MajmusSunda News – Bandung, Sabtu (15/08/2026) – Siang itu saya bertemu Lord Baden-Powell di bawah sebuah pohon besar. Entah pohon apa. Yang jelas bukan pohon kelapa, meskipun di atasnya tergantung spanduk lambang tunas kelapa dan foto bapak-bapak entah siapa. Baden-Powell duduk sambil memegang tongkat. Topinya miring sedikit. Wajahnya tampak bingung melihat ratusan orang berseragam Pramuka sedang berbaris di lapangan.
“Are they Scouts?” tanyanya.
“Betul, Lord.”
“Why are they marching for three hours?”
“Sedang latihan kedisiplinan.”
“After that?”
“Foto bersama.”
“After that?”
“Upload Instagram.”
Ia terdiam.
Lalu menatap langit.
Mungkin sedang meminta maaf kepada Tuhan karena dulu pernah mendirikan gerakan kepanduan.
Saya: Lord, bagaimana kesan Anda melihat Pramuka hari ini?
Baden-Powell: Luar biasa.
Saya: Luar biasa bagus?
Baden-Powell: Luar biasa banyak yang ditempel di seragamnya.
Saya melihat anak-anak memakai baju cokelat muda, celana cokelat, topi, setangan leher, ring, badge, tanda kecakapan, tanda jabatan, tanda regu, tanda daerah, sampai tanda yang saya sendiri tidak tahu artinya.
Saya dulu membuat Scouting supaya anak muda belajar hidup. Sekarang tampaknya anak muda belajar memasang atribut.
Saya: Tapi seragam penting untuk identitas, Lord.
Baden-Powell: Tentu. Seragam itu identitas. Tetapi kalau orang hanya sibuk dengan identitas dan lupa isi kepala, itu bukan pendidikan. Itu katalog pakaian.
Saya lihat seorang anak dimarahi karena setangan lehernya miring tiga sentimeter. Tapi ketika ditanya bagaimana menolong temannya yang sedang kesulitan, dia malah googling.
Aneh sekali. Kompas di HP-nya ada. Kompas moralnya sedang loading.
Saya: Sekarang banyak kegiatan Pramuka yang sangat resmi.
Baden-Powell: Saya lihat. Upacaranya panjang sekali. Pidato pembinanya lebih panjang daripada perjalanan saya keliling Afrika. Anak-anak berdiri satu jam mendengarkan sambutan tentang kemandirian. Setelah selesai, mereka pulang dijemput orang tuanya sampai depan gerbang. Saya hampir menangis.
Saya: Ada semboyan, Lord: Scout today, leader tomorrow.
Baden-Powell: Bagus sekali.
Pramuka hari ini, pemimpin esok hari.
Tapi saya khawatir sekarang berubah menjadi:
Leader today, Scout tomorrow.
Hari ini jadi pejabat dulu. Besok baru pakai seragam Pramuka. Ia tertawa kecil.
“Kadang orang menjadi ketua organisasi kepanduan bukan karena pernah berkemah, tetapi karena pernah berkampanye.”
Saya tersedak kopi.
Saya: Jadi Anda melihat ada politisasi?
Baden-Powell: Saya orang Inggris. Saya berusaha sopan. Mari kita sebut saja… “pemanfaatan semangat kepanduan untuk kepentingan yang sama sekali tidak membutuhkan kompas.”
Saya mengangguk. Dia melanjutkan. “Scouting seharusnya membentuk manusia supaya mampu berdiri sendiri. Bukan menjadi barisan manusia yang berdiri ketika seorang pejabat datang.”
Saya: Tetapi pejabat juga perlu dekat dengan Pramuka.
Baden-Powell: Sangat perlu. Asal Pramuka tidak dijadikan dekorasi kekuasaan. Anak-anak bukan pagar betis. Bukan latar belakang foto. Bukan massa seragam yang disusun supaya sebuah acara terlihat meriah. Pramuka harus dekat dengan masyarakat. Bukan hanya dekat dengan podium.
Tiba-tiba dari lapangan terdengar aba-aba:
“SIAP… GRAK!”
Baden-Powell kaget.
“Why are they shouting?”
“Melatih kepemimpinan, Lord.”
Ia menatap saya lama sekali.
“Leadership is not shouting.”
Lalu ia berdiri.
“Pemimpin bukan orang yang paling keras memberi aba-aba. Pemimpin adalah orang yang tahu ke mana rombongan harus berjalan.”
Saya mencatat kalimat itu. Ia menambahkan:
“Kalau tidak tahu tujuan, suara keras hanya membuat orang tersesat dengan lebih disiplin.”
Saya berhenti mencatat. Kalimat terakhir terlalu mirip keadaan banyak organisasi.
Saya: Bagaimana dengan kegiatan perkemahan sekarang?
Baden-Powell: Menarik.
Dulu berkemah untuk belajar bertahan hidup. Sekarang banyak yang berkemah untuk membuat konten. Api unggun belum menyala, kamera sudah menyala. Tenda belum berdiri, pose sudah berdiri. Ketika hujan turun, semuanya panik mencari sinyal. Padahal tujuan masuk hutan salah satunya justru supaya manusia sesekali kehilangan sinyal dan menemukan dirinya sendiri.
Saya: Tetapi zaman berubah, Lord.
Baden-Powell: Tentu zaman berubah.
Pramuka juga harus berubah. Teknologi bukan musuh. Anak Pramuka harus menguasai teknologi, kecerdasan buatan, lingkungan, kebencanaan, pangan, perubahan iklim, kewirausahaan, pertolongan pertama, bahkan literasi digital. Yang tidak boleh berubah adalah wataknya.
Kejujuran. Keberanian. Kemandirian. Kesetiakawanan. Kemampuan menolong. Dan rasa tanggung jawab.
Kalau itu hilang, Pramuka tinggal kostum.
Saya: Jadi masalah Pramuka sekarang apa?
Baden-Powell mengambil tongkatnya. Ia menggambar sebuah lingkaran di tanah.
“Gerakan pendidikan sering terkena penyakit organisasi.”
“Apa itu?”
“Ketika administrasi lebih penting daripada manusia.”
Ia menggambar lingkaran kedua.
“Ketika jabatan lebih menarik daripada pengabdian.”
Lingkaran ketiga.
“Ketika rapat lebih sering daripada kegiatan.”
Lingkaran keempat.
“Ketika orang dewasa berebut posisi dalam organisasi anak muda.”
Ia berhenti.
“Yang terakhir ini sangat lucu.”
“Kenapa?”
“Karena anak-anak disuruh belajar kerja sama, sementara orang dewasa berebut kursi.”
Saya pura-pura batuk.
Saya: Apakah Dasa Darma masih relevan?
Baden-Powell tertawa.
“Relevan sekali.”
Ia kemudian membaca beberapa nilai Pramuka.
Takwa. Cinta alam. Patriot. Suka bermusyawarah. Rela menolong. Disiplin. Bertanggung jawab.
Dapat dipercaya.
Kemudian ia bertanya:
“Apakah semuanya sudah dilaksanakan?”
Saya menjawab pelan:
“Masih sering dibacakan ketika upacara, Lord.”
“Oh.”
Ia mengangguk.
“So the document is safe.”
Kami tertawa. Angin berembus. Tunas kelapa raksasa di atas pohon bergoyang seperti sedang ikut malu.
Saya: Apa pesan Anda untuk Pramuka Indonesia?
Baden-Powell berdiri tegak.
“Kurangi seremoni.”
“Perbanyak pengalaman.”
“Kurangi pidato.”
“Perbanyak petualangan.”
“Kurangi perebutan jabatan.”
“Perbanyak pengabdian.”
“Kurangi anak-anak menjadi penonton.”
“Biarkan mereka memimpin.”
Ia berhenti sebentar.
“Dan satu lagi.”
“Apa, Lord?”
“Jangan terlalu sibuk membuat anak memakai seragam Pramuka.”
“Lalu?”
“Buatlah nilai Pramuka masuk ke dalam dirinya.”
Kemudian ia berjalan menuju hutan. Saya mengejarnya.
“Lord! Anda mau ke mana?”
Ia menoleh.
“Mencari Pramuka.”
Saya menunjuk lapangan.
“Itu kan ribuan Pramuka!”
Ia tersenyum.
“No.”
“They are wearing Scout uniforms.”
“I am looking for Scouts.”
Lalu ia menghilang di balik pepohonan. Di lapangan, upacara masih berlangsung. Seorang pejabat sedang memberi sambutan tentang pentingnya kemandirian generasi muda. Sambutannya sudah berlangsung empat puluh lima menit. Anak-anak mulai lemas. Pembina mulai melihat jam. Panitia mulai mencari konsumsi. Dan seorang Pramuka kecil di barisan paling belakang berbisik kepada kawannya:
“Kapan kita mulai latihan Pramukanya?”
Saya tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin Lord Baden-Powell juga tidak. Sebab boleh jadi persoalan terbesar Pramuka hari ini bukan kekurangan anggota. Bukan kekurangan seragam. Bukan kekurangan organisasi. Bahkan bukan kekurangan upacara. Yang mulai langka justru sesuatu yang dulu menjadi alasan Pramuka dilahirkan: “keberanian membuat manusia muda mampu berpikir, bertindak, memimpin, menolong, dan menentukan arah hidupnya sendiri.” Kompas memang bisa digantung di pinggang. Tetapi arah hidup tidak. Seragam bisa diwajibkan di sekolah, tetapi karakter—sayangnya—tidak bisa dijahit di lengan baju.
Selamat Hari Pramuka ke-65.

Judul: Wawancara Imajiner dengan Lord Baden-Powell – Pramuka Tua (Pratu)
Penulis: Ganjar Kurnia, Akademisi, Guru Besar, dan mantan Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) periode 2007–2015. Ahli Sosiologi Pedesaan dan Sosial Ekonomi Pertanian ini dikenal luas sebagai budayawan Sunda serta pendidik yang mengintegrasikan ilmu sosial dalam memahami realitas pertanian, saat ini menjadi Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS)
Editor: Parkah












