MajmusSunda News, Kolom OPINI, Kamis (24/07/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Sejarah Berdirinya CU Keling Kumang: Dari Seminar Budaya Dayak hingga Lompatan Kuantum Rp 3 Triliun” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Anggota Dewan Pini Sepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN Tahun 2023-2026.
Pendahuluan
Koperasi Kredit (CU) Keling Kumang merupakan salah satu lembaga keuangan mikro yang berakar dari kebutuhan masyarakat pedalaman Kalimantan Barat. Berdirinya CU Keling Kumang tidak terlepas dari peran seorang tokoh visioner bernama Bapak Munaldus, alumni Kimia Murni ITB tahun 1990, putra Tapang Sambas dan sarjana pertama dari kampungnya. Esai ini menguraikan sejarah berdirinya CU Keling Kumang mulai dari gagasan yang muncul dalam sebuah seminar budaya Dayak pada tahun 1992, proses pendiriannya pada tahun 1993, perjalanannya selama lebih dari tiga dekade, hingga kabar terbaru bahwa asetnya akan menembus Rp 3 triliun pada Oktober 2026. Semua ini kemudian melahirkan sebuah buku penting berjudul Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman–Studi kasus koperasi kredit Keling Kumang 1993–2025.
Esai ini merupakan bagian dari Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, sebuah rangkaian refleksi dan dokumentasi tentang bagaimana nilai-nilai kooperasi tumbuh dan berakar di bumi tropika Indonesia dari pedalaman Kalimantan hingga menjadi gerakan yang menginspirasi.
—
Gagasan Awal: Seminar dan Expo Budaya Dayak 1992
Sejarah CU Keling Kumang bermula dari keikutsertaan Munaldus dalam Seminar dan Expo Budaya Dayak yang diadakan pada 26–28 November 1992 di Pontianak. Acara bergengsi ini diselenggarakan oleh Institute of Dayakology Research and Development (IDRD) dan menghadirkan tokoh-tokoh Dayak dari seluruh Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei. Seminar berlangsung di Hotel Kapuas Palace, sedangkan Expo Budaya Dayak digelar di Auditorium Universitas Tanjungpura.

Dalam seminar tersebut, Munaldus sangat terkesan dengan paparan AJ. Nihin, seorang putra Dayak dari Kalimantan Tengah yang juga menjabat sebagai Bupati Barito Utara. Sang Bupati menceritakan keprihatinannya terhadap kemiskinan masyarakat Dayak di sana dan upayanya memperbaiki nasib mereka. Usai paparan tersebut, Munaldus merenung bahwa nasib masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, khususnya di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, tidak jauh berbeda. Wajah kemiskinan masih membelenggu mereka: tanpa tahu jalan keluar, menyekolahkan anak, membangun rumah layak, dan menjadikan lahan lebih produktif adalah hal yang sangat sulit.
Dari perenungan itulah muncul gagasan di kepala Munaldus untuk mendirikan credit union di kampung kelahirannya. Credit union dipandang sebagai penyedia kredit untuk peningkatan kondisi ekonomi, sosial, dan pendidikan warga; alat pengorganisasian untuk mempertahankan tanah agar tidak dijual kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit; serta sarana belajar.
—
Rapat Keluarga dan Pendirian CU Keling Kumang
Seminggu setelah seminar, Munaldus mengundang adik-adik dan keluarganya dari kampung Tapang Sambas dan Tapang Kemayau yang tinggal di Pontianak untuk rapat di rumah kontrakan adiknya, Masiun, di Gang Selat Lombok II, Siantan, Pontianak. Rapat sore itu dihadiri oleh Masiun (guru SMP Santo Fransiskus Asisi), Mikael (karyawan PT. Tanah Sakti), Hadrianus Lukas (karyawan PT. Tanah Sakti), Alipius (karyawan PT. Vitamo), Martina (siswi SMA Santo Fransiskus Asisi), Mulyana (siswi SMP Santo Fransiskus Asisi), dan Anu (alumni Buluh Kuning, Manis Raya yang bekerja di Pontianak).
Topik utama rapat adalah gagasan mendirikan CU di Kampung Tapang Sambas dan Tapang Kemayau berdasarkan pengalaman sukses C.U. Pancur Kasih, Pontianak. Kebetulan Munaldus adalah anggota pendiri CU Pancur Kasih dengan Nomor Buku Anggota 006. Semua peserta rapat setuju dengan gagasan tersebut. Munaldus kemudian mengusulkan nama CU Keling Kumang, terinspirasi dari cerita Buahmain di Rumah Punyong dengan legenda Keling dan istrinya Kumang yang sangat populer. Semua hadir menyetujui.
Rapat kedua diadakan untuk mematangkan ide. Abang Munaldus, Redemptus Musa, yang saat itu menjadi guru di Kota Ketapang, ikut serta setelah mengikuti pelatihan di Pontianak. Rapat memutuskan rencana tindak lanjut: mengomunikasikan ide kepada pemuka masyarakat di Tapang Sambas dan Tapang Kemayau, seperti orang tua Munaldus sendiri (Bapak Rurut dan Ibu Theresia Ina), Kepala Desa Tapang Semadak (Samin), Kepala Dusun Tapang Sambas (Bapak Nintin), Kepala Dusun Tapang Kemayau (Bapak Agus), dan kepada semua guru-guru di sana (Paulus Perang, Simon Petrus, FX. Omeng, A.H. Suyanto, Carolus Sanga Laga, dll.), serta pemuka masyarakat lainnya. Tugas ini diberikan kepada Hadrianus Lukas (Anus).
Hadrianus Lukas melaporkan bahwa tanggapan masyarakat baik, meskipun sebagian besar masih ragu. Lalu ditetapkan rapat pendirian C.U. Keling Kumang pada tanggal 25 Maret 1993 malam.
Munaldus dan Masiun pulang kampung naik bis untuk ikut rapat pendirian dengan membawa satu kardus perlengkapan operasional CUKK berupa ATK, cap, satu buah kalkulator kecil seharga Rp. 11.000,-, SPM (Surat Permohonan Menjadi Anggota), Formulir Permohonan Kredit, buku DUM/DUK, Buku Kas Harian, dan Buku Jurnal Kas. Semua uang untuk membelinya dikeluarkan dari kantor pribadi Munaldus dan Masiun. Kelengkapan administrasi itu sangat berguna agar C.U. KELING KUMANG dapat melayani anggota.
Hadrianus Lukas yang di kampung dipanggil Anus sebelum hari pendirian sudah beberapa hari di kampung untuk memastikan acara berjalan lancar. Rapat pendirian CU. Keling Kumang diadakan di rumah Bapak Simon Petrus dan Ibu Sema. Peserta yang hadir berjumlah sekitar 68 orang.
Malam itu rapat berjalan tegang. Munaldus mempersiapkan sebuah ensangan (nyanyian tradisional) yang diajarkan oleh ibunya. Saat malam semakin larut dan keputusan berdirinya CUKK belum juga tercapai, Munaldus melantunkan ensangan sekadar untuk menghibur. Waktu itu beberapa orang mulai mau pulang. Akhirnya, mereka tidak jadi pulang dan menyaksikan Munaldus ensangan sambil membaca di secarik kertas.
Warga yang langsung menjadi anggota CUKK pada malam itu hanya 12 orang dan total simpanan terkumpul Rp 291.000,-. Karena jumlah anggota pendiri malam itu belum mencapai 20 orang sesuai ketentuan Undang-Undang Koperasi, maka diputuskan anggota pendiri adalah yang menjadi anggota sampai akhir Maret 1993. Akhirnya hanya ada 26 orang yang menjadi anggota dan mereka itulah yang menjadi Pendiri CUKK dengan Nomor Buku Anggota 01 sampai 26.
—
Susunan Kepengurusan Pertama CU Keling Kumang (25 Maret 1993 – 31 Desember 1993)
Pada malam pendirian C.U. KELING KUMANG tersebut, susunan Pengurus dan Pengawas CUKK terbentuk lalu menunjuk saudara Sila (Alias Persius) sebagai pelaksana harian. Ditetapkan juga, semua kegiatan pelayanan dilakukan di rumah keluarga Sila di Kampung Tapang Kemayau.
PENASEHAT:
1. Drs. AR. Mecer (Ketua Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih)
2. Markus Samin (†) (Kades Tapang Semadak)
3. V. Nintin (†) (Kadus Tapang Sambas)
4. Drs. Stefanus Masiun
DEWAN PIMPINAN:
1. Ketua: Drs. Munaldus
2. Wakil Ketua: Paulus Perang (†)
3. Sekretaris: Suryati Ibah
4. Bendahara: Simon Petrus
5. Anggota: Indiarno (India)
PENGAWAS:
1. Ketua: A. H. Suyanto
2. Sekretaris: F. X. Omeng
3. Anggota: Uncang
PANITIA KREDIT:
1. Ketua: Paulus Perang (ex officio)
2. Sekretaris: Alias Persius (Sila) – sekaligus sebagai Pelaksana Harian
3. Anggota: Hadrianus Lukas
—
Dari Rp 291.000 Menuju Rp 3 Triliun: Lompatan Kuantum CU Keling Kumang
Pada bulan Oktober 2026 ini, Pak Munaldus menyampaikan sebuah berita yang sungguh menggembirakan: aset CUKK akan menembus angka Rp 3 triliun. Angka ini luar biasa jika kita mengingat titik nolnya. Pada malam pendirian, 25 Maret 1993, total simpanan yang terkumpul hanya Rp 291.000—dari 12 orang yang langsung menjadi anggota, dan kemudian berkembang menjadi 26 anggota pendiri. Tidak ada dana bantuan pemerintah. Tidak ada pinjaman dari bank. Semuanya tumbuh dari simpanan anggota, dari kepercayaan masyarakat, dari gotong royong yang berakar pada nilai-nilai budaya Dayak.
Inilah yang saya sebut sebagai lompatan kuantum—sebuah lompatan yang tidak linier, melainkan melompat dari satu tingkat energi ke tingkat energi yang sama sekali berbeda. Dari Rp 291.000 menjadi Rp 3 triliun berarti pertumbuhan lebih dari 10 juta kali lipat dalam kurun sekitar 33 tahun. Jika kita hitung secara sederhana, ini setara dengan pertumbuhan majemuk sekitar 60% per tahun selama tiga dekade lebih. Angka yang nyaris mustahil bagi lembaga keuangan konvensional mana pun, tetapi mungkin bagi sebuah koperasi kredit yang dibangun di atas fondasi kepercayaan dan kebersamaan.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah kemandiriannya. CUKK tidak pernah menerima dana bantuan pemerintah. CUKK tidak pernah meminjam dari bank. Semua modal tumbuh dari dalam: dari simpanan anggota, dari disiplin menabung, dari pendidikan anggota yang terus-menerus, dan dari tata kelola yang menjaga kepercayaan. Ini adalah bukti bahwa koperasi kredit—jika dikelola dengan benar, dengan nilai-nilai yang benar, dan oleh orang-orang yang benar—dapat menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat tanpa bergantung pada belas kasihan pihak luar.
Dalam kerangka Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, pencapaian ini menjadi pelajaran berharga: bahwa kooperatisasi di bumi tropika bukanlah utopia. Ia bisa menjadi nyata. Ia bisa menghasilkan lompatan kuantum. Ia bisa membangun peradaban dari pedalaman.
—
Dari CU Keling Kumang hingga Buku Koperasi Kuantum
Perjalanan CU Keling Kumang dari sebuah rapat keluarga sederhana di Pontianak hingga menjadi koperasi kredit dengan aset Rp 3 triliun merupakan kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah komunitas dapat membangun peradaban dari pinggiran. Pengalaman, tantangan, dan keberhasilan CU Keling Kumang kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman–Studi kasus koperasi kredit Keling Kumang 1993–2025.
Buku ini hadir sebagai studi kasus yang mendalam tentang bagaimana koperasi kredit dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial-ekonomi di daerah pedalaman. Istilah “kuantum” dalam judul buku tersebut merujuk pada lompatan besar yang dialami masyarakat Tapang Sambas dan Tapang Kemayau—dari kondisi kemiskinan menuju kemandirian ekonomi melalui semangat gotong royong dan pengorganisasian yang tepat. Kini, dengan kabar aset yang akan menembus Rp 3 triliun, istilah “kuantum” itu semakin menemukan pembenarannya.
Buku ini tidak hanya mencatat sejarah, tetapi juga menganalisis faktor-faktor keberhasilan CU Keling Kumang, seperti kepemimpinan visioner, partisipasi anggota, pendidikan berkelanjutan, dan nilai-nilai budaya lokal yang diintegrasikan dalam praktik koperasi. Dengan demikian, Koperasi Kuantum menjadi sumber pembelajaran berharga bagi pengembangan koperasi kredit di Indonesia dan negara-negara lain, khususnya di wilayah pedalaman.
Dalam kerangka Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, buku ini menjadi cermin bagaimana nilai-nilai kooperasi bertemu dengan realitas tropika: tanah yang subur, masyarakat yang guyub, namun juga tantangan geografis dan ekonomi yang tidak ringan. Kooperatisasi di wilayah tropika menuntut adaptasi, ketekunan, dan pemahaman mendalam tentang budaya lokal—sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh CU Keling Kumang.
—
Perjalanan Darat yang Bermakna: Menuju Rapat Pimpinan CUKK di Ketapang
Pada 23 September 2026, saya, Agus Pakpahan, mendapat kehormatan diundang untuk menyampaikan isi buku Koperasi Kuantum pada acara rapat pimpinan CUKK di Ketapang yang dijadwalkan pada 24 September 2026. Namun, akibat kabut asap yang melanda Kalimantan, kami tidak bisa naik pesawat dari Pontianak ke Ketapang. Akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat ke Ketapang menggunakan jalan darat dengan lama perjalanan sekitar 10 jam.
Lama perjalanan ini justru sangat berharga bagi saya. Kami jalan bersama dalam satu mobil, bersama para pendiri CU Keling Kumang, Bapak Munaldus dan Bapak Masiun. Ini suatu kehormatan yang tidak ternilai. Sepanjang jalan, kami berdiskusi macam-macam isu, termasuk isi buku utama dari buku Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman–Studi Kasus Koperasi Kredit Keling Kumang 1993–2025 yang saya tulis. Lamanya perjalanan menjadi tak terasa. Terima kasih untuk semua diskusi yang hangat, tajam, dan sangat bermakna. Mudah-mudahan menjadi bahan untuk menulis Edisi II dari buku Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman II.
Perjalanan darat ini menjadi simbol tersendiri: bahwa perjuangan membangun peradaban dari pedalaman tidak pernah melalui jalan yang mudah dan instan. Ia menuntut ketekunan, kebersamaan, dan kesediaan untuk melewati proses panjang—sebagaimana para pendiri CUKK yang telah menempuh perjalanan sejak tahun 1993. Diskusi di sepanjang perjalanan itu memperkaya pemahaman saya tentang dinamika nyata yang dihadapi CUKK, sekaligus menegaskan bahwa buku Koperasi Kuantum bukanlah akhir, melainkan awal dari refleksi yang lebih dalam untuk edisi berikutnya.
Dalam konteks Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi, perjalanan darat ini menjadi metafora yang kuat: kooperatisasi di bumi tropika tidak dapat dipisahkan dari kondisi alamnya. Kabut asap, jalan berliku, dan jarak yang jauh adalah bagian dari realitas tropika yang harus dihadapi dengan semangat kebersamaan. Dan justru dalam keterbatasan itulah, nilai-nilai kooperasi—gotong royong, solidaritas, dan saling pengertian—menemukan bentuknya yang paling autentik.
—
Refleksi: Pelajaran dari Lompatan Kuantum CUKK
Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari perjalanan CU Keling Kumang, terutama dengan kabar aset yang akan menembus Rp 3 triliun:
Pertama, kemandirian adalah kunci. CUKK membuktikan bahwa koperasi tidak perlu bergantung pada bantuan pemerintah atau pinjaman bank. Modal dari anggota, jika dikelola dengan disiplin dan kepercayaan, dapat menjadi kekuatan yang jauh lebih besar dan berkelanjutan.
Kedua, nilai-nilai budaya lokal adalah fondasi yang kokoh. Legenda Keling dan Kumang, semangat ensangan, dan tradisi gotong royong bukan sekadar hiasan. Mereka adalah energi spiritual yang menggerakkan anggota untuk terus menabung, terus percaya, dan terus bersama.
Ketiga, pendidikan anggota adalah investasi jangka panjang. CUKK tidak hanya memberikan kredit; ia mendidik anggotanya tentang pentingnya menabung, mengelola keuangan, dan membangun masa depan. Inilah yang membedakan koperasi kredit dari lembaga keuangan biasa.
Keempat, lompatan kuantum membutuhkan waktu. Dibutuhkan 33 tahun untuk sampai ke titik ini. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada keajaiban instan. Yang ada adalah kerja keras, kesabaran, dan konsistensi.
Kelima, kooperatisasi adalah jalan menuju peradaban. CUKK bukan sekadar lembaga keuangan. Ia adalah gerakan peradaban. Ia mengubah cara pandang masyarakat tentang ekonomi, tentang masa depan, tentang diri mereka sendiri.
—
Penutup
Sejarah berdirinya CU Keling Kumang adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, dari sebuah rapat keluarga, dari keprihatinan seorang putra daerah yang ingin membebaskan bangsanya dari kemiskinan. Melalui seminar budaya Dayak tahun 1992, Munaldus dan keluarganya berhasil menanamkan benih koperasi yang kemudian tumbuh menjadi pohon rindang tempat berteduh bagi banyak orang. CU Keling Kumang bukan sekadar lembaga keuangan; ia adalah gerakan sosial yang melahirkan buku Koperasi Kuantum, sebuah warisan pemikiran yang akan terus menginspirasi generasi berikutnya untuk membangun peradaban dari pedalaman.
Dari Rp 291.000 menjadi Rp 3 triliun. Dari 12 orang menjadi puluhan ribu anggota. Dari sebuah rumah kontrakan di Gang Selat Lombok II menjadi lembaga keuangan mikro yang disegani. Inilah lompatan kuantum yang nyata—bukan fiksi, bukan utopia, melainkan kenyataan yang dibangun dengan darah, keringat, dan air mata selama lebih dari tiga dekade.
Perjalanan darat menuju Ketapang pada September 2026 menjadi pengingat bahwa semangat itu masih hidup—bahwa para pendiri CUKK masih terus berdiskusi, merenung, dan bergerak bersama. Mudah-mudahan Edisi II dari buku Koperasi Kuantum: Membangun Peradaban dari Pedalaman dapat segera terwujud, sebagai persembahan bagi perjalanan panjang koperasi kredit di Indonesia.
Serial Tropikanisasi-Kooperatisasi ini akan terus mencatat dan merefleksikan bagaimana nilai-nilai kooperasi tumbuh di bumi tropika Indonesia—dari pedalaman Kalimantan, dari rapat-rapat keluarga, dari perjalanan-perjalanan darat yang melelahkan namun bermakna. Karena di sanalah, dalam perjuangan sehari-hari masyarakat tropika, kooperasi menemukan jiwa dan raganya.
Dan ketika aset CUKK benar-benar menembus Rp 3 triliun, kita akan mengenang kembali malam 25 Maret 1993, ketika 26 orang pendiri duduk bersama di rumah Bapak Simon Petrus dan Ibu Sema, melantunkan ensangan, dan tanpa mereka sadari, sedang menulis sejarah sebuah peradaban baru.
—
Ketapang, 24 September 2026
***
Judul: Sejarah Berdirinya CU Keling Kumang: Dari Seminar Budaya Dayak hingga Lompatan Kuantum Rp 3 Triliun
Penulis: Agus Pakpahan
Editor: Raka Alvaro Triputra












