Percepatan Pencapaian Kesejahteraan Petani

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (08/05/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Percepatan Pencapaian Kesejahteraan Petani” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Di era Pemerintahan Presiden Prabowo, sektor pertanian tampak mendapat perhatian khusus dan serius. Salah satu program prioritas yang dicanangkan Presiden Prabowo adalah percepatan pencapaian swasembada pangan. Pemerintah ingin agar sektor pertanian, utamanya pangan benar-benar menjadi kekuatan nyata dalam pengembangan politik pertanian ke depan.

Namun begitu, penting diingatkan, upaya menggenjot produksi pangan setinggi-tingginya menuju swasembada, tentu tidak hanya diukur oleh melimpahnya produksi senata atau sekedar kokohnya cadangan pangan Pemerintah. Tapi, seiring dengan itu, Pemerintah juga berkewajiban untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan petani yang semakin nyata.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Sebagaimana yang dimaklumi bersama, kesejahteraan petani adalah kondisi di mana petani bisa hidup layak dan sejahtera dari hasil bertani. Intinya bukan cuma soal “panen banyak”, tapi kualitas hidup petani seutuhnya. Ada 3 aspek utama yang butuh penggarapan dengan sunggih-sungguh. Ke 3 hal tersebut adalah :

1. Dari sisi ekonomi antara lain pendapatan cukup. Hasil jual panen > biaya produksi + cukup buat kebutuhan harian, sekolah anak, tabungan. Harga jual stabil. Tidak anjlok pas panen raya, tidak dimonopoli tengkulak. Akses modal. Bisa pinjam KUR dengan bunga ringan, gak kejebak renteni Diversifikasi. Punya sumber income lain selain 1 komoditas, jadi gak goyah kalau gagal panen

2. Dari sisi sosial diantaranya :
Pendidikan & kesehatan. Anak bisa sekolah tinggi, keluarga akses puskesmas/RS
Jaminan hari tua. Ada BPJS, asuransi pertanian, jaminan kalau gagal panen
Posisi tawar. Punya kelompok tani/koperasi yang kuat, jadi gak sendirian hadapi pasar
Rumah layak. Akses listrik, air bersih, jalan desa bagus

3. Dari sisi teknis & lingkungan seperti :
Kepemilikan lahan. Punya tanah sendiri atau sewa jangka panjang yang aman
– Teknologi. Akses bibit unggul, pupuk, alat mesin pertanian, info cuaca
– Berkelanjutan. Tanahnya tidak rusak, air cukup, bisa bertani buat anak-cucu nanti

Terkait ukuran sederhana, BPS biasanya mengukur lewat Nilai Tukar Petani (NTP). Kalau NTP > 100 artinya petani untung = lebih sejahtera. Kalau < 100 berarti pendapatan tidak nutup biaya produksi. Singkatnya: petani sejahtera itu kalau dia tidak cuma kerja keras, tapi hasilnya juga bikin hidupnya naik kelas.

Pertanyaan kritisnya adalah mengapa sekalipun produksi meningkat sehingga cadangan beras Pemerintah semakin kokoh, ternyata tingkat kesejahteraan petani, masih jaih dari apa yang diharapkan. Berdasarkan pengamatan yang menyeluruh, faktor-faktor yang biasanya nembuat petani Indonesia belum sejahtera antara lain :

Pertama terkait dengan masalah produksi seperti lahan sempit. Rata-rata petani cuma punya <0,5 hektar. Hasilnya pasti tidak cukup untuk hidup layak. Kemudian, modal kembang-kempis. Harga pupuk, pestisida, bibit mahal. Pinjam bank susah, akhirnya ke rentenir bunganya mencekik. Lalu, teknologi rendah. Masih banyak yang cangkul manual, belum pakai mesin. Panen jadi lama & biaya tinggi Iklim & hama. El Nino, banjir, hama wereng. Sekali gagal panen, utang numpuk

Kedua masalah harga dan pasar. Umumnya harga anjlok saat panen raya. Semua panen bareng, stok melimpah, harga jatuh. Giliran paceklik, petani sudah tidak punya barang. Lalu, rantai pasok panjang. Dari petani → tengkulak → pengepul besar → pasar induk → pedagang eceran. Tiap tahap ambil untung, yang paling kecil di petani. Kemudian, posisi tawar lemah. Petani butuh uang cepat buat bayar utang, jadi terpaksa jual murah ke tengkulak. Selanjutnya, impor. Pas panen dalam negeri, eh keran impor dibuka. Harga lokal langsung jatuh.

Ketiga, masalah struktural seperti : Alih fungsi lahan. Sawah produktif jadi perumahan/pabrik. Petani jadi buruh tani atau hilang mata pencaharian. Regenerasi. Anak muda tidak mau jadi petani karena dianggap tidak keren & tidak kaya. Petani makin tua, rata-rata umur 50 tahun lebih. Akses informasi. Tidak tau harga pasar hari ini, tidak tau cara budidaya modern, tidak tau bantuan pemerintah. Infrastruktur desa Jalan rusak bikin ongkos angkut mahal. Irigasi buruk bikin sawah tadah hujan aja

Keempat terkait masalah kebijakan. Subsidi tidak tepat sasaran. Pupuk subsidi sering langka atau diselewengkan Asuransi pertanian belum masif. Gagal panen = nanggung sendiri. Keberadaan Bulog dan stabilisasi harga belum optimal. Serap gabah pas harga jatuh masih kurang

Akibatnya muter terus. Hasil sedikit → utang → jual murah → tidak ada modal → hasil dikit lagi. Tapi ada juga yang sudah berhasil keluar dari lingkaran ini, biasanya karena gabung kelompok tani kuat, tanam komoditas bernilai tinggi kayak hortikultura/kopi, atau punya akses langsung ke pembeli/ekspor. Untuk solusi cerdasnya, Pemerintah sendiri, punya peran kunci buat mempercepat kesejahteraan petani. Intinya: bikin petani lebih untung, risiko lebih kecil, akses lebih luas.

Pertama, jamin sarana produksi & tekan biaya tanam. Subsidi pupuk, benih unggul, dan pestisida biar biaya produksi turun. Kredit Usaha Rakyat (KUR) tani dengan bunga rendah biar petani gampang dapat modal. Pompanisasi & cetak sawah baru supaya bisa tanam 2x setahun, tidak cuma nunggu hujan.

Kedua, lindungi harga & pendapatan petani. Naikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah/beras biar hasil panen nggak jatuh saat panen raya. Hasilnya kelihatan di Nilai Tukar Petani (NTP) Feb 2026 yang rekor 125,45. Artinya pendapatan petani naik lebih cepat dari pengeluaran. Ketiga, bangun infrastruktur pertanian. Perbaikan irigasi, jalan usaha tani, dan gudang penyimpanan buat kurangi susut pasca-panen. Distribusi jadi lebih lancar, biaya angkut turun, petani dapat harga lebih baik.

Keempat, dorong teknologi & inovasi. Kenalin alsintan modern, drone, irigasi otomatis, sampai benih tahan iklim ekstrem. Pelatihan & penyuluhan biar petani melek teknologi dan praktik budidaya baru. Kelima, berdayakan kelembagaan & pasar. Bentuk koperasi dan akses ke pembiayaan kolektif biar posisi tawar petani kuat. Pengembangan produk olahan & diversifikasi biar nggak cuma jual bahan mentah, nilai tambahnya naik. Infrastruktur pasar & sistem distribusi efisien supaya petani terhubung ke pasar yang lebih luas.

Keenam, adaptasi perubahan iklim. Kenalkan varietas tahan cuaca ekstrem, praktik konservasi tanah, dan sistem peringatan dini. Jadi pemerintah main di 3 lapis: turunkan biaya, amankan harga dan tingkatkan produktivitas. Kalau ketiganya jalan, petani sejahtera, produksi naik, stok pangan aman.
Arah itulah yang sepatutnya dituju. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Percepatan Pencapaian Kesejahteraan Petani
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *