stunting dan merokok di rumah karena paparan asap rokok (Pakistan);
Ketiga, penurunan prevalensi stunting karena pengurangan penggunaan tembakau pada ibu hamil (Kamboja);
Keempat, tidak terpapar asap rokok dapat mengurangi tingkat stunting hingga 1 persen di India;
Kelima, merokok atau menggunakan tembakau selama kehamilan meningkatkan risiko anak usia 6 minggu mengalami stunting (di Kamerun), dan;
Keenam, anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang tidak merokok tumbuh 1,5 kg lebih berat dan 0,34 cm lebih tinggi dari orang tua perokok (penelitian di Indonesia).

Subuh menyampaikan bahwa dalam upaya penanggulangan AIDS-Tuberkulosis-Malaria (ATM), dana desa sudah ikut berkontribusi signifikan. Hal ini diharapkan terus semakin kuat dan sustain ke depan.
“Adinkes mencatat adanya kontribusi dana desa untuk tahun 2023 sebesar 10 milyar saja, kemudian meningkat menjadi 191 Milyar di tahun 2024 dan menjadi 300 Milyar ditahun 2025. Apa yang Adinkes catat ini bisa jadi masih under reported sehingga perlu kita periksa dan dorong terus keberlangsungannya dimasa mendatang,” ujar Subuh.
Dari 248 Kabupaten/Kota dimana Adinkes mendapatkan tugas dari Kementerian Kesehatan untuk mobilisasi peran desa maka baru ada 45 kabupaten/kota yang 70% desanya sudah mengalokasikan dukungan untuk ATM. Ke depan masih banyak kabupaten/kota yang perlu terlibat secara kebijakan maupun dana di desa untuk program pengendalian ATM.

Dalam catatan ADINKES ini baru 27% Desa yang sudah mendukung pengendalian ATM, masih ada 70% Desa belum mendukung pengendalian ATM, padahal agenda Asta Cita Presiden adalah pengentasan Tuberculosis yang menjadi bagian dari ATM.
Pada kesempatan ini Subuh menyampaikan apresiasi kepada Provinsi Nusa Tenggara Barat, “Kami mencatat kurang lebih 517 desa/kelurahan yang telah mendukung penanggulangan ATM atau sekitar 50% dari total desa/kelurahan di NTB.”
Adinkes memahami adanya penurunan transfer dana desa sehingga hal ini perlu kita antisipasi bersama agar dukungan dana desa untuk pengendalian ATM tetap kokoh.
“Saya berharap semoga 700 peserta dapat mengikuti Semiloka Nasional ini secara tuntas dan semakin memperkuat response kesehatan kita ke depan. Indonesia Sehat dari Desa,” pungkas Subuh mengakhiri laporan penyelenggaraan semiloka ini.
Sementara itu Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, S.IP., M.Si., selaku Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam sambutannya menyampaikan Rencana Strategis Integrasi Infrastruktur Kesehatan Fisik dan Digital NTB 2025-2029, salah satunya mewujudkan “NTB Sehat dan Cerdas”, yakni: Pertama, memperkuat fondasi pelayanan dasar bidang kesehatan dan pendidikan;

Kedua, memastikan kemudahan akses dan peningkatan kualitas pelayanan dengan perbaikan sarana prasarana, serta kualitas SDM pengelola kesehatan dan pendidikan;
Ketiga, peningkatan kualitas pelayanan Rumah Sakit Provinsi;
Keempat, membangun dua rumah sakit rujukan utama (Mega Hospital) masing-masing di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dan;
Kelima, mengembangkan Telemedicine yang menghubungkan rumah sakit rujukan utama dengan seluruh Puskesmas di NTB.

Lalu M. Igbal menyampaikan tentang Akselerasi Pengendalian Penyakit Menular: Strategi Eliminasi ATM 2030 bahwa pencapaian target eliminasi ATM memerlukan strategi korektif yang berani, terutama dalam menghadapi tren data yang fluktuatif.
Pertama, Tuberkulosis (TBC): Fase Pemulihan dan Akselerasi Strategi TBC harus merespons fakta bahwa Treatment Success Rate (TSR) mengalami penurunan dari 91.23% (2021) menjadi 87.51% (2025). Mengingat kenaikan kasus sebesar 14% (2024-2025) dengan estimasi 19.180 kasus di 2025, rencana strategis meliputi: Active Case Finding: Penemuan kasus agresif di wilayah dengan CKG tinggi. Pemberian TPT Serumah: Memperluas cakupan Terapi Pencegahan TBC untuk memutus rantai penularan di level keluarga.
Kedua, HIV/AIDS: Cross-Border Patient Management Kota Mataram diidentifikasi sebagai episentrum kasus. Namun, realita lapangan menunjukkan banyak pasien adalah “Non-KTP Mataram”. Strategi akan difokuskan pada: Cross-Border Service Integration: Memastikan akses ARV yang lancar bagi pasien lintas wilayah tanpa hambatan administratif. Target 95-95-95 & Konsep U=U: Memastikan 95% ODHIV mengetahui status, 95% diobati, dan 95% virus tersupresi sehingga Undetectable = Untransmittable.
Ketiga, Malaria: Pertahanan dan pemeliharaan bagi wilayah yang telah mencapai eliminasi, fokus beralih pada strategi defensif: Surveilans Migrasi: Pemantauan ketat terhadap pergerakan penduduk dari wilayah endemis untuk mencegah kasus impor. Pemeliharaan Status Bebas Malaria: Penguatan kapasitas laboratorium dan kontrol vektor secara berkelanjutan.
Dr. Tara Singh Bam, Ph.D. (Asia Pacific Director, Vital Stategies, Tobaco Control, Kantor Pusat Singapore), menyampaikan, “Mengapa Mengakhiri TB Berarti Harus Menghentikan Rokok: Fakta mengejutkan dari Indonesia.”
Indonesia saat ini sedang berada di titik persimpangan kesehatan yang sangat kritis. Indonesia menyandang predikat yang memilukan: peringkat ke-2 beban penyakit Tuberkulosis (TB) dan peringkat ke-3 jumlah perokok terbanyak di dunia.

“Seringkali, kita menganggap merokok hanyalah ‘kebiasaan sehari-hari’ yang wajar. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa asap rokok adalah bahan bakar utama yang diam-diam menyabotase perjuangan bangsa kita melawan TB,” ungkap dr. Tara Singh Bam.
Menurut dr. Tara Singh Bam, data dari WHO Global TB Report 2024 bukan sekadar angka. Ini adalah alarm keras bagi semua orang. Mustahil bagi Indonesia untuk bebas dari TB selama kepulan asap rokok masih mengepung paru-paru penduduknya. Menurutnya ada lima poin yang harus diperhatikan, yakni: Pertama efek sinergi maut—bukan sekadar batuk biasa; Merokok dan TB menciptakan sebuah “sinergi maut” yang menghancurkan.
“Bayangkan paru-paru Anda kehilangan benteng pertahanannya tepat saat kuman TB menyerang. Merokok meningkatkan risiko infeksi TB hingga 3,2 kali lipat. Namun, bahaya yang paling licik adalah efek ‘masking’ (penyamaran). Banyak perokok mengabaikan gejala awal TB karena mereka salah mengira batuk darah atau sesak napas sebagai ‘batuk perokok’ biasa,” ujar dr. Tara Singh Bam.
Bukti kuat menunjukkan bahwa merokok menyebabkan keterlambatan diagnosis (delay in diagnosis) dengan risiko 1,24 hingga 7,4 kali lipat. Akibatnya, pasien baru datang ke dokter saat paru-parunya sudah rusak parah. Selain itu, risiko ini tidak hanya mengintai si perokok; paparan perokok pasif juga memiliki bukti kuat meningkatkan risiko terkena penyakit TB (dengan rasio risiko 1,6 hingga 9,3). Artinya, asap rokok
Kedua, angka yang berbicara—29,2% Kasus TB Dipicu oleh Asap Rokok Pada tahun 2023, sebanyak 1.090.000 orang di Indonesia jatuh sakit akibat TB. Dari jumlah yang masif tersebut, 319.000 kasus (29,2%) disebabkan secara langsung oleh konsumsi tembakau. Lebih tragis lagi, tembakau bertanggung jawab atas 17% kematian akibat TB di tanah air;
Ketiga, beban ekonomi yang Fantastis—288 Triliun Rupiah Terbakar. Dampak rokok tidak hanya merusak fisik, tetapi juga memiskinkan negara. Biaya ekonomi akibat merokok di Indonesia mencapai angka yang sangat fantastis: Rp 288.054.294.795.929 (atau 18,24 miliar USD) per tahun;
Keempat, peluang sembuh yang jauh lebih tinggi bagi “Quitters“. Bagi yang menjalani pengobatan TB, berhenti merokok adalah “obat tambahan” paling mujarab yang pernah ada.
Kelima, strategi integrasi ABC—langkah nyata di Puskesmas. Puskesmas harus menjadi garda terdepan dengan menerapkan “Brief Intervention” (A-B-C) yang terintegrasi ke layanan TB.

Hanya butuh lima menit untuk menyelamatkan satu nyawa: a. Ask (Tanyakan): Petugas kesehatan wajib menanyakan status merokok pasien dan anggota keluarga di rumah pada setiap kunjungan; b. Brief Advice (Nasihat Singkat): Memberikan edukasi bahwa berhenti merokok sekarang juga akan mempercepat pemulihan paru-paru dan menurunkan tekanan darah, dan; c. Cessation Support (Dukungan Berhenti): Memberikan langkah praktis seperti melibatkan dukungan keluarga, membuang asbak dan korek api dari rumah, serta memasang stiker “Rumah Sehat Tanpa Rokok” di pintu rumah.

Menurut dr. Tara Singh Bam, masa depan bebas TB Dimulai dari udara bersih. Indonesia tidak akan pernah bisa mengeliminasi TB selama epidemi tembakau masih dibiarkan merajalela. Ini adalah tantangan besar bagi para pemimpin lokal—wali kota dan bupati—untuk berani menegakkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) secara total di ruang publik, kantor, dan transportasi umum tanpa kompromi.
“Kita harus menyadari satu kebenaran pahit: To End TB, We Must End Tobacco. (Untuk mengakhiri TB, kita harus menghentikan tembakau),” pungkas dr. Tara Singh Bam. (Asep Zaenal Mustofa).
***
Judul: Gubernur NTB Buka Semiloka Nasional Adinkes 2026: Indonesia Sehat dari Desa
Jurnalis: Asep Zaenal Mustofa (AZM)
Editor: Jumari Haryadi












