Politik Cerdas

Oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Selasa (14/04/2026) Artikel berjudul “Politik Cerdas” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, Indonesia telah membakar gunungan uang untuk politik pembodohan. Saatnya beralih menuju politik kecerdasan dengan menjalin hubungan sehat antara politik dan pendidikan.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Relasi mutualistis ini digambarkan William C. Kirby dalam Empire of Ideas. Universitas Berlin, pelopor universitas riset modern, didirikan (1810) sebagai senjata budaya untuk memperkuat negara Prussia pasca kalah perang dari Perancis (1806), dengan memperbaharui kuasa pengetahuan. Dalam sambutan pasca kekalahan, Raja Frederick William III mengatakan, “Negara harus menggantikan apa yang kalah dalam kekuatan fisik dengan kekuatan intelektual.”

Begitu pun sejarah universitas di AS. Universitas tertua di negara itu, Universitas Harvard, untuk masa terpanjang abad pertamanya merupakan universitas negara (bagian). Meski berubah jadi universitas swasta, tetap mempertahankan komitmennya bagi tujuan kepublikan. Selama perang Dunia I dan II, universitas ini jadi tanki pemikir dan pemasok teknologi bagi kemenangan perang.

Di China, Universitas Tsinghua didirikan dengan misi kebijakan luar negeri: untuk mempererat hubungan AS dan China dengan mengirimkan alumni Tsinghua ke AS. Saat ini Tsinghua merupakan penerima talenta terbaik AS dan internasional yang cepat naik tangga jadi institusi pendidikan tinggi kelas dunia.

Untuk jaya dan makmur, suatu negara tak bisa memiliki (banyak) universitas miskin. Kapasitas suatu bangsa bisa saja diukur dengan PDB atau kekuatan militernya, namun tak bisa mengabaikan fakta pentingnya mutu pendidikan dan penelitian.

Kekuatan ekonomi dan politik global terhebat dalam tiga abad terakhir merupakan pemimpin dalam pengetahuan dan kesarjanaan. Perancis mendominasi Eropa secara lebih bertahan dengan kekuatan ide ketimbang kekuatan militer. Abad 19, Britania, Perancis dan Jerman melesat jadi kekuatan dunia, bersamaan dengan keunggulannya dalam dunia pendidikan dan pengetahuan. Begitu pun kejayaan Asia Timur dan daya resiliensi Iran saat ini.

Tak ada perbantahan antara rezim liberalis-kapitalis dan sosialis-komunis akan pentingnya pengetahuan. Mao meyakini, “Sebanyak apa pun mimpi kita, alam akan memberikannya sejauh ada pengetahuan.“

***

Judul: Politik Cerdas
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *