Dibalik Stok Beras 4,8 Juta Ton

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Selasa (21/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Dibalik Stok Beras 4,8 Juta Ton” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Stok beras nasional saat ini mencapai hampir 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Bahkan, diperkirakan akan meningkat menjadi 6 juta ton pada bulan-bulan mendatang. Ini merupakan hasil kerja keras pemerintah dan petani dalam meningkatkan produksi beras dalam negeri menuju swasembada beras yang berkelanjutan (permanen).

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kenaikan stok beras ini juga berdampak positif pada stabilitas harga pangan, terutama selama bulan Ramadan. Harga beras yang biasanya menjadi penyumbang inflasi, kini terkendali dan tidak memberikan tekanan pada inflasi. Peran strstegis Bulog sebagai stabilisasi harga pangan, juga memberi sumbangan berarti bagi keseimbangan harga pangan di dalam ndgeri.

Selain merencanakan pembangunan 100 gudang penyimpanan pangan, Pemerintah juga telah mengambil langkah antisipatif dengan menyewa tambahan gudang berkapasitas 2 juta ton untuk memperluas kapasitas penyimpanan nasional. Ini menunjukkan komitmen pemerintah, khusus Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan target penyerapan gabah dan beras petani sebanyak empat juta ton yang ditugaskan pemerintah kepada Bulog pada tahun 2026 dapat tercapai melalui kolaborasi antara Bapanas, pemda, TNI/Polri, hingga masyarakat. Lebih jauh dijelaskan, pencapaian target empat juta ton ke depan, harus benar-benar terwujud sesuai dengan Arahan Bapak Presiden melalui peran banyak pihak.

Bulog mencatat cadangan stok beras yang ada di gudangnya per 3 April 2026 mencapai 4,8 juta ton. Ini merupakan prestasi yang luar biasa dan menggembirakan, dengan stok beras mencapai 4,8, juta ton, kita yakin bisa mewujudkan swasembada beras berkelanjutan tahun 2026 menuju swasembada pangan yang telah dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo beserta jajaran Kabinet Merah Putih.

Masalah utama dibalik dimilikinya stok beras 4,8 juta ton adalah disparitas antara Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dengan harga riil di pasaran. Ini berarti ada perbedaan yang cukup tajam antara harga yang seharusnya dibayar konsumen dan harga yang sebenarnya mereka bayar. Dalam hal ini, kebersdaan Bulog diharapkan mampu menjalankan peran selaku stabilisasi harga.

Faktor-faktor seperti penyerapan, distribusi, dan potensi penyimpangan di lapangan juga mempengaruhi stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Namun, perlu diingat bahwa stok beras 4,8 juta ton juga merupakan capaian yang patut diapresiasi, karena cukup untuk menjaga stabilitas pasokan dan memenuhi kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan.

Betul, stok beras yang melimpah bisa jadi pedang bermata dua ya. Di satu sisi, ini bisa jadi rahmat karena ketersediaan pangan terjamin, harga stabil, dan masyarakat bisa bernapas lega. Tapi, di sisi lain, ini bisa jadi tragedi pembangunan jika tidak dikelola dengan baik. Misalnya, jika produksi terus meningkat tanpa perencanaan yang matang, bisa terjadi surplus yang tak terkendali, harga turun, dan petani jadi rugi. Ini bisa berdampak pada penurunan produksi di masa depan, dan akhirnya kita malah kekurangan beras.

Pemerintah bisa lakukan beberapa strategi diantaranya : Pertama, pengembangan ekspor. Cari pasar luar negeri buat serap surplus beras, tapi harus pastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi dulu. Kedua, pengembangan diversifikasi. Dorong petani untuk tanam komoditas lain, biar gak bergantung sama beras aja.

Ketiga, perkuat stok cadangan. Tumpuk stok cadangan buat antisipasi kekurangan di masa depan. Keempat tingkatkan bantuan Sosial. Salurkan beras ke masyarakat kurang mampu, bantu tingkatkan kesejahteraan mereka. Kelima, inovasi. Dukung pengolahan beras jadi produk lain, kayak tepung beras, beras merah, atau bahkan bioetanol.

Akhirnya perlu dipersoalkan, berapa sebetulnya jumlah optimal stok beras nasional ? Kalau buat negara, stok beras biasanya dihitung berdasarkan kebutuhan konsumsi harian dan cadangan strategis. Di Indonesia, misalnya, kebutuhan beras harian sekitar 150.000 ton. Jadi, stok 1-2 bulan (sekitar 9-18 juta ton) biasanya dianggap cukup buat antisipasi kekurangan pasokan.

Tapi ini bisa berbeda-beda tergantung kebijakan negara dan kondisi produksi lokal. Stok cadangan beras pemerintah (CBP) Indonesia saat ini sudah mencapai 4,8 juta ton, bahkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). menyebutkan bahwa stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pemerintah hingga semester kedua tahun 2025. Ini merupakan pencapaian tertinggi sejak Bulog berdiri pada 1969.

Kebijakan pemerintah yang mendukung produksi dalam negeri, seperti peningkatan kuota pupuk bersubsidi dan harga gabah petani yang kompetitif, telah membantu meningkatkan produksi beras nasional. Bahkan, produksi beras Indonesia mampu mencapai 34,6 juta ton pada musim tanam 2024/2025, mengungguli
Thailand dan Vietnam.

Dengan stok yang cukup, Indonesia tidak hanya siap memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga berpotensi melakukan ekspor beras ke negara lain, seperti Malaysia. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Dibalik Stok Beras 4,8 Juta Ton
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *