MajmusSunda News, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Jumat (6/6/2025) – Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ila Ha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Ilhamd. Takbir berkumandang dimana-mana, menandakan umat Islam di seluruh dunia sedang merayakan hari besarnya yaitu Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1446 Hijriah/2025 Masehi.
Demikian pula ratusan umat Islam di Perumahan Griya Bandung Indah (GBI) di RW.07 Desa Buahbatu Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, tumpah ruah di jalan dan halaman Masjid Al Muhajirin mengikuti ibadah shalat Idul Adha 1446 Hijriah.

Ratusan jamaah baik orang tua, anak muda, hingga anak kecil melaksanakan Shalat Idul Adha 1446 Hijriah memadati jalanan dan halaman Masjid Al Muhajirin yang berada di Jl. Alam Raya RW.07 Desa Buahbatu Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Jumat (6/6/2025) pagi.
Imam dan khotib shalat Idul Adha 1446 Hijriah adalah Ustadz Dr. Muhaemin, M.Ag dengan tema, “Berbagi Sanjungan Allah SWT”.
“Aidin aidat jamaah shalat Idul Adha yang mudah-mudahan Allah Rabbul Ghafur Warabus sakur berkenan untuk memuliakan kita. Berkenan untuk menyanjung kita, memuji kita, dan mudah-mudahan Allah pun berkenan untuk mengangkat dan meninggikan derajat kita semua. Aamin Ya Allah ya Robbal Aalaamin,” kata Dr. Muhaemin mengawali khutbahnya.

Selanjutnya Dr. Muhaemin mengatakan, disanjung banyak orang tentu merupakan suatu kenikmatan, ada kebahagiaan tersendiri tatkala kita mendapatkan apresiasi. Tentu hal itu tidak mengapa, boleh-boleh saja dengan persyaratan-persyaratan tertentu.
“Pertama kita tidak mencari apalagi berambisi untuk mendapatkan sanjungan manusia. Kedua sanjungan manusia yang kita dapatkan itu berbanding lurus dengan sanjungan Allah SWT. Ketiga sanjungan manusia yang kita dapatkan itu disebabkan oleh amal saleh dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Keempat sanjungan manusia yang kita dapatkan itu tidak menjadikan kita lupa diri ataupun lupa daratan,” ujarnya.
Menurut dirinya, jika keempat persyaratan tersebut tidak terpenuhi, maka bisa dipastikan sanjungan manusia itu akan menimbulkan malapetaka.

Seorang manusia yang normal, kata Dr. Muhaemin, tentu wajar ketika merasa bangga kalau dipuji ataupun disanjung. Tapi sebagai seorang mukmin sejati, Ketika dirinya disanjung manusia, maka dia akan segera instrospeksi diri, dia akan segera bertanya kepada dirinya apakah sanjungan manusia itu berbanding lurus dengan Allah atau tidak. Apakah sanjungan manusia itu disebabkan oleh amal saleh yang dia lakukan atau tidak.
“Dia akan merasa bangga dan Bahagia, manakala sanjungan manusia, pujian manusia itu berbanding lurus dengan sanjungan Allah SWT. Tapi sebaliknya dia akan merasa kecewa bahkan merasa sediah Ketika sanjungan manusia, pujian manusia itu malah menimbulkan Allah membencinya Allah menghinakannya,” ucapnya.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda yang artinya Barangsiapa yang mencari sanjungan Allah dan pujian Allah, baik itu atas ucapan ataupun perbuatan yang dia lakukan. Apa janji Allah? Allah akan memuji, Allah akan menyanjungnya, yang pada akhirnya manusiapun akan ikut menyanjungnya. Tapi sebaliknya barangsiapa yang mencari sanjungan manusia pujian manusia, sementara Allah membencinya. Ancaman Allah, Allah pasti akan membencinya, yang pada akhirnya manusia pun akan membencinya.
“Rasulullah SAW dahulu banyak dibenci oleh orang-orang musyrikin Qurais, dibenci oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani yang ada di Madinah. Tetapi karena Allah SWT memujinya, Allah SWT menyanjungnya, maka di berbagai dunia hari ini manusia memuji dan menyanjung Rasulullah SAW,” ujarnya.
Dahulu Fir’aun kata Dr. Muhaemin, karena keberhasilannya membangun perekonomian yang ada di kota Mesir, banyak manusia yang menyanjungnya, banyak manusia yang memujinya, tapi Allah SWT membencinya. Dikarenakan Allah SWT membencinya, maka hari ini seluruh manusia jangankan umat Islam, orang kafir pun tidak menyukai yang namanya Fir’aun.

“Maka oleh karena itu bagi kita sebagai seorang mukmin sejati, berkenaan dengan sanjungan ini yang harus diutamakan adalah sanjungan Allah, dan pujian Allah,” katanya.
“Kita baru bangga dan Bahagia, Ketika disanjung manusia dan pada saat yang sama Allah SWT pun memujinya, Allah SWT pun menyanjungnya. Kenapa? Karena bagi kita seorang mukmin pujian Allah SWT dan sanjungan Allah SWT itu di atas segala-galanya,” tutur Dr. Muhaemin.
Dalam rangkaian hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah ini, setelah melaksanakan sholat Idul Adha, kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban berupa sapi dan domba. Dimana panitia kurban Masjid Al Muhajirin menyembelih 11 ekor sapi dan 12 ekor domba yang dilaksanakan pada jam 07.30 WIB.

Ustadz Dikdik Jatnika selaku Panitia Idul Adha/Panitia Kurban 1446 Hijriah Masjid Al Muhajirin, menjelaskan, kegiatan kurban ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
“Alhamdulillah proses penyembelihan hewan kurban di Masjid Al Muhajirin terdapat 12 ekor domba dan 11 ekor sapi, dan jam 10.00 WIB sudah selesai semuanya disembelih,” kata Dikdik.

Menurutnya, acara ini dapat berjalan dengan baik berkat semangat gotong royong dan kebersamaan yang tinggi di antara Panitia Kurban, Jamaah Masjid Al Muhajirin dan Warga RW.07.
“Hal ini juga merupakan simbol kekuatan solidaritas di lingkungan RW.07. Dimana dengan semangat kebersamaan dan pengorbanan, shalat Idul Adha 1446 Hijriyah, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua yang terlibat, serta memperkuat ikatan sosial DKM Al Muhajirin dengan warga masyarakat di Perumahan Griya Bandung Indah, khususnya warga RW.07,” pungkas Dikdik Jatnika.

Semoga hikmah perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah ini, selain untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT dan mempererat rasa persaudaraan antar muslim. Perayaan ini juga mengajarkan pentingnya keikhlasan, pengorbanan, dan berbagi dengan sesama, khususnya bagi yang kurang mampu. (Arus)
***
Judul: Shalat Idul Adha 1446 Hijriah “Berbagi Sanjungan Allah SWT” di Masjid Al Muhajirin Griya Bandung Indah
Jurnalis: Arus
Editor: Asep Ruslan












