MajmusSunda News, Sabtu (10/10/2026) – Kata _penaka_ saya kenal sejak duduk di bangku SMP, pada awal 1980-an. Saya mengenalnya melalui puisi mistis Muhammad Iqbal, penyair dan pemikir Muslim dari Lahore. Dalam ingatan masa itu, kata tersebut menghadirkan gambaran lampu kristal yang penuh cahaya, berkilau sekaligus menghangatkan. Sebagai anak muda, saya menangkap keindahannya tanpa sungguh-sungguh memahami kedalaman makna yang tersimpan di baliknya. Kini, setelah lebih dari empat puluh tahun, kata itu kembali mendekat, seolah membawa pesan yang baru dapat dipahami setelah pengalaman hidup memberi kedalaman pada ingatan lama.
Seperti juga tanggal kelahiran yang kembali hadir hari ini, bertambahnya usia mengundang saya untuk menengok apa yang telah dijalani dan apa yang masih ingin diwujudkan. Tubuh lebih mudah lelah, istirahat semakin berarti, sementara tanggung jawab keluarga, pekerjaan, dan berbagai rencana belum seluruhnya selesai. Ada keinginan untuk terus berkarya, menikmati kesempatan, dan menyaksikan lebih banyak hal. Namun, semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa tenaga dan kesempatan tidak selalu dapat mengikuti seluruh keinginan. Kesadaran ini menghadirkan pertanyaan yang tak mudah diabaikan tentang apa yang sungguh bernilai dalam kehidupan.
Dalam suasana itulah puisi Iqbal terasa hadir kembali. Dahulu, kata-katanya lebih dekat kepada keindahan yang dikagumi daripada pengalaman yang sungguh dimengerti. Kini, puisi itu seakan berdialog dengan sesuatu yang sedang bergejolak di dalam diri. Lampu kristal yang tersimpan dalam ingatan bukan lagi semata-mata gambaran tentang cahaya, melainkan pintu untuk merenungkan apa yang menerangi kehidupan dan dari mana makna itu bersumber. Pengalaman telah mengubah cara membaca puisi tersebut, sementara puisi itu memberi bahasa bagi sesuatu yang sebelumnya sulit diungkapkan.
Ada keinginan untuk semakin dekat kepada Allah, membenahi kekurangan, memperbanyak dzikir, dan menata hati agar lebih lapang menerima ketetapan-Nya. Namun, kehidupan dunia masih menyimpan begitu banyak hal yang ingin dinikmati. Pagi yang segar, percakapan bersama sahabat, kebersamaan dengan keluarga, perjalanan ke tempat-tempat baru, makanan kesukaan, pekerjaan yang bermakna, serta kesempatan menyaksikan hal-hal yang belum pernah dilihat. Hasrat untuk terus menjalani semua itu tetap berdegup. Di antara cinta kepada kehidupan dan kesadaran akan kefanaan, ada pergulatan manusiawi yang tidak selalu mudah didamaikan.
Barangkali bertambahnya usia juga mengajarkan cara baru dalam menghargai hal-hal sederhana. Sebuah pagi, hidangan yang dinikmati bersama, percakapan yang hangat, tawa keluarga, atau pertemuan dengan sahabat dapat menyimpan kebahagiaan yang tidak selalu disadari ketika semuanya terasa biasa. Tidak setiap pengalaman harus menjadi peristiwa besar untuk meninggalkan arti. Ada karunia yang justru terasa utuh ketika perhatian tidak lagi semata-mata tertuju pada apa yang belum dimiliki, tetapi juga pada apa yang masih hadir dan dapat disyukuri.
Mendekat kepada Allah bukan berarti menjauh dari kehidupan. Dunia tetap menjadi ruang untuk menunaikan amanah, memperbaiki niat, merawat kasih sayang, dan melakukan sesuatu yang bermanfaat. Yang berubah adalah cara menempatkan semua itu. Keberhasilan tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia, kepemilikan tidak menjamin keabadian, dan tidak semua keinginan harus terpenuhi agar hidup terasa bermakna. Ada yang perlu diperjuangkan, ada yang perlu diperbaiki, dan ada yang perlu diserahkan dengan ikhlas kepada kehendak-Nya. Persiapan ruhani tumbuh bukan dengan memadamkan kecintaan kepada dunia, melainkan dengan menjaga agar kecintaan itu tidak menutup pandangan terhadap Yang Maha Mengaruniakan.
Tanggal kelahiran yang kembali hadir membawa penaka ke ruang perenungan yang berbeda. Kata yang pernah dijumpai seorang anak SMP kini mempertemukan kenangan masa muda dengan pemahaman yang tumbuh melalui pengalaman. Puisi Iqbal tidak lagi sekadar menyisakan keindahan, tetapi mengajak melihat kehidupan sebagai anugerah yang patut dinikmati dan sekaligus dijalani dengan kesadaran. Sebuah kata dapat bertahan begitu lama dalam ingatan, bukan karena seluruh maknanya telah dipahami sejak awal, melainkan karena kehidupan terus membukakan lapisan-lapisan baru untuk dibaca.
_Seperti juga penaka;_
_dalam hidup, aku berdegup, bersama waktu, aku berlalu._
*Yudha Heryawan Asnawi*
***
Judul: Penaka: Dalam Hidup yang Berdegup
Penulis: Yudha Heryawan Asnawi (Pengajar di Sekolah Bisnis IPB University)
Editor: Raka Alvaro Triputra












