Perhelatan AICAD INDDEX FAD ICONFEST 2026 Digelar UiTM – Itenas di Kampus Itenas Bandung, West Java, Indonesia

AICAD

MajmusSunda News – Bandung, Senin (7/9/2026) – Studi banding bidang akademis antarbangsa sangat bermanfaat untuk pengembangan kompetensi global, membuka jaringan internasional, membuka peluang kerja sama, memperluas relasi pertemanan secara global.

Kedua pihak bisa memahami sistem, standar, dan cara kerja yang berlaku di negara lain, dengan tujuan dan implementasi memperbaiki mutu dan kualitas institusi melalui adopsi positif dari hasil observasi lapangan. Selain itu, juga bisa memperluas wawasan sistem pendidikan serta membangun relasi lintas budaya.

AICAD
(Foto: Asep GP)

Apalagi kalau studi komparatif ini dilakukan dengan negara tetangga, bangsa serumpun.

Sesungguhnya Bangsa Asia itu serumpun, andai semua bersatu padu, bekerja sama saling mengasihi, tentu akan menjadi kekuatan yang hebat di segala bidang, takkan kalah oleh bangsa Eropa.”

Hal itu dikatakan Presiden AICAD (Asia International Community of Art & Design), Profesor Madya (Lektor Kepala) Dr. Muhamad Abdul Aziz Ab Gani, ketika berkunjung ke Bandung, termasuk di dalamnya, Timbalan Rektor (Wakil Rektor) Penyelidikan, Jaringan Industri, Masyarakat dan Alumni UiTM (Universiti Teknologi MARA) Malaysia, Assoc. Profesor Madya Dr. Nur Hisam Ibrahim (Jabatan Grafik & Media Digital, Kolej Pengajian Seni, Kreatif UiTM Cawangan Perak, kini jadi Rektor UiTM), Ts. Ahmad Sofiyuddin Mohd Shuib (Pensyarah Kanan, Jabatan Grafik & Media Digital, Kolej Pengajian Seni Kreatif, UiTM Cawangan Perak), dll.

AICAD
(Foto: Asep GP)

Saat itu Abdul Aziz bersama 14 orang lainnya yang tergabung dalam Delegasi Asia International Community of Art & Design (AICAD) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Perak, Malaysia, mengadakan studi banding (studi komparatif) dengan 6 universitas yang ada di Pulau Jawa, ISI Surakarta/Solo, Universitas 11 Maret, ISI Yogyakarta, Universitas Pembangunan Jaya-Jakarta, Universitas Multimedia Nusantara (UMN), ISBI Bandung, dan UTelkom.

Belakangan UiTM juga gencar mengadakan “kajian perbandingan” dengan perguruan tinggi di Bandung, seperti ISBI Bandung, Universitas Widyatama (UTama), dan Institut Teknologi Nasional (Itenas).

AICAD
(Foto: Asep GP)

UiTM sudah 6 kali mengadakan program gabungan dengan Itenas (hybrid) dan sejak 2025 sudah 4 kali berkunjung langsung ke kampus Itenas di Jl. PH. H. Mustopa No. 23, Kota Bandung.

Dan terakhir bulan Maret, Jumat (6/3/2026), UiTM dengan Itenas sepakat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama dua institusi pendidikan antarbangsa. Saat itu bertempat di Gedung Rektorat Lt. 2 Ruang 15 221, Kampus Itenas, Jalan PHH. Mustofa No. 23, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Dihadiri pihak UiTM: Assoc. Prof. Dr. Nur Hisham Ibrahim (Rektor of UiTM Perak Branch), Ts. Dr. Nur Faizah Mohd. Pahme (Liaison Officer, UiTM Global), dan Ts. Ahmad Sofiyuddin Mohd Shuib (PIC MoU for Department of Design & Visual Communication). Sementara dari pihak Itenas, diwakili Dani Rusirawan, S.T., M.T., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Inovasi dan Kerja Sama, beserta jajarannya.

AICAD
(Foto: Asep GP)

“Alhamdulillah setelah berpanjangan diskusi sama Itenas sekarang kita lanjutkan hubungan kita bukan hanya rencana aja, jadi kita udah bawa apa yang direncanakan dari sekeping kertas langsung sekarang ke sebuah acara/program yang resmi (iktiraf) di peringkat antarbangsa,” demikian dikatakan Ketua Delegasi UiTM, Ts. Dr. Nur Faizah Mohd. Pahme yang juga dosen pendamping mahasiswa, kepada wartawan di kampus Itenas.

Ya, saat itu memang UiTM bersama Itenas sedang mengadakan kegiatan bersama dalam program AICAD (Asia International Community of Art & Design) INDDEX (International Design Degree Exhibition) FAD ICONFEST 2026.

AICAD
(Foto: Asep GP)

Kegiatan bertajuk “Design Beyond Borders: Crossing Cultures, Creating Futures” (Desain tanpa batas, merajut budaya, merancang masa depan) yang digelar di Bale Dayang Sumbi Kampus Itenas ini, berlangsung tanggal 26–28 Agustus 2026.

Menurut Nur Faizah, kegiatan diisi dengan memamerkan karya-karya pelajar dari dua institusi, Guest Lecture dari dua institusi, yang mana sharing session-nya dilakukan untuk menyampaikan ilmu pada para pelajar di kedua belah pihak.

AICAD
Fariez Ikwan (UiTM), dengan karya arsitekturnya: “Services Apartment: Coastal Bond” (Foto: Asep GP)

Nur Azizah berharap, peluang kerja sama dua perguruan tinggi antarbangsa yang tidak mudah tercipta ini, akan terus berlanjut dengan program-program lainnya.

“Alhamdulillah panjat syukur pada Alloh karena peluang ini bukan mudah untuk kita capai. Tapi peluang ini tercapai atas izin Alloh. Jadi harapannya kita lanjutkan lagi hub di antara dua institusi ini dan dipanjangkan kepada program-program yang lainnya juga,” kata Nur Azizah penuh syukur.

Hal senada dikatakan Ts. Ahmad Sofiyuddin Mohd Shuib, (JK Mobiliti Antarbangsa & Dokumentasi Universiti dan Pegawai Pengiring Pelajar UiTM).

AICAD
Adriana Sabrina dengan karya arsitekturnya “Atelier Lux”, penuh dengan cahaya sutreu (Foto: Asep GP)

Kegiatan kolaborasi dengan Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Itenas dalam program AICAD (Asia International Community of Art & Design) INDDEX (International Design Degree Exhibition) FAD ICONFEST 2026, bertajuk “Design Beyond Borders: Crossing Cultures, Creating Futures” ini diisi pemeran bersama karya mahasiswa arsitektur dan desain grafis UiTM-Malaysia dan Itenas–Indonesia, juga crossing idea antara dua pihak, dan dosen pada kedua pihak juga akan memberi Guest Lecture (kuliah tamu), berbagi ide, dsb., Sofi berharap kegiatan yang menguntungkan kedua belah pihak ini tidak sampai di sini saja, tapi akan terus berlanjut dengan program lainnya.

Hal tersebut gayung bersambut dengan harapan Ketua Pelaksana Pameran, Dr. Novrizal Primayudha, S.Sn., M.T., menurutnya kerja sama ini harus sering digalakkan, dan ditingkatkan lagi, karena sesuai dengan program jangka panjang Itenas, yang ingin semakin go-Internasional.

AICAD
TS. Ahmad Sofiyuddin dan TS. Dr. Nur Faizah, dosen UiTM, menegaskan bahwa program harus terus berlanjut dan tidak berhenti hanya di sini. (Foto: Asep GP)

Oleh karenanya, ke depannya, “Saya ingin kegiatan ini lebih megah lagi, dan ada pertukaran pelajar, hingga mahasiswa kami dapat hal-hal baru dan mendapatkan wawasan lebih luas lagi dalam kolaborasi dua universitas dua negara ini. Kalau sekarang dengan kondisi terbatas, tapi kami berusaha melayani dan menghargai tamu yang datang kemudian melayani apa yang bisa kita bantu di sini,” kata Novrizal.

Sementara itu Fariez Ikwan Bin Nizan, mahasiswa Prodi Arsitektur UiTM (Universiti Teknologi MARA) Cawangan Perak, Kampus Seri Iskandar, Perak-Malaysia yang tengah memamerkan karyanya “Serviced Apartment: Coastal Bond” di Bale Dayang Sumbi (GSG) Itenas bersama mahasiswa lainnya, mengaku kerasan dan terkesan selama 3 hari tinggal di Bandung (6 hari di Indonesia, hari ke-3 hingga selesai kegiatan, dihabiskan di Bandung).

“Kesan di Itenas, membuat tahu saya bagaimana cara berpikirnya mahasiswa di Itenas, cara melakukan produksi mereka dan mereka punya kerja sangat bagus. Komparatifnya, apa yang kami belajar sama, tapi prosesnya berbeda,” katanya serius.

AICAD
Dr. Novrizal Primayudha menegaskan, kegiatan seperti ini harus sering digalakkan agar Itenas semakin “go internasional”. (Foto: Asep GP)

Kota Bandung yang berhawa sejuk dan kaya akan kuliner sedap juga membuat mahasiswa semester 7 asal Trengganu Malaysia ini langsung kepincut, “Di Bandung senang, makanan murah, suhunya dingin. Saya suka Ayam Penyet, mau bandingkan dengan yang ada di Malaysia lah, ada di sana juga, tapi di sana manis pedes, kalau di sini kurang manis tapi pedas,” tuturnya.

Karya Fariez mencoba mengikatkan manusia terhadap kehidupan di sekitar pantai dalam meningkatkan ekonomi di Slempang Malaka Malaysia (2 jam dari Kuala Lumpur). Dengan ide pembuatan apartemen yang disewakan kepada para wisatawan untuk jangka pendek maupun panjang dengan fasilitas dan layanan menyerupai hotel untuk menengah ke atas.

Proyek itu, kata Fariez, alhamdulillah dapat dicapai melalui pendekatan bidang studinya (arsitek).

Demikian juga dengan Adriana Sabrina Binti Mohd Shukri (Mahasiswi Prodi Arsitektur UiTM Malaysia). Merasa betah tinggal di Bandung, sebab makanannya sedap pedas, iga bakar, dan tempenya lebih sedap begitu juga pemandangan dan udaranya yang sejuk. Katanya.

Adriana di Itenas memamerkan karya arsitekturnya “Atelier Lux” (Studio Cahaya). Hebatnya, cahaya itu berasal dari sutra. Konsepnya pakai serat fibroin sutra yang ditenun, dibuat jadi kain atau membran tipis buat dinding/atap.

Struktur nano secara alami pada fibroin sutra memang bisa memantulkan cahaya. Fibroin sutra juga punya struktur protein yang sangat teratur dan struktur itu memantulkan dan membiaskan cahaya.

“Saya punya style penuh dengan sutreu. Dia kan bersinar persoalannya camana boleh bersinar, dari situ filosofinya camana boleh bersinar jadinya satu bangunan. So’ jadinya dia punya camana boleh bersinar, (secara biologis dan tekstil, serat sutra terdiri dari dua komponen protein utama, yaitu Fibroin (inti serat): bagian dalam benang yang membentuk untaian (filamen) utama. Fibroin inilah yang memberikan kekuatan, kelenturan, dan kilau khas pada kain sutra, red). jadinya everytime kalau kena candle (lilin, lampu, cahaya) dia akan bersinar terus. Karena itu saya punya bangunan itu jadi bersinar, bercahaya kalau ada pantulan cahaya jadi bersinar. Alhamdulillah semua itu karena bantuan para dosen, juga penelitian dengan kawan-kawan,” tutur Adriana dalam bahasa Malaysia yang medok/kental.

Judul: Perhelatan AICAD INDDEX FAD ICONFEST 2026 Digelar UiTM – Itenas di Kampus Itenas Bandung, West Java, Indonesia
Jurnalis: AGP
Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *