Memudarnya Karisma Pertanian di Kalangan Kaum Muda

Oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (28/10/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Memudarnya Karisma Pertanian di Kalangan Kaum Muda” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ungkapan “memudarnya karisma pertanian di kalangan kaum muda” secara harfiah menggambarkan kondisi di mana sektor pertanian tidak lagi memiliki daya tarik, pesona, atau nilai prestise bagi generasi muda. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai pilihan karier yang membanggakan atau menjanjikan masa depan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Makna mendalam di balik ungkapan ini mencakup beberapa fenomena sosial dan ekonomi berikut:
1. Pergeseran Persepsi Sosial (Stigma Negatif). Pertanian sering kali dicitrakan secara keliru sebagai pekerjaan yang “kotor, melelahkan, dan miskin” (identik dengan lumpur, panas matahari, dan kemiskinan).Kaum muda cenderung mencari pekerjaan di sektor formal (kantoran atau industri kreatif) yang dianggap memiliki status sosial atau gengsi yang lebih tinggi di masyarakat.

2. Ketidakpastian Ekonomi dan Kesejahteraan. Sektor pertanian tradisional dinilai penuh risiko finansial akibat fluktuasi harga panen, ancaman gagal panen (perubahan iklim, hama), serta rantai distribusi yang sering kali merugikan petani kecil.Pendapatan yang tidak menentu ini membuat generasi muda lebih memilih menjadi pekerja kerah biru atau putih yang menawarkan gaji bulanan tetap dan kepastian karier.

3. Alih Fungsi Lahan dan Keterbatasan Akses. Semakin sempitnya lahan pertanian akibat alih fungsi menjadi perumahan atau industri membuat ruang gerak untuk bertani berkurang.Banyak anak muda di desa tidak lagi memiliki akses atau kepemilikan modal lahan yang cukup untuk memulai usaha tani yang produktif.

4. Tantangan Modernisasi (Petani Gurem vs. Agroteknologi). Karisma pertanian memudar karena yang dilihat oleh kaum muda adalah pola bertani konvensional yang menguras fisik.Di sisi lain, adopsi teknologi pertanian modern (smart farming, hidroponik, atau agribisnis digital) belum merata atau belum tersosialisasi dengan baik sebagai peluang bisnis yang keren dan modern.

Jika “karisma” ini terus memudar, dampaknya adalah krisis regenerasi petani. Indonesia berisiko kehilangan pelaku utama di sektor pangan, yang pada akhirnya dapat mengancam ketahanan pangan nasional di masa depan.

Kaitan antara pemudaran karisma sektor pertanian di kalangan kaum muda dengan Peringatan Sumpah Pemuda 2026 terletak pada reposisi makna “tumpah darah yang satu” dan “kedaulatan bangsa” di era modern, di mana ketahanan pangan nasional kini menjadi benteng pertahanan utama yang membutuhkan peran generasi muda.
Sumpah Pemuda tahun 1928 adalah gerakan pemuda untuk merebut kemerdekaan geopolitik. Sementara itu, Sumpah Pemuda tahun 2026 menjadi momentum krusial untuk merebut kemerdekaan dan kedaulatan pangan di tengah ancaman krisis iklim global dan penyusutan jumlah petani muda secara drastis. Di bawah ini akan digambarkan kaitan mendalam antara fenomena tersebut dengan semangat Sumpah Pemuda.

Yang utama, Redefinisi Nasionalisme: Dari Angkat Senjata ke Ketahanan Pangan. Jika dahulu pemuda berjuang menumpahkan darah untuk merebut wilayah, hari ini tanah air harus dijaga agar tetap produktif dan mampu memberi makan bangsanya sendiri. Pemudaran minat pemuda di sektor pertanian merupakan ancaman nyata bagi kedaulatan negara. Peringatan Sumpah Pemuda menjadi refleksi bahwa mencintai tanah air juga berarti merawat tanahnya agar tidak bergantung pada impor pangan dari bangsa lain.

Selanjutnya, Krisis Regenerasi sebagai Ujian Sumpah Pemuda Modern. Data dari berbagai lembaga survei menunjukkan mayoritas petani Indonesia telah memasuki usia lanjut (penuaan petani atau aging farmers), sementara generasi muda lebih memilih sektor urban atau digital. Sumpah Pemuda 2026 menjadi alarm keras bahwa jika “Persatuan Indonesia” tidak dibarengi dengan keberlanjutan pangan yang digerakkan oleh pemudanya, maka fondasi ekonomi dan sosial bangsa bisa rapuh.

Kemudian, Transformasi “Sumpah Pemuda” Menjadi “Smart Farming”. Karismatiknya sektor pertanian di mata kaum muda dapat dibangkitkan kembali dengan mengaitkannya pada identitas pemuda zaman sekarang: teknologi dan inovasi. Peringatan Sumpah Pemuda 2026 menuntut adanya perubahan cara pandang (rebranding) dari pertanian tradisional yang identik dengan kemiskinan dan lumpur, menjadi pertanian modern (smart farming, IoT, hidroponik, dan agribisnis digital) yang menjanjikan secara ekonomi.

Lalu, Tantangan Kolektif Pemuda Era Komparatif. Sumpah Pemuda mengajarkan persatuan untuk menghadapi musuh bersama. Di tahun 2026, musuh bersama itu adalah ancaman kelaparan, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim ekstrim. Momentum ini menjadi titik balik bagi komunitas pemuda, akademisi, dan kreator digital untuk berkolaborasi membangun ekosistem pertanian yang keren, berdampak sosial, dan bernilai ekonomi tinggi.

Pemerintah Indonesia meluncurkan sejumlah terobosan cerdas berbasis teknologi, insentif finansial tinggi, dan penguatan jiwa wirausaha (agripreneur) untuk mengubah persepsi pertanian yang usang menjadi sektor yang keren, modern, dan sangat menguntunkann di mata Gen Z dan Milenial.
Berikut adalah langkah konkrit yang diambil pemerintah untuk menarik minat kaum muda kembali ke sektor pertanian:

Pertama, Program “Brigade Pangan” dan Pengelolaan Lahan Skala Besar. Pemerintah membentuk Brigade Pangan, sebuah inisiatif strategis yang melibatkan petani lokal, milenial, dan lulusan baru untuk mengelola lahan produktif seluas ratusan hektar.

Kedua, Transformasi Digital dan Mekanisasi Pertanian (Smart Farming). Pemerintah menyadari bahwa anak muda enggan bertani jika metodenya masih tradisional (mencangkul manual di bawah terik matahari). Karena itu, bantuan dialihkan ke alat modern.

Ketiga, Program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services). Bekerja sama dengan lembaga internasional, Kementerian Pertanian (Kementan) masif menjalankan program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS). Program ini berhasil melahirkan lebih dari 122.000 wirausahawan baru di sektor agribisnis pedesaan dengan memberikan pelatihan manajemen bisnis pertanian dari hulu ke hilir.Hibah modal kompetitif untuk merintis usaha tani.Pendampingan akses pasar digital (marketplace) agar hasil panen bisa langsung dijual ke konsumen kota.

Keempat, Rebranding Lewat “Young Ambassador Agriculture” Pemerintah secara berkala memilih Young Ambassador Agriculture dan Duta Polbangtan sebagai influencer pertanian. Mereka bertugas menyebarkan konten kreatif di media sosial mengenai kisah sukses anak muda yang kaya dari bertani, membuktikan bahwa menjadi agripreneur adalah pilihan karier yang prestisius.

Kelima, Beasiswa & Revitalisasi Pendidikan Vokasi. Kementan mentransformasi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan). Melalui kampus vokasi ini, pemerintah menguliahkan ribuan anak muda dengan beasiswa penuh, di mana kurikulumnya tidak lagi fokus pada teori bercocok tanam, melainkan fokus pada industri agribisnis, teknologi digital, dan ekspor pertanian.

Semoga Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 ini dapat menjadi momentum untuk kebangkitan sektor pertanian, khususnya terkait dengan semakin meningkatnya kecintaan kaum muda tethadap dunia pertanian. Dirgahayu kaum muda Indonesia. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Memudarnya Karisma Pertanian di Kalangan Kaum Muda
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *