Sekedar Menyambung Nyawa

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (19/08/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Sekedar Menyambung Nyawa ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ungkapan “sekadar menyambung nyawa” adalah kiasan yang berarti melakukan usaha minimal hanya untuk bisa bertahan hidup. Kalimat ini menggambarkan situasi sulit di mana seseorang tidak mencari kekayaan atau kenyamanan, melainkan hanya berjuang agar tidak mati atau kelaparan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Nilai filosofi utama dalam ungkapan “sekadar menyambung nyawa” adalah penerimaan esensi hidup yang paling murni, yaitu bertahan hidup (survival) dengan penuh ketabahan di tengah keterbatasan. Ungkapan ini tidak berbicara tentang keserakahan atau kemewahan, melainkan tentang penghargaan mendalam terhadap napas yang masih tersisa.

Berikut adalah rincian nilai filosofis yang terkandung di dalamnya:
1. Ketabahan dan Resiliensi (Daya Lenting). Hal ini menunjukkan daya juang manusia yang luar biasa untuk tetap tegak berdiri dalam kondisi sekritis apa pun.Kemudian, menghadapi penderitaan hebat bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan tindakan nyata untuk terus hidup.

2. Stoisisme dan Penerimaan Realitas Memilah apa yang benar-benar dibutuhkan (hidup/napas) dari apa yang sekadar diinginkan (gaya hidup/status). Bisa juga menerima situasi sulit yang tidak bisa diubah, sambil tetap mengupayakan hal kecil yang bisa diusahakan (mencari makan/bertahan).

3. Kebahagiaan Minimalis (Minimalism). Menyadari bahwa pada titik nadir manusia, kebahagiaan terbesar adalah ketika kebutuhan paling dasar biologisnya terpenuhi. Atau pengingat bahwa hidup pada dasarnya sangat sederhana sebelum manusia memperumitnya dengan gengsi.

4. Rasa Syukur yang Mendalam. Mengubah sudut pandang dari “kekurangan materi” menjadi “keberuntungan karena masih diberi kesempatan hidup”.

Seiring dengan itu, apakah tepat kehidupan buruh tani hanya sekedar menyambung nyawa ? Secara data ekonomi dan realitas sosial di lapangan, klaim bahwa kehidupan sebagian besar buruh tani di Indonesia hanya sekadar menyambung nyawa adalah cerminan fakta yang sangat akurat. Mereka berada di lapisan terbawah rantai pasok pangan nasional, di mana tenaga yang mereka keluarkan sering kali tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima untuk hidup layak.

Kondisi struktural yang menyebabkan ironi ini terjadi di negeri agraris meliputi beberapa faktor utama:
1. Tingkat Upah yang Sangat Rendah Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata upah pekerja di sektor pertanian berkisar di angka Rp2,47 juta hingga Rp2,54 juta per bulan. Angka tersebut menempatkan buruh tani sebagai kelompok pekerja dengan pendapatan paling rendah kedua dari seluruh sektor industri di Indonesia. Pendapatan harian mereka yang berkisar di angka Rp55.000 hingga Rp60.000 per hari membuat uang yang dihasilkan hari itu sering kali habis langsung untuk membeli beras dan kebutuhan pokok hari itu juga.

2. Sifat Pekerjaan yang Musiman dan Tidak Pasti. Buruh tani tidak memiliki gaji bulanan tetap. Mereka hanya dibayar ketika tenaganya dibutuhkan, seperti saat musim tanam (tandur) dan musim panen. Di luar musim tersebut, atau saat terjadi gagal panen akibat krisis iklim dan cuaca ekstrem, mereka kehilangan pendapatan sama sekali.

3. Tidak Memiliki Tanah Sendiri (Petani Gurem). Berbeda dengan pemilik lahan, buruh tani sama sekali tidak menguasai tanah. Mereka menumpang bekerja di tanah orang lain dengan sistem upah harian atau bagi hasil yang timpang.Jeratan Kemiskinan Struktural: Tanpa kepemilikan aset berupa lahan, sangat sulit bagi mereka untuk menaikkan kelas ekonomi keluarga mereka.

4. Minimnya Perlindungan Jaminan Sosial. Mayoritas buruh tani bekerja di sektor informal tanpa kontrak kerja resmi.Kerentanan Tinggi: Jika mereka sakit karena kelelahan di sawah, mereka tidak mendapatkan cuti berbayar atau asuransi keselamatan kerja. Kondisi ini menciptakan ketakutan bahwa penyakit dapat langsung menghentikan kepulan asap di dapur mereka.

Catatan penting secara filosofis dan realitas. Ada sebuah ironi besar: mereka yang memastikan seluruh negeri bisa makan dan menyambung nyawa, justru harus berjuang paling keras hanya sekadar untuk menyambung nyawa mereka sendiri.

Mengubah kehidupan buruh tani agar keluar dari jebakan “sekadar menyambung nyawa” membutuhkan transformasi ekonomi, peningkatan kapasitas diri, dan diversifikasi pendapatan. Pendapatan buruh tani harian sangat rentan terhadap cuaca dan masa paceklik.

Paling tidak, ada lima rencana aksi strategis yang dapat diterapkan secara bertahap untuk memutus rantai kemiskinan tersebut:
Pertama, Diversifikasi Pendapatan (Jangan Cuma Mengandalkan Sawah).
Bergantung hanya pada upah harian tani membuat keuangan sangat rentan. Buruh tani harus memiliki sumber pemasukan alternatif. Memelihara ayam kampung, bebek, atau kambing paron (bagi hasil) sebagai tabungan hidup. Memanfaatkan teras atau halaman rumah untuk menanam sayuran mahal (seperti cabai atau pakcoy) di dalam polybag. Mengambil pekerjaan sampingan seperti membuat anyaman atau pengolahan makanan saat musim kemarau.

Kedua, Naik Kelas Menjadi Penggarap atau Mitra. Menjadi buruh lepas memiliki posisi tawar yang paling rendah dalam rantai pasok pertanian. Berusaha mengupgrade status dari buruh harian menjadi petani penggarap lahan milik orang lain dengan sistem bagi hasil yang adil. Koperasi membantu buruh tani mendapatkan akses pupuk lebih murah dan memotong jalur tengkulak yang merugikan.

Ketiga, Peningkatan Keterampilan (Skill Upgrading). Mengubah nasib membutuhkan keahlian baru agar nilai tawar di pasar kerja meningkat. Belajar pertanian organik. Harga jual produk organik jauh lebih tinggi. Buruh yang ahli membuat pupuk kompos organik memiliki nilai jual lebih. Belajar mengoperasikan alat berat pertanian modern (seperti traktor roda empat atau combine harvester). Operator alat modern dibayar jauh lebih tinggi daripada buruh cangkul. Mengikuti pelatihan kerja gratis dari pemerintah (seperti Balai Latihan Kerja/BLK) untuk belajar pertukangan, menjahit, atau montir

Keempat. Manajemen Keuangan Mikro.
Pendapatan yang kecil tetap harus dikelola dengan ketat agar tidak terus terjebak utang tengkulak. Hindari meminjam uang ke rentenir atau tengkulak untuk kebutuhan sehari-hari yang mengikat hasil panen masa depan. Mengubah sisa uang receh menjadi aset yang sulit dicairkan secara impulsif, seperti celengan emas pegadaian atau bibit ternak.

Kelima, Memutus Rantai Generasi Lewat Pendidikan. Investasi terbesar untuk mengubah nasib jangka panjang adalah memastikan anak-anak buruh tani mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Cari informasi dan pastikan anak terdaftar dalam program KIP (Kartu Indonesia Pintar) Sekolah hingga KIP Kuliah. Mengarahkan anak ke sekolah kejuruan agar siap kerja begitu lulus dan bisa langsung membantu perekonomian keluarga.

Di negeri ini, buruh tani sering disebut selaku anak bangsa korban kebijakan. Kehidupan yang sekedar menyambung nyawa lebih banyak disebabkan oleh dua jenis kemiskinan (alami dan struktural) yang saling melengkapi. Itu sebabnya, terobosan cerdas yang dapat ditempuh adalah bagaimana kemampuan kita untuk membebaskan mereka dari suasana hidup miskin dan melarat. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Sekedar Menyambung Nyawa
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *