Petani Bermartabat

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (30/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Petani Bermartabat ” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Komitmen “revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan” sekitar 25 tahun lalu, yang didalamnya juga terkait dengan reposisi dan refungsionalisasi, pada dasarnya merupakan kebijakan Pemerintah yang cukup seirama dengan semangat untuk melakukan “pemerdekaan petani” dari suasana hidup yang tidak merdeka, tidak adil dan tidak sejahtera.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Walau dalam perjalanannya terkesan masih menjadi wacana, atau masih menjurus ke sebuah jargon politik, namun dalam beberapa sisi, kita boleh optimis bahwa revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan yang sempat membahana dan menggaung ke seluruh pelosok tanah air, adalah sebuah “terobosan baru” Pemerintah guna secepatnya mewujudkan kesejahteraan petani.

Pemerintah mungkin akan merasa risi jika di tengah-tengah 80 tahun Indonesia merdeka, terekam masih banyak rakyatnya yang belum hidup sejahtera. Padahal di benak kita, yang dimaksud dengan merdeka itu jika petaninya sejahtera.

Revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan, sesungguhnya dapat kita pandang sebagai salah satu bukti nyata dari pembelaan Pemerintah terhadap petani. Kewajiban Pemerintah memang mensejahterakan rakyat.

Itulah alasannya mengapa dalam struktur Kabinet sebuah Pemerintahan, ada yang disebut dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Kelembagaan inilah yang diberi peran untuk secara serius mengusahakan tercapainya suasana sejahtera bagi rakyat.

Ironisnya, sekalipun dalam setiap Kabinet yang pernah hadir di negeri ini, senantiasa memasang kelembagaan Kesejahteraan Rakyat, namun dalam kenyataannya, kondisi sejahtera masih tetap tampil sebagai sesuatu yang utophis. Sebuah keadaan yang terkesan sulit untuk diwujudkan.

Kebangkitan petani untuk tampil menjadi pelaku utama dan strategis dalam proses pembangunan, tampak sudah semakin realistik. Pemberdayaan mau pun pemartabatan kaum tani yang dikemas lewat beragam kebijakan, juga sudah mulai kita rasakan hasilnya.

Tugas dan tantangan kita ke depan adalah sampai sejauh mana momentum yang sangat baik ini dapat dipertahankan ? Dapatkah kita konsisten terhadap apa-apa yang sudah kita sepakati dan dijadikan komitmen ?

Mampukah kita berjuang tanpa pamrih untuk selalu berada didalam idealismenya para petani ? Jawaban-jawaban atas persoalan inilah sebetulnya yang akan memberi warna ke arah mana kebangkitan petani akan bergerak.

Dihadapkan pada pokok-pokok masalah sebagaimana yang dipertanyakan diatas, jelas terlihat bahwa dalam menyongsong masa depan, para petani di negeri ini sudah seharusnya mulai berbenah diri dan berusaha seoptimal mungkin guna mencari pikiran-pikiran cerdasnya agar tidak terjebak dalam perjalanan waktu yang sedang bergulir.

Cita-cita bangsa yang intinya memberi titik tekan pada makna “sehat”, “cerdas” dan “sejahtera”, ada baiknya disikapi oleh para petani sebagai bagian yang tak terpisahkan dari niat dan kesungguhan Pemerintah untuk meningkatkan harkat dan martabat petani negara kita ke kondisi kehidupan yang lebih maju, tangguh dan sejahtera.

Semangat kita, tentu bukan hanya sekedar untuk “memberdayakan” namun yang lebih pokok lagi adalah sampai sejauh mana kita mampu “memartabatkannya”.

Ini penting dihayati, karena dalam konsep pemartabatan itulah terekam adanya keseriusan kita untuk memberi “makna kewenangan” kepada petani dalam mengapresiasikan sikap, tindakan dan wawasannya.

Selaku anak bangsa yang peduli dan hirau akan nasib dan kehidupan petani di Indonesia, kita tentu akan berbahagia sekiranya kaum tani mampu tampil menjadi warga Negara yang terhormat. Kita akan merasa bersyukur seandainya petani dapat merasakan nikmatnya kue pembangunan.

Kita pasti akan merasa tersanjung sekiranya petani berhasil memperoleh penghasilan yang layak. Dan kita pun tentu akan menjadi tegar kalau saja para petani nya mampu tumbuh menjadi putera negeri yang merdeka, mandiri serta bebas dari intrik yang menyengsarakan kehidupannya.

Pada kondisi yang demikian, sangatlah argumentative bila semangat politik untuk membangun “jati diri” petani sebagai bagian integral dari pembangunan manusia Indonesia seutuhnya itu, tentu akan dapat diwujudkan dalam kehidupan keseharian kita. Dan bukan lagi muncul menjadi “wacana” yang tidak berkesudahan. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Petani Bermartabat
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *