MajmusSunda News – Bandung, Minggu (23/08/2026) – Tadi malam, sebelum memulai En-ROADS (Energy-Rapid Overview and Decision-Support) Accelerator Training, saya berkesempatan memperkenalkan En-ROADS secara singkat kepada lima siswa SMP dan SMA Muhammadiyah di BBC76 Community, community hub seni dan sains untuk semua.
Sebelumnya, mereka sudah belajar tentang peta, lingkungan, serta dasar-dasar ilmu kebumian. Jadi, saya tidak memulai dari nol, melainkan mencoba menghubungkan pengetahuan yang telah mereka miliki dengan cara melihat persoalan iklim sebagai sebuah sistem.
Bagi mereka, perubahan lingkungan juga bukan sesuatu yang hanya ada di buku pelajaran. Mereka mengalaminya dalam keseharian di Kota Bandung, sekaligus menyaksikan bagaimana isu perubahan iklim semakin ramai dibicarakan di media dan ruang publik. Sebagai generasi muda, mereka punya hak untuk tahu dan memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, bukan sekadar menerima berita, angka, atau perdebatan orang dewasa. Melalui En-ROADS, kami mencoba menghubungkan apa yang mereka lihat di sekitar dengan dinamika yang terjadi pada tingkat global: mengapa perubahan terjadi, pilihan apa yang kita miliki, siapa yang paling terdampak, dan siapa yang memiliki kapasitas lebih besar untuk bertindak.
Mungkin yang paling penting dari pertemuan singkat ini bukan seberapa banyak materi yang dapat disampaikan, tetapi apakah percakapan kecil itu menumbuhkan rasa ingin tahu. Siapa tahu mereka akan menceritakannya kepada teman-teman, mengajukan pertanyaan baru, atau kelak mengambil peran sebagai aktivis, ilmuwan, penggerak komunitas, pembuat kebijakan, atau menjadi warga yang lebih kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Saya berharap suatu saat dapat kembali berdiskusi dengan mereka secara lebih utuh, dengan materi yang disesuaikan dan terus dibangun dari pengetahuan serta pengalaman yang telah mereka miliki.
Pengetahuan tentang iklim tidak seharusnya berhenti di universitas, pemerintahan, korporasi, forum-forum internasional, atau para aktivis. Ia juga harus tumbuh di komunitas dan akar rumput, tempat dampak perubahan lingkungan benar-benar dirasakan. Berpihak pada keadilan iklim mungkin dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: memberi generasi muda ruang untuk tahu, bertanya, memahami, berdialog, lalu menentukan sikap mereka sendiri. Percakapan tadi malam memang kecil. Tetapi, siapa yang tahu ke mana rasa ingin tahu itu akan membawa mereka, termasuk perannya di masa depan?
Kredit Foto: Indra Gumilar Prasetya
#EnROADS #ClimateInteractive #KeadilanIklim #PendidikanIklim #BerpikirSistem #LiterasiIklim #GenerasiMuda #AkarRumput #Bandung #BBC76

Judul: Percakapan Kecil tentang Keadilan Iklim
Penulis: Farhan Helmy adalah peneliti, praktisi pembangunan berkelanjutan, dan aktivis inklusi yang bekerja pada persinggungan antara perubahan iklim, tata kelola, dinamika sistem, transformasi digital, serta GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion). Ia adalah Founder Advanced Systems Computing Design and Innovation (ASCODI) Lab dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Presiden DILANS Indonesia, serta Lead Asia-Africa Inclusive Nexus Network (AAINN). Melalui berbagai platform tersebut, ia aktif mengembangkan pendekatan sistem, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong transformasi pembangunan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis dalam memaknai kemerdekaan di tengah transformasi teknologi dan AI.
Editor: Parkah












