Puasa Kuasa

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Rabu (17/06/2026)  Artikel berjudul “Puasa Kuasa” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, kehidupan tanpa rasa berdosa rasa bersalah dan rasa malu adalah kemabukan yang mengancam kewarasan. Saat nurani tumpul, kuasa mudah menjelma angkara. Karena itu, keselamatan bersama menuntut kita terutama elite negeri kembali ke jalan cahaya.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Puasa adalah panggilan Cinta untuk pulang. Ia mengosongkan diri agar jiwa diisi cahaya Ilahi, mengingatkan kefanaan, dan menajamkan kesadaran bahwa tak ada pengawasan setajam nurani yang merasa dilihat Yang Mahamelihat.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun benteng batin. Di ruang sunyi tanpa saksi, hanya rasa salah dan malu yang mencegah pengkhianatan. Dari sanalah karakter ditempa: kejujuran dijaga dan amanah dipelihara.

Bagi pemimpin, puasa adalah sekolah integritas. Ia mendidik sikap ugahari, tahu batas dan mengenal kata cukup. Menahan yang halal di siang hari menjadi latihan membatasi syahwat kuasa. Jabatan bukan hak istimewa, melainkan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.

Puasa juga melatih empati. Lapar dan dahaga mengingatkan pada derita rakyat, menumbuhkan kepekaan pada ketidakadilan, tak memperlakukan derita rakyat hanya dengan takaran statistika. Ia menanamkan disiplin dan keberanian moral: berani mengakui salah, meminta maaf, dan memperbaiki kebijakan yang keliru; tidak silau pujian, tidak tergoda keserakahan, dan tidak dikuasai ambisi.

Pemimpin yang ditempa puasa memahami bahwa kekuasaan adalah sarana melayani. Ia menjaga lisan dari dusta, tangan dari korupsi, dan keputusan dari keberpihakan yang culas. Tanpa rasa salah dan malu, kuasa hanya melahirkan kesombongan dan kehilangan kemanusiaan.

Di ujung perjalanan, yang tersisa bukan tahta atau harta, melainkan jejak kebaikan dan kehormatan yang dapat dijaga bukan oleh mereka yang merasa tahu, melainkan mereka yang tahu merasa di hadapan sesama dan Sang Pencipta.

***

Judul: Puasa Kuasa
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *