MajmusSunda News, Bandung, 21/06/2026 – Pada banyak acara publik, pemimpin hampir selalu ditempatkan sebagai pihak yang berbicara. Presiden, gubernur, bupati, wali kota, kepala dinas, atau pejabat lainnya hadir untuk memberi sambutan, arahan, pidato, atau pesan kebijakan. Panggung utama disiapkan untuk mereka, sementara masyarakat, tuan rumah, dan pelaku lapangan lebih sering menjadi pendengar.
Tidak ada yang salah dengan pemimpin berbicara. Pemimpin perlu menjelaskan arah, menyampaikan kebijakan, membangun harapan, dan menggerakkan banyak pihak. Persoalan muncul ketika kepemimpinan terlalu identik dengan kefasihan berbicara, sementara kemampuan mendengar dan menyimak kurang diberi tempat.
Kepemimpinan yang matang juga lahir dari kesediaan menerima informasi, memahami kenyataan, membaca konteks, dan menangkap suara dari bawah.
1. Dasar Istilah: Mendengar, Mendengarkan, dan Menyimak
Mendengar, mendengarkan, dan menyimak sering dipakai seolah-olah sama. Padahal kedalamannya berbeda. Mendengar bisa terjadi alamiah: telinga menangkap bunyi. Mendengarkan sudah melibatkan perhatian. Menyimak menuntut kesengajaan: ada perhatian, pemahaman, ketelitian, dan kesiapan menangkap makna.
KBBI memaknai menyimak sebagai mendengarkan dengan memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Menyimak juga berarti meninjau atau mempelajari dengan teliti. Jadi, menyimak bukan sekadar menangkap suara, melainkan usaha memahami isi.
Teori komunikasi menempatkan listening sebagai proses aktif: menerima pesan, memahami isi, mengevaluasi makna, mengingat pokok penting, lalu memberi respons. Bagi pemimpin, perbedaan ini penting. Ia tidak cukup mendengar suara rakyat; ia harus menyimak masalah, konteks, data, dan kebutuhan sebenarnya.
2. Mendengar Lebih Sulit daripada Berbicara
Berbicara sering dianggap kemampuan utama pemimpin. Seseorang dinilai dari pidato, sambutan, arahan, atau kemampuannya tampil di depan publik. Padahal mendengar sering kali lebih sulit. Pidato bisa disiapkan, kalimat bisa dihafal, pengalaman lama bisa diulang. Seseorang bahkan dapat berbicara panjang tanpa memahami keadaan terbaru.
Menyimak menuntut perhatian penuh, kesabaran, kerendahan hati, kemampuan menahan penilaian terlalu cepat, dan kesediaan memahami pesan sebelum merespons. Literatur komunikasi menyebutnya active listening: hadir secara mental, memahami pesan, bertanya jika perlu, merangkum pokok pesan, dan tidak buru-buru menyimpulkan.
NCBI/StatPearls menekankan prinsip: dengarkan secara utuh sebelum merespons. Carl Rogers dan Richard Farson menegaskan bahwa memahami orang lain jauh lebih sulit daripada yang tampak di permukaan. Orang yang sungguh-sungguh didengar biasanya lebih terbuka, tidak defensif, dan lebih bersedia mendengar kembali.
Harvard Business Review menambahkan bahwa pendengar yang baik bukan hanya tidak memotong pembicaraan, tetapi membantu lawan bicara berpikir lebih jernih. Maka, pemimpin yang ingin didengar perlu lebih dulu mampu mendengar.
3. Mendengar sebagai Input, Berbicara sebagai Output
Mendengar, menyimak, dan membaca adalah proses menerima informasi, pengalaman, data, keluhan, aspirasi, dan pengetahuan baru. Dari sini wawasan bertambah, pemahaman matang, dan keputusan lebih berpeluang menjadi bijaksana.
Berbicara, berpidato, dan memberi ceramah adalah proses membagikan pengetahuan, pandangan, nilai, pengalaman, atau arah kebijakan. Berbicara tentu penting. Pidato dapat memberi arah, ceramah memberi pencerahan, arahan pemimpin menggerakkan banyak orang.
Namun, sesuatu yang dibagikan harus terus diperbarui. Isi pikiran perlu terus diisi ulang. Jika seseorang terlalu sering berbicara, tetapi jarang mendengar, menyimak, membaca, dan belajar kembali, lama-lama yang ia sampaikan hanya pengulangan. Awalnya orang mungkin mendengar karena hormat. Lama-lama, jika yang disampaikan selalu sama, orang akan bosan dan tidak lagi benar-benar mendengarkan.
Konsep half-life of knowledge memperkuat hal ini. National University of Singapore menjelaskan bahwa pengetahuan dalam banyak bidang dapat mengalami masa usang. Informasi tergantikan, cara pandang diperbarui, dan kesimpulan lama perlu dikoreksi oleh data baru. Dunia berubah, maka pemahaman juga harus diperbarui.
4. Bahaya Banyak Bicara tetapi Kurang Menyimak
Terlalu banyak berbicara tanpa cukup menyimak dapat melahirkan ilusi pengetahuan. Seseorang merasa sudah tahu, padahal mungkin hanya mengulang kesan, asumsi, atau hafalan lama.
Psikologi kognitif mengenal konsep illusion of explanatory depth. Manusia sering merasa memahami sesuatu secara mendalam. Namun ketika diminta menjelaskan secara rinci, ternyata pemahamannya tidak sedalam yang dibayangkan. Kita merasa tahu, tetapi belum tentu benar-benar mengerti.
Bagi pemimpin, jebakan ini berbahaya. Pemimpin yang merasa sudah tahu akan sulit menerima masukan. Ia cepat memberi jawaban, tetapi lambat memahami masalah. Ia mudah memberi arahan, tetapi belum tentu menangkap akar persoalan. Akibatnya, pidato bisa terdengar bagus, tetapi tidak menjawab kebutuhan.
Pada titik ini, intellectual humility atau kerendahan hati intelektual menjadi penting: kesediaan mengakui bahwa pengetahuan terbatas, pandangan bisa keliru, dan pemahaman perlu diperbaiki. Pemimpin yang rendah hati tidak malu mendengar. Kritik tidak otomatis dianggap serangan pribadi. Informasi baru dilihat sebagai bahan memperbaiki keputusan.
Menyimak menjaga pemimpin tetap terhubung dengan kenyataan dan tidak terkurung dalam ruang gema kekuasaan.
5. Relevansi untuk Pemimpin dan Pejabat Publik
Gagasan ini penting bagi kepemimpinan publik. Banyak acara pemerintahan masih menempatkan pejabat sebagai pusat panggung. Pejabat datang untuk memberi sambutan, arahan, pidato, atau pesan kebijakan.
Tentu pemimpin perlu berbicara. Berbicara adalah membagikan isi pikiran. Namun isi pikiran perlu terus diisi ulang. Jika seseorang terlalu sering berbicara, berpidato, atau berceramah, tetapi jarang mendengar, menyimak, membaca, dan belajar kembali, lama-lama yang ia bagikan bukan lagi pengetahuan segar, melainkan pengulangan. Pada titik tertentu, orang bukan tidak mendengar karena tidak sopan, tetapi karena mereka merasa sudah tahu apa yang akan dikatakan.
Akan jauh lebih baik jika pemimpin tidak hanya datang memberi wejangan, tetapi hadir untuk menyimak kenyataan.
Tata kelola modern menempatkan partisipasi warga sebagai bagian penting dari proses kebijakan. OECD menekankan bahwa pelibatan warga dapat meningkatkan kualitas kebijakan, memperkuat kepercayaan publik, dan membuat keputusan lebih demokratis.
IAP2 Public Participation Spectrum menunjukkan tingkat partisipasi: inform, consult, involve, collaborate, dan empower. Pada tingkat consult dan involve, pemerintah tidak cukup memberi informasi. Pemerintah harus mendengar aspirasi, mengakui masukan, dan memberi umpan balik tentang bagaimana masukan itu memengaruhi keputusan.
Indonesia mengenal mekanisme ini melalui UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Musrenbang diposisikan sebagai forum antarpelaku dalam menyusun rencana pembangunan. Secara formal, negara telah memiliki ruang untuk mendengar sebelum memutuskan.
Masalahnya, semangat mendengar sering kalah oleh seremoni. Banyak forum lebih sibuk mengatur sambutan daripada menggali substansi. Acara publik menghasilkan dokumentasi, tetapi belum tentu pemahaman. Pihak yang mengalami persoalan langsung harus diberi ruang memaparkan keadaan. Setelah mendengar, barulah pemimpin berbicara. Dengan pola ini, pidato pemimpin menjadi respons: menyentuh konteks dan berangkat dari masalah yang dipaparkan.
Agar tidak berhenti sebagai basa-basi, penyimakan perlu dibuat teknokratis. Setiap acara strategis sebaiknya menghasilkan catatan masalah, data pendukung, klasifikasi isu, penanggung jawab tindak lanjut, tenggat waktu, dan mekanisme umpan balik. Dengan begitu, mendengar tidak hanya menjadi sikap pribadi pemimpin, tetapi menjadi sistem kerja pemerintahan.
Penutup
Rakyat tidak kekurangan orang yang jago pidato. Yang sering kurang adalah pemimpin yang mau mendengar dengan sungguh-sungguh, memahami dengan jernih, lalu menindaklanjuti dengan benar.
Berbicara tanpa mendengar hanya akan melahirkan suara. Tetapi mendengar dengan sungguh-sungguh dapat melahirkan kebijakan.
Pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bukan karena berbicara tidak penting, melainkan karena ucapan pemimpin akan jauh lebih bernilai jika lahir dari penyimakan yang mendalam.
*****

Judul: Pemimpin Harus Lebih Banyak Mendengar daripada Berbicara
Penulis: Eep S. Maqdir












