Bedah Buku “BADUY: Masyarakat 1001 Tabu”

MajmusSunda, Serang, 12/02/2026 – telah berlangsung kegiatan bedah buku “Baduy: Masyarakat 1001 Tabu” yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang di ruang pertemuan hotel Horison TC-UPI Serang. Kegiatan bedah buku tersebut, menghadirkan pembicara yakni Sdr. Uday Suhada yang merupakan penulis buku (alumnus Universitas Muhammadiyah Malang), Prof. Dr. Retty Isnendes, M.Hum. (akademisi UPI Bandung), Ade Jaya Suryani, Ph.D. (akademisi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten) dan pemandu diskusi yakni Dr. Syarif Hidayat, M.Pd. (akademisi UPI Bandung). Kegiatan dihadiri sekitar 100 orang yang meliputi undangan, peserta, dan panitia.

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan doa pembuka dan kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya yang seluruhnya dipandu oleh mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Serang yang merupakan bagian dari keseluruhan perangkat kepanitiaan yang terlibat di dalamnya. Selanjutnya Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI Bandung yakni Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si. memberikan sambutan. Dalam sambutannya, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si. menjelaskan bahwa selain memiliki kampus utama, UPI juga memiliki beberapa kampus daerah yang tersebar-luas di Provinsi Jawa Barat dan Banten yakni kampus UPI Cibiru, Sumedang, Purwakarta, Tasikmalaya dan termasuk Serang. Adapun setiap kampus daerah tersebut, memiliki karakteristik dan basis pengembangan masing-masing yang bersifat khas.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Keuangan UPI Bandung, Prof. Dr. Rudi Susilana, M.Si. Sumber: Dokumentasi pribadi

Berdasarkan pada pembacaan terhadap potensi wilayah, kebutuhan masyarakat dan adaptasi terhadap perubahan zaman, UPI Serang kemudian memiliki karakteristik pengembangan pendidikan yang cenderung identik dengan basis kemaritiman. Terbukti dengan dibentuknya program studi S1 Kelautan dan Perikanan (sejak tahun 2018), Program Studi Sistem Informasi Kelautan (sejak tahun 2019) dan Program Studi Logistik Kelautan (2020).

Selanjutnya disebutkan juga oleh Prof. Rudi Susilana bahwa pihak UPI juga berkomitmen dalam membangun hubungan baik dan kerja sama dengan pihak pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat. Dalam hal ini, Provinsi Banten dan Sdr. Uday Suhada sebagai representasi aktivis sosial-politik yang juga menaruh perhatian yang serius dan intensif terhadap perkembangan dan perlindungan masyarakat adat Baduy. Sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja Sdr. Uday Suhada dalam mencatatkan hasil observasi dan pemikirannya terhadap kehidupan masyarakat Baduy, pihak UPI menyatakan rasa syukur dan kebahagiannya karena telah memiliki andil dalam memfasilitasi penerbitan buku tersebut melalui UPI Press (cetakan pertama, November 2025).

Setelah sambutan Wakil Rektor, kegiatan utama bedah buku “Baduy: Masyarakat 1001 Tabu” dipandu oleh Dr. Syarif Hidayat, S.Pd., M.Pd. yang menyatakan kekagumannya terhadap sikap dan perilaku masyarakat Baduy di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Provinsi Banten; yang menjalani kehidupannya selaras dengan alam dan hingga sejauh mana larangan, pantangan, tabu, atau pamali yang dinilainya penting untuk pahami dan didiskusikan dalam kegiatan tersebut.

Sdr. Uday Suhada penulis buku yang menjadi sarjana; alumni dari Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Muhammadiyah Malang, dipersilakan sebagai pembicara pertama dalam mempresentasikan hasil tulisannya. Pada kesempatan tersebut, beliau mengucapkan terima kasih terkhusus pada Rektor UPI Prof. Didi Sukyadi yang telah mengapresiasi dengan sangat tingginya; membantu mewujudkan buku dan menggelar acara bedah buku sehingga dirinya merasa dipangantenkeun; Wakil Rektor Prof. Rudi Susilana serta jajarannya yang telah hadir; Direktur dan para Wakil Direktur UPI Serang, Prof. Supriadi, Dr. Iik Nurulpaik, dan Dr. Dr. Yulianti Fitriani; editor buku Prof. Eri Kurniawan, para pembedah buku Prof. Retty Isnendes dan Ade Jaya Suryani, Ph.D., serta pemandu diskusi Dr. Syarif Hidayat.

Moderator, penulis buku, Porf. Retty, dan Ade Jaya Ph.D.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur Banten, beserta segenap jajarannya; Rektor UNTIRTA; Kapolda dan yang mewakilinya; Kajati Banten; praktisi hukum, dan yang lainnya yang telah hadir dan mengapresiasi kegiatan bedah buku tersebut. Kang Uday Suhada kemudian menyebutkan bahwa bukunya merupakan perluasan dan pendalaman dari buku awal Masyarakat Baduy dalam Rentang Sejarah (2013). Dalam buku Baduy, Masyarakat 1001 Tabu dirinya ingin meluruskan persepsi-persepsi atau stereotif-stereotif yang berkembang di masyarakat terhadap Baduy. Selain itu, buku tersebut diharapkan dapat menjadi panduan bagi pembaca dan pecinta/pengunjung karena memberikan gambaran yang lebih utuh dari pengalamannya bergaul dengan Baduy semenjak tahun 1994.

Ketika penulis buku selesai bicara, Wakil Gubernur Banten Dr. Rd. H. Achmad Dimyati Natakusumah, S.H., M.H., M.Si., hadir dengan jajarannya. Suasana menjadi ramai dan gembira. Setelah duduk sejenak, beliau memberi sambutan diawali dengan membaca pantun. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi pada penulis buku Sdr. Uday Suhada, menyapa yang hadir dan memberikan arahan-arahan persoalan jurnalistik dan sosial lainnya secara praktis. Setelah berpoto bersama, beliau meninggalkan ruangan dan mempersilahkan panitia meneruskan acaranya.

Wakil Gubernur Banten, Dr. Rd. H. Achmad Dimyati Natakusumah, S.H., M.H., M.Si.

Selanjutnya, pembicara kedua adalah Prof. Retty Isnendes, beliau membuka perbincangan dengan gambaram-gambaran sastrawi dan mengenangkan pertemuannya dengan para pegiat Baduy Kang Uday –demikian beliau menyebutnya, sebagai pegiat Banten Heritage dan Tb. Rifki Lutfi dari Save Baduy dalam upaya membantu masyarakat Baduy dan tanah ulayatnya dari projek pengeboran minyak Lundin Rangkas BV anak Perusahaan Lundin Swedia. Setelah itu, beliau membedah buku dari struktur buku dan menanggapi kelebihan dan kelemahan buku, termasuk isi dan mekanisme penulisan, di antaranya ukuran huruf yang dianggapnya sebagai tingkat keterbacaan kurang karena terlalu kecil. Prof. Retty atau yang dikenal sebagai penulis dengan nama Chye Retty Isnendes –sastrawan dan juga budayawan Sunda ini, memberikan analisis lanjutan dan kritik terhadap hal-hal yang seharusnya hadir dalam buku karya Kang Uday tersebut. Pembahasan beliau yang bersifat apresiatif dan pedagogis mengakhiri presentasinya dengan membaca carita mini Sunda mengenai seorang pemuda Baduy yang hendak pulang ke kampung halamannya setelah berkunjung ke sebuah kota.

Pembicara kedua adalah doktor lulusan Universitas Leiden, Ade Jaya Suryani, Ph.D.; dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sekaligus Kepala Pusat Penelitan dan Publikasi Ilmiah di UIN Banten dan pengurus Bantenologi Bidang Riset, mengulas dengan tajam dengan kritikan-kritikan pada bab-perbab yang telah ditulis penulis. Sebagai seorang peneliti yang menyelesaikan studi S2-S3 di Belanda, beliau banyak mengetengahkan referensi-referensi oriental Eropa yang menulis mengenai Baduy. Menurutnya banyak sekali data tentang Baduy yang ditulis oleh mereka, dan sebaiknya pada penulis sesudahnya mengkaji hal tersebut atau merujuk tulisan-tulisan tentang Baduy tersebut, hingga karyanya bukan pengulangan dari yang sudah ada, misalnya dari buku Saatnya Baduy Bicara karya Asep Kurnia, atau Judistira Garna, dll. Pendek kata, bahasan Ade Jaya Suryani, Ph.D. menekankan pada pemenuhan konvensi tulisan ilmiah mulai dari struktur, menulis kutipan, hingga isinya.

Setelah pembahas berbicara, Prof. Dr. Eri Kurniawan, menanggapi pembahasan. Menurutnya selaku editor, beliau sangat berhati-hati ketika mengedit. Sisi kebahasaan yang bisa diperbaiki atau disertakan, terutama istilah-istilah dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, itu upaya untuk memudahkan pembaca dari berbagai kalangan. Prof. Eri berkaca pada saat penelitian bahasa Baduy bersama tim tahun 2014-2022, bahasa Baduy tidak telanjang dan orang Baduy sangat berhati-hati dengan penggunaan bahasanya. Oleh karena itu, dapat dimengerti apa yang dituliskan Kang Uday sebagai orang luar dan orang-orang luar lainnya yang mungkin saja hanya menangkap bahasa yang hanya di permukaannya saja. Demikian diantaranya beliau menanggapi.

Suasana Bedah Buku

Penanggap selanjutnya adalah Sdr. Gelar Taufiq Kusumawardhana, S.Pd., M.Hum. yang memberi apresiasi atas buku yang telah terbit, karena buku atau karya yang baik itu yang selesai ditulis dan diterbitkan. Menurut calon doktor di UIN SGD Bandung ini, paradigma penelitian dan observasi antropologi terkait dengan studi Baduy, harus dipikirkan grand desain dan arah penelitiannya, sehingga kita tidak seperti masuk ke ‘keindahan hutan’ dan tersesat di dalamnya. Salah satu solusinya adalah menginventarisasi kembali dokumen-dokumen hasil penelitian dan arsip-arsip observasi era kolonial.

Penanggap terakhir adalah Dr. Yulianti Fitriani, S.Pd., M.Sn.; Wakil Direktur 2, Bidang Sumber Daya dan Kemitraan UPI Serang kemudian bertanya tentang judul buku, yang menurutnya tidak merepresentasikan isi tentang tabu. Beliau juga bertanya perbedaan tentang tabu, pamali, dan teu wasa, yang kemudian dijawab oleh penulis buku. Sebelum ditutup, Dr. Iik Nurulpaik, M.Pd., M.AP.; Wakil Direktur Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan dan Penjaminan Mutu: memberikan statemen mengenai diskusi sebagai tradisi intelektual di Banten akan di-leading oleh UPI Serang, setidaknya dua-tiga bulan sekali untuk menghidupkan pemikiran-pemikiran kritis dan intelektual di kalangan kaum intelektual dan akademisi. Statemennya disambut dengan tepukan meriah yang memperlihatkan harapan akan hidupnya kembali mimbar akademik dan intelektualitas di Banten yang dianggap mati suri.

Selain nama-nama yang telah disebut di muka, banyak juga akademisi, pejabat, dan pegiat yang bertahan sampai kegiatan berakhir jam 13.30 WIB. Mereka di antaranya: Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, MA. (Rektor UNTIRTA Banten) yang diwakilkan; Bernadeta Maria Erna Elastiyani, S.H., M.H. (Kajati Banten); Dulhamid (Issi Advokasi); M. Kadar (K. Hukum); Irjen (Pol) Hengki, S.I.K., H.H., S.I.P., M.Han. (Kapolda Banten); Razid Chaniago, S.H., M.H. (Praktisi Hukum); Usman Asshidiqi Qohara, S.Sos., M.Si. (Kadis Perpustakaan Prov. Banten); Eli Susiyanti, S.H., M.H., M.M. (Kadis Pariwisata Prov. Banten; Devianti Asmalasari, S.S., M.Pd. (Kepala Kantor Bahasa); Bagus Saefullalah (Pegiat Sosial (Di Peduli), Lilih Rohilah (Pengelola Data dan Informasi); Novia Rahmi (Penata Layanan Operasional); Mia Andaviana (Kompim); Fadilah (Penata Layanan Operasional); Ina Dinatah (Pamong Budaya); Atang Suharta (Analisis SDM aparatur); Elvin (Staf Disketapang); Uus Ustinawati; Nur Hidayah (Aisyiyah Kabser); Desta Eka Putri (Bank sampah Digital); Riska (Staf Dispar Banten); Teti Kemunis (Popkia); Murtasiah (Popkia); Ikhwanul Muslimin; Nur Afrianti; Epul Saepudin; Ratih Anggraini (Biro pemotda prov); Lita Rahmiati, S. Sos., M. PP. (BPK Wil VIII) yang diwakilkan, dan lain-lain.*

 

Writer: Gelar Taufiq Kusumawardhana; Chye Retty IsnendesEditor: Chye Retty Isnendes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *