Hejo Tihang

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (03/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Hejo Tihang” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Hejo tihang sering diartikan seseorang yang suka pindah-pindah pekerjaan. Peribahasa ini menggambarkkan sikap orang yang tak pernah betah atau betahan di satu tempat atau satu bidang pekerjaan. Sebentar-sebentar pengen pindah kerja. Hejo tihang merupakan budaya hidup di masyarakat Sunda.

Paling tidak, ada tiga makna filosofis terkat dengan makna hejo tihang ini. Ketiga makna tersebut adalah pertana, kurangnya konsistensi: Sacara filosofis, hejo tihang mwrupakan sindiran bagi orang yang tidak memiliki keyakinan kuat atas apa yang diyakininya. Dalam budaya Sunda, konsistensi dan kesetiaan terhadap sesuatu hal, dianggap sangat penting dalam neraih apa yang diimpikan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kedua, simbul “hejo” = hijau): Sekalipun warna hijau sering dimakna sebagai kebugaran, dalam konteks hejo tohang, warna ini lebih terkait dengan sifat “atung-éné” atau belum mumpuni dalam salah satu bidang pekerjaan. Itu sebabnya, menjadi mudah tertarik oleh “rumput tatangga” yang tampak lebih hijau atau lebih baik.

Ketiga, tihang (tiang). Tiang itu simbol panyangga atau pondasi. Kalau tihangna “hejo” (tidak kuat/tidak matang, maka tampilannya tidak akan bisa berdiri tegak. Contoh penggunaan kalimatnya antara lain “Ulah hejo tihang ari hayang suksés mah, kudu betah tur soson-soson dina hiji widang.”

Orang yang hejo tihang biasanya sulit untuk menetap karena selalu merasa ada tempat lain yang lebih baik, padahal belum tentu benar. Berikut adalah beberapa alasan mengapa seseorang bisa memiliki sifat hejo tihang : Pertama, ketidakpuasan yang terus-nenerus. Selalu merasa kurang puas dengan apa yang dikerjakan saat ini dan menganggap pekerjaan atau tempat lain lebih menguntungkan (mirip pepatah “rumput tetangga lebih hijau”).

Kedua, kurangnya keteguhan hati (Junun). Tidak memiliki fokus atau kesungguhan dalam menekuni satu bidang, sehingga saat menemui kesulitan sedikit saja, ia lebih memilih untuk menyerah dan pindah ke bidang lain. Ketiga, impulsif. Tergoda oleh tren atau tawaran sesaat tanpa mempertimbangkan matang-matang konsekuensi jangka panjang dari keputusannya untuk berpindah-pindah.

Keempat, masalah adaptasi. Kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja atau budaya perusahaan tertentu, yang membuatnya merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi. Kelima, ekspektasi tidak realistis: Mengharapkan hasil instan atau kesuksesan cepat tanpa mau menjalani proses yang panjang di satu tempat.

Sifat ini sering dianggap kurang baik dalam budaya Sunda, karena menghambat seseorang untuk mencapai keahlian yang mendalam (expert) dalam suatu bidang. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal jika dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu menginfatkan bahwa sikap hejo tohang, bukanlah hal yang perlu untuk dibanggakan.

Sifat hejo tihang (suka berpindah-pindah pekerjaan atau tidak betah diam di satu tempat/posisi) kurang menguntungkan bagi pembangunan karena menghambat aspek stabilitas dan spesialisasi. Berikut adalah alasan teknis mengapa sifat ini merugikan:

1. Kurangnya Keahlian Mendalam (Expertise). Pembangunan membutuhkan tenaga ahli yang matang. Jika seseorang terus berpindah bidang sebelum benar-benar menguasainya, ia hanya akan menjadi “serba tahu sedikit” tanpa pernah mencapai level ahli yang dibutuhkan untuk inovasi besar.

2. Ketidakefisienan Waktu dan Biaya. Setiap kali seseorang pindah fokus atau pekerjaan, ada masa adaptasi (learning curve). Hal ini membuang waktu produktif dan biaya pelatihan yang telah diinvestasikan sebelumnya.

3. Proyek Menjadi Mangkrak. Pembangunan sering kali bersifat jangka panjang. Sifat hejo tihang membuat seseorang mudah menyerah atau bosan di tengah jalan, sehingga banyak rencana atau proyek yang tidak tuntas (setengah matang).

4. Krisis Kepercayaan (kredibilitas). Dalam kolaborasi pembangunan, konsistensi adalah kunci. Orang yang hejo tihang sulit dipercaya untuk memegang tanggung jawab besar karena komitmennya yang rendah terhadap visi jangka panjang.

Singkatnya, pembangunan butuh ketekunan (istiqomah), sedangkan hejo tihang adalah musuh dari ketekunan.
Semoga dalam melakoni pembangunan di negeri ini, kita akan mampu memupus sifat hejo tihang dan mengubahnya dengan sifat yang lebih mendukung pembangunan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Hejo Tihang
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *