Inovasi untuk Semua: Dari Teknologi Menuju Transformasi Sistemik yang Inklusif

Inovasi

MajmusSunda News – Lampung, Rabu (28/10/2026) – DILANS Indonesia berpartisipasi dalam Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) dan Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat dan Inovasi (SENAPATI) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Teknik Universitas Lampung (UNILA). Forum bertema “Sinergi untuk Lampung Emas: Kolaborasi Multi-Pihak dalam Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif” ini berlangsung secara hibrida di Bandar Lampung.

Farhan Helmy, Pendiri dan Presiden DILANS Indonesia sekaligus Disability Inclusion and Climate Advocate, hadir sebagai pembicara utama secara daring dari Bandung, menyampaikan paparan bertajuk “Inovasi untuk Semua”.

Forum ini juga menghadirkan pembicara dari unsur pemerintah daerah dan legislatif, mempertemukan berbagai perspektif mengenai inovasi dan pembangunan berkelanjutan. Kehadiran DILANS memperluas percakapan dengan menempatkan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI), krisis iklim, serta keberlanjutan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi dan transformasi pembangunan.

Melalui pengalaman dan pembelajaran DILANS Indonesia, paparan tersebut menyoroti bagaimana kebijakan, program, dan intervensi yang telah mengadopsi prinsip inklusi masih dapat menghasilkan dampak yang eksklusif.

Dengan refleksi “1,5°C dan 1,5 cm”, peserta diajak memahami hubungan antara tantangan krisis iklim global dan hambatan aksesibilitas yang dihadapi penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya memperlihatkan pentingnya mempertemukan pengalaman nyata warga dengan keputusan desain, tata kelola, pembiayaan, serta kebijakan pembangunan.

Diskusi juga menekankan bahwa inovasi perlu menjangkau persoalan yang lebih mendasar: siapa yang memiliki akses terhadap data, pengetahuan, teknologi bantu, dan sumber daya; siapa yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan; serta bagaimana manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil.

Pendekatan GEDSI, krisis iklim, dan keberlanjutan harus diterjemahkan ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pembiayaan yang saling terhubung. Dalam konteks ini, penyandang disabilitas, lansia, dan kelompok rentan lainnya tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai warga yang memiliki pengetahuan, kapasitas, dan pengaruh dalam menentukan arah perubahan.

DILANS Indonesia turut memperkenalkan pentingnya dialog multipihak, penguatan kapasitas komunitas, serta pemanfaatan perangkat pembelajaran seperti simulasi En-ROADS (Energy-Rapid Overview and Decision-Support) untuk menghubungkan pilihan kebijakan iklim dengan konsekuensi sosial dan lingkungan. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempertemukan penelitian, inovasi, dan pengalaman masyarakat sehingga pengembangan teknologi tidak terlepas dari kebutuhan nyata dan tantangan tata kelola yang dihadapi warga.

Sebagaimana ditekankan dalam penutup presentasi, “Tidak ada keadilan iklim tanpa partisipasi bermakna, tidak ada transisi yang adil tanpa intervensi yang sistemik.”

Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, DILANS Indonesia terus mendorong lahirnya inovasi yang memperkuat kapasitas kolektif, membangun warga yang kompeten, dan memperluas peluang perubahan sistemik menuju masa depan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

DILANS Indonesia menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Teknik Universitas Lampung, panitia SINTA-SENAPATI 2026, serta seluruh pihak yang telah membuka ruang pertukaran pengetahuan dan kolaborasi.

#DILANSIndonesia #SINTA2026 #SENAPATI2026 #UniversitasLampung #InovasiUntukSemua #GEDSI #ClimateJustice #InclusiveInnovation #TransformasiSistemik #Sustainability

Judul: Inovasi untuk Semua: Dari Teknologi Menuju Transformasi Sistemik yang Inklusif
Sumber: DILANSIndonesia
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *