Perangai Islam Ilmiah

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Senin (31/05/2026)  Artikel berjudul “Perangai Islam Ilmiah” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ada banyak buku yang membahas kemunduran tradisi ilmiah (scientific temper) di dunia Islam. The Venture of Islam karya Marshall G. S. Hodgson merupakan salah satu karya terpenting yang bisa jadi rujukan.

Hodgson tidak melihat kemunduran dunia Islam sebagai akibat tunggal agama atau teologi, melainkan proses kompleks yang dipengaruhi politik, ekonomi, budaya, militer, dan perubahan global.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pada masa klasik, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan. Baghdad, Damaskus, Kairo, Bukhara, dan Cordoba berkembang sebagai pusat intelektual karena stabilitas politik, perdagangan, patronase, dan keterbukaan terhadap ilmu berbagai peradaban.

Pada masa Abbasiyah, ilmu Yunani dan berbagai pengetahuan lain diterjemahkan dan dikembangkan ilmuwan Muslim, melahirkan Ibn Sina, Al-Khwarizmi, dan Ibn al-Haytham. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan agama pernah berdampingan, sehingga anggapan Islam sejak awal “anti-sains” bersifat ahistoris.

Kemunduran terjadi akibat fragmentasi politik, konflik, dan melemahnya dukungan terhadap ilmu. Serangan Mongol dan jatuhnya Baghdad pada 1258 menghancurkan banyak pusat intelektual. Pendidikan lantas lebih berfokus pada hukum dan agama, sementara filsafat, astronomi, dan eksperimen makin terbatas.

Kemajuan ilmu membutuhkan institusi kuat: pendidikan, perpustakaan, riset, patronase, dan budaya akademik. Hodgson menolak anggapan dunia Islam mengalami “kegelapan total”; aktivitas intelektual tetap berlangsung, tetapi pusat inovasi bergeser ke Eropa melalui revolusi ilmiah dan industri.

Kebangkitan Eropa juga tak terlepas dari kontribusi dunia Islam dalam meneruskan pengetahuan Yunani serta mengembangkan matematika, astronomi, dan navigasi.

Rekonstruksi dunia Islam tidak cukup dengan romantisme masa lalu. Dunia Islam harus terbuka terhadap ilmu modern, beradaptasi dengan perubahan global, dan aktif menghasilkan ilmu serta inovasi.

Kebangkitan scientific temper membutuhkan keterbukaan intelektual, institusi riset kuat, adaptasi terhadap modernitas, serta hubungan harmonis antara agama dan rasionalitas. Kejayaan ilmiah Islam bukan sekadar masa lalu, tetapi bukti potensinya berkontribusi kembali pada ilmu modern.

***

Judul: Perangai Islam Ilmiah
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *