Pertahanan Diri Dalam Gangguan Kepribadian, Terkait Neuroscience & Cognitive Process

Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja (Guru Toge)

MajmusSunda News, Selasa (15/09/2026) – Artikel Berjudul “Pertahanan Diri Dalam Gangguan Kepribadian, Terkait Neuroscience & Cognitive Process” ini ditulis Oleh : Ernawan S Koesoemaatmadja/Pensiunan Guru Toge. Penulis merupakan Pinisepuh Pamangku Sunda/ Majelis Musyawarah Sunda, di dunia Industri (Textile,Bank, Perkebunan) pernah menjadi GM.Finance, GM.HRD, dan Direktur HRD di Rumah Sakit. Di dunia Pendidikan pernah menjadi Wakil Rektor bid.Kemahasiswaan &Alumni, Wakil Rektor bid.Sumberdaya dan Legal.

Gangguan kepribadian merupakan gangguan Psikologis, yang paling diremehkan oleh penderita, dan belum menjadi perhatian utama para Therapys atau konselor di Indonesia. Gangguan Kepribadian terjadi karena pergeseran nilai nilai di Masyarakat, yang mengakibatkan perilaku menyimpang, terlebih kondisi dikalangan Remaja dan Anak muda.

Dengan kondisi Negara yang sedang berlangsung seperti sekarang ini, ditambah berkecamuknya budaya Jahiliyah Modern yang hampir tidak terbendung, Perilaku anti sosial, Pasif – Agressive, Avoidance, Dependent, Paranoid, Obsesive Compulsive, bahkan Borderline, tumbuh dengan pesat di Masyarakat, dimana pula Gangguan penyakit Adiksi berdampak Biologis, Sosial dan Psikologis yang harus diatasi secara Integratif dan Intensif.

Hypersensitive seperti ini, akan menjadi lebih berat lagi bilamana Stimulud yang muncul dapat diassosiasikan secara langsung dengan situasi Traumatis yang dahulu pernah dialami yang bersangkutan. Dalam pelbagai kasus Commbat Exhaustion yang berat, Stupar juga amnesia dihasilkan dari suatu Repressi Temporer yang memungkinkan individu menghindarkan diri dari reaksi traumatis, disini Defence Mechanism yang digunakan adalah Repressi, kalau kita lihat dari faktor faktor Predisposisi Biologis mungkin kurang begitu nampak adanya gejala yang menyebabkan timbulnya Kelainan itu.

Tetapi bila kita kupas, faktor Predisposisi Psikologis maka penderita mempunyai predisposisi sbb : Ketidak matangan Emosional, terpisahnya seseorang dari lingkungan/komunitas, Rumah dan orang orang yang dicintainya, merasa harus mengorbankan kemerdekaan pribadinya, bermacam macam frustrasi, kesulitan 2 rumah tangga, Timbulnya rasa cemas.

Tetapi kalau dilihat dari Predisposisi Sosial, akan ditemukan 2 ( dua ) hal : bahwa seseorang yang tidak punya Identifikasi terhadap kelompoknya. ( atau kebanggaan terhadap kelompoknya ), akan memperlemah terhadap dirinya dan terisolir. Kedua tidak mempunyai perasaan hormat, faktor menambah kelainan tsb. Seperti periode Schock, biasanya terlihat bingung, apatis, linglung tanpa tujuan sampai seseorang menolongnya.

Periode Suggestible ,penderita cenderung pasif, mudah dipengaruhi, tingkah lakunya tidak efisien meskipun diberi tugas paling sederhsna. Periode Recovery, mendapatkan kembali keseimbangan , meskipun suka tegang, gugup, takut, menunjukkan gejala sukar konsentrasi, selalu ngantuk, mudah capek dan sering bangun malam terkena efect mimpi, pada reaksi Catastrophed biasanya dia merasa lelah sekali, rasa takut yang terus menerus, maupun Conflict Bathin menghadapi bahaya ( seakan akan ). Tetapi pada Individu yang pribadinya lebih Stabil, dan lebih terintegrasi, biasanya akan lebih cepat disembuhkan.

***

Judul: Pertahanan Diri Dalam Gangguan Kepribadian, Terkait Neuroscience & Cognitive Process
Penulis: Ernawan S Koesoemaatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *