MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (26/06/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Setelah Penas 2026 Usai……” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Perhelatan akbar petani dan nelayan seluruh Nusantara yang dikenal dengan Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan, usai sudah. Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo membawa kenangan tersendiri bagi kaum tani dan kaum nelayan negeri ini. Selama sepekan (20 – 25 Juni 2026), bahkan ada yang lebih, para petani dan nelayan tampak begitu hangat membangun komunikasi dengan berbagai pemangku-kepentingan di sektor pertanian dan perikanan.

Penas, benar-benar menjadi momen yang penuh dengan pengalaman indah bagi petani dan nelayan. Walau dalam Pembukaan Penas, Presiden Prabowo tidak dapat hadir, kemeriahan tetap berlangsung. Yang jelas, petani dan nelayan cukup senang dengan kehadiran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang membuka Penas ke XVII tersebut.
Penas, memang “hajatan” nya petani dan nelayan. Pelaksanaan Penas kali ini betul-betul penuh dengan tantangan. Banyak daerah yang mengurangi jumlah peserta, mengingat Pemerintah Daerahnya, tengah menerspkan prinsip efesiensi. Akibatnya, daerah yang biasanya mengutus ratusan peserta, kini terpaksa hanya mengirimkan puluhan peserta saja.
Selama Penas berlangsung, kita saksikan banyak inovasi yang disampaikan dalam Gelar Teknologi di bidang pertanian dan perikanan. Warga masyarakat yang tinggal disekitar lokasi Penas, dapat melihat dengan mata kepala sendiri, hasil para peneliti dan pemulia tanaman yang memperlihatkan hasil kajian terbarunya, terutama yang berkaitan dengan peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian.
Selain itu, dalam stand Pameran, kita juga dapat menyaksikan bagaimana setiap daerah mengembangkan pertanian dan perikanan, berbasis kearifan lokal masing-masing. Atas hal yang demikian, ternyata para petani dan nelayan di berbagai daerah, mampu berkiprah lebih baik, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Justru yang penting dipikirkan lebih lanjut, setelah Penas usai, apa yang seharusnya dikembangkan ?
Penas, sepantasnya jangan menjadi “Kongres” alias “ngawangkong teu beres-beras”. Artinya, kita jangan terjebak dalam wacana. Apa yang direkomendasikan dalam Penas, sudah seharusnya ditindak-lanjuti lewat berbagai kebijakan, program dan kegiatan nyata di lapangan. Seabreg ide dan pemikiran cerdas para petani dan nelayan, sepatutnya dapat direkam oleh Pemerintah, baik Pusat atau Daerah.
Sebagai forum silaturahmi, Penas merupakan ajang menyatukan pandangan antara aspirasi petani dan nelayan dengan kebijakan yang bakal ditetapkan Pemerintah. Itu sebabnya, menjadi tanggungjawab Pemerintah untuk merumuskan program pembangunan pertanian dan perikanan yang senafas dengan keinginan dan kebutuhan para petani dan nelayan.
Catatan kritis yang perlu disampaikan adalah apakah tema Penas 2026 yang bunyinya “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Program Swasembada Pangan guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045” , sudah terstrukturkan secara baik ? Khusus untuk tema yang terakhir, yakni soal Lumbung Pangan Dunia 2045, apakah Penas 2026 telah merekomendasikan garis besar desain perencanaan pencapaian yang dilengkapi dengan Roadmapnya ?
Hal ini penting, karena seusai “hajatan” selama satu pekan tersebut, seluruh pesertanya dimintakan untuk selalu pro aktif dalam mengejawantahkan apa-apa yang sudah ditetapkan Penas. Ini berarti para petani dan nelayan yang hadir di Penas, bersama para pendampingnya, sangat dimintakan dapat melaksanakan rekomendasi yang diusulkan, agar yang nama nya kesejahteraan petani dan nelayan di negeri ini, dalam tempo yang sesegera mungkin dapat diwujudkan.
Petani dan nelayan di negeri ini, memang harus bangkit untuk mengubah nasib. Sangat tidak baik bila mereka dibiarkan menyerah diri terhadap kehidupan yang menimpanya. Petani dan nelayan, tercatat juga sebagai anak bangsa yang suasana kehidupannya masih memprihatinkan. Mereka belum mampu merasakan nikmatnya kemerdekaan, yang sebentar lagi bakal berusia 81 tahun.
Walau masih sebatas mimpi, petani dan nelayan, tentu mendambakan untuk dapat berlibur ke negeri orang, sambil menikmati paket wisata yang ditawarkan. Pertanyaan kritisnya, kapan keinginan semacam itu, bakal menjadi kenyataan ? Apakah hal ini ibarat mimpi di siang bolong ? Atau, suatu saat nanti akan dapat terwujud ? Pastinya, di ujung terowongan, tentu masih ada cahaya kehidupan.
Petani dan nelayan yang hidup di Tanah Merdeka, memiliki hak untuk dapat hidup sejahtera dan bahagia. Hak mereka, tentu harus kita hormati. Tugas dan kewajiban negara atau Pemerintahlah untuk dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mensejahterakan dan membahagiakan hidup mereka. Yang sering menjadi pertanyaan, kapan harapan ini akan dapat segera diwujudkan ?
Penas XVII yang baru di gelar beberapa hari lalu, benar-benar memiliki kehormatan dan tanggungjawab untuk mempercepat terwujudnya cita-cita diatas. Penas, tentu bukan hanya sekedar media untuk kumpul-kumpul, namun yang lebih utama lagi adalah sampai sejauh mana apa yang diaspirasikan petani dan nelayan seluruh Nusantara ini, dapat diakamodir menjadi sebuah kebijakan negara atau Pemerintah.
Disinilah kepiawaian para penentu kebijakan, baik Pusat atau Daerah dalam merumuskan kebijakan, program dan kegiatan yang betul-betul menunjukkan keberpihakan terhadap pertanian dan perikanan. Selain itu, dari sisi politik anggaran pun memberi dukungan maksimal terhadap pengembangan pertanian dan perikanan secara signifikan. Semua ini, tentu butuh komitmen kuat untuk menggapainya.
Penas XVII, resmi sudah ditutup. Namun begitu, semangat para peserta Penas, tetap bergelora. Mereka yakin, apa yang direkomendasikan Penas XVII akan diperhatikan dengan serius oleh para penentu kebijakan di negeri ini. Petani dan nelayan yakin, hasil sepekan mereka berkomunikasi di Gorontalo bakal menjadi kekuatan Pemerintah untuk menelorkan progran dan kegiatan terbaiknya. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).
***
Judul: Setelah Penas 2026 Usai……
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra












