Seorang Lelaki dengan Penaka Waktu yang Berjalan: Hasrat Kecil Untuk Melandai

Oleh: Yudha Heryawan Asnawi

MajmusSunda News, Sabtu (26/09/2026) – Dahulu, banyak hal terasa begitu layak dikejar. Perjumpaan, percakapan, gagasan, pencapaian, bahkan perkara kecil yang membuat hari terasa penuh. Ada kegembiraan ketika sesuatu berhasil diraih, kepuasan ketika pemikiran menemukan bentuknya, dan tenaga yang membuat kehidupan terus memanggil. Lelaki memang akrab dengan hasrat untuk berjalan lebih jauh, mencoba lebih banyak, dan membuktikan bahwa dirinya mampu melewati batas. Saya pun pernah menikmati semangat itu. Sir Ernest Henry Shackleton, penjelajah Antarktika, pernah memimpin ekspedisi dengan kapal Endurance yang terperangkap lalu dihancurkan es. Dalam keadaan yang nyaris tanpa jalan keluar, ia tetap membawa seluruh awaknya menuju keselamatan. Namun hidup bukan seluruhnya ekspedisi yang harus ditaklukkan. Ada perjalanan yang justru mengajarkan keberanian untuk mengurangi langkah.

Ketika langkah mulai melandai, ingatan membawa kita kepada berbagai perjumpaan yang pernah membuat perjalanan terasa indah. Ada kerling yang singkat, senyum manis tanpa banyak kata, percakapan yang membuat petang terasa panjang, bahkan desir gairah yang sesekali membuat waktu seperti enggan bergerak. Dante Alighieri, penyair Italia abad pertengahan, mengabadikan perjalanan manusia melalui Divina Commedia, sebuah perjalanan dari kegelapan menuju cahaya. Dari Dante kita belajar bahwa perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dituju, tetapi juga tentang apa yang berubah di dalam diri. Tidak setiap keindahan harus menjadi milik, tidak setiap kerinduan harus berakhir dalam perjumpaan, dan tidak setiap kedekatan harus dipertahankan menjadi ikatan. Sebagian cukup diterima sebagai anugerah yang pernah singgah, lalu disimpan dengan penghormatan yang tenang.

Dari perjumpaan dengan manusia, perjalanan membawa kita kepada ruang yang lebih luas, tempat gagasan, kepentingan, pengaruh, dan kekuasaan saling berkelindan. John Locke, filsuf Inggris yang pemikirannya ikut membentuk gagasan tentang hak alamiah, kebebasan, dan batas kekuasaan negara, mengingatkan pentingnya manusia tidak berada sepenuhnya di bawah kehendak penguasa. Namun pengalaman hidup mengajak kita melihat lapisan yang lebih dalam. Kita dapat memperjuangkan kebebasan di ruang publik, sementara diri sendiri masih terikat oleh keinginan untuk diakui. Kita dapat menolak kekuasaan orang lain, tetapi diam-diam ingin menguasai keadaan. Maka kebebasan juga berarti kemampuan untuk tidak selalu tunduk kepada dorongan dalam diri sendiri. Ada wibawa tertentu pada seorang lelaki yang mengetahui kapan harus berbicara dan kapan cukup menyimpan pandangan.

Ketika hubungan dengan dunia luar mulai ditempatkan secara proporsional, perhatian kembali kepada ilmu pengetahuan. Albert Einstein, fisikawan yang mengubah cara manusia memahami ruang, waktu, gravitasi, dan alam semesta melalui teori relativitas, menunjukkan betapa jauh akal manusia dapat menjelajah. Albert Camus, sastrawan dan pemikir Prancis, mengambil jalan berbeda dengan menghadapkan manusia pada persoalan absurditas dan pencarian makna hidup. Keduanya membawa kita kepada pertanyaan yang tidak sederhana. Kita dapat mengetahui semakin banyak tanpa otomatis menjadi semakin tenteram. Semakin jauh ilmu membawa kita, semakin jelas pula wilayah yang belum diketahui. Di titik itu, rasa ingin tahu perlahan belajar menghormati rahasia yang memang tidak harus seluruhnya diterangkan. Di sana kecerdasan menemukan bentuk kerendahan hatinya.

Kesadaran tentang batas pengetahuan itu kemudian mengubah cara kita menikmati kehidupan sehari-hari. Pagi yang sederhana terasa lebih berharga daripada jadwal yang penuh. Secangkir minuman hangat, suara rumah, halaman yang tidak menuntut apa-apa, atau duduk beberapa saat tanpa harus menghasilkan sesuatu, mulai memiliki kenikmatan tersendiri. Hidup tidak kehilangan warna. Hati hanya mulai memahami bahwa terlalu banyak warna pun dapat membuat pandangan kehilangan ketenangan. Ada saat ketika kita tidak perlu memberi nama yang terlalu besar kepada hal-hal sederhana. Secangkir minuman hangat cukup dinikmati sebagai kehangatan. Pagi cukup diterima sebagai pagi.

Dari kesederhanaan itulah arah perjalanan perlahan berubah. Bila sebelumnya dunia luar begitu banyak meminta perhatian, kini perhatian bergerak ke tempat yang lebih dalam. Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, ulama dan pemikir besar Islam, pernah meninggalkan kedudukan intelektualnya yang sangat terhormat untuk menjalani pencarian spiritual yang mendalam. Baginya, ilmu bukan untuk ditinggalkan, melainkan ditempatkan pada kedudukan yang tepat ketika manusia mencari kepastian yang paling mendasar. Kita pun belajar bahwa semakin banyak yang diketahui, semakin pantas hati merendah. Beberapa ayat yang dibaca perlahan, beberapa saat dalam sujud, atau sekadar duduk setelah ibadah, terasa lebih penuh daripada percakapan panjang tentang kehidupan. Kesederhanaan menjadi cara hati menempatkan segala sesuatu sesuai ukurannya.

Di situlah perjalanan seorang lelaki menemukan bentuknya yang lain. Dunia tetap dicintai, ilmu tetap dihargai, pekerjaan tetap diselesaikan, dan perjumpaan tetap memberi warna. Kita tetap berjalan, tetapi tidak lagi merasa harus berlari. Kita tetap berbicara, tetapi tidak selalu merasa perlu didengar. Kita tetap menghargai keindahan, tetapi tidak harus memilikinya. Kita tetap membaca ilmu, tetapi semakin mampu mengakui apa yang belum kita ketahui. Penaka waktu yang berjalan, hidup tidak selalu meminta kita mengikutinya dengan langkah yang sama. Ada masa ketika langkah perlu diperlambat. Bukan karena perjalanan telah selesai, melainkan karena keteduhan adalah bentuk lain dari keberanian, ketika perjalanan yang paling jauh mulai mengarah ke dalam diri, lalu perlahan menuju Dia yang sejak awal menjadi tujuan seluruh perjalanan.

*Yudha Heryawan Asnawi*

***

Judul: Seorang Lelaki dengan Penaka Waktu yang Berjalan: Hasrat Kecil Untuk Melandai
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *