MajmusSunda News – Bandung, Selasa (16/06/2026) – Di tengah zaman yang kian bergerak cepat, kita lupa bahwa tata krama bukan sekadar aturan, melainkan jalan hidup yang menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara sesama serta keharmonisan alam. Kata Patikrama yang berakar dari makna “berjalan mengelilingi dengan tertib” bukan hanya milik tradisi ritual semata, melainkan telah tumbuh menjadi inti ajaran etika dan kesopanan budaya Sunda.
Zaman modern ini, ajaran Patikrama sudah jauh dilupakan. Bahkan, di sekolah umum, pelajaran Patikrama yang terdapat dalam mata pelajaran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tidak lagi menjadi mata pelajaran tetap. Pada zaman Orde Baru, pendidikan P4 ditetapkan lewat TAP MPR No. II Tahun 1978 yang memiliki isi dan tujuan menjabarkan setiap sila Pancasila yang dijadikan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Wajib diikuti PNS dan pegawai BUMN lewat pendalaman modul, dengan tujuan utama mewujudkan persatuan, disiplin, dan kesetiaan pada bangsa dan negara. Namun, saat ini tidak ada dalam kurikulum pendidikan yang seharusnya dikhususkan seperti zaman Orde Baru.
Sikap manusia saat ini, baik anak-anak maupun orang dewasa, lebih mementingkan ego dan sikap yang jauh dari aturan Patikrama. Dalam lingkungan keluarga, anak-anak berbicara kasar, membentak orang tua, bersikap tidak hormat, tidak menghargai, bahkan ada anak membunuh orang tua, mencuri, dan lewat di depan orang yang lebih tua sudah tidak ada ucapan permisi serta menundukkan kepala. Anak-anak di depan guru berkata kasar, membangkang, antara teman sekolah dan teman bermain di lingkungan saling membuli. Sungguh sangat miris dan memprihatinkan kondisi generasi zaman ini. Ditambah dengan kemajuan teknologi digital yang semakin tidak bisa dibendung, semua informasi hadir dari negara dan bangsa lain, semakin menambah pilu dan tragis kondisi moral anak bangsa kita. Hasil pengamatan saya sebagai penulis di kehidupan lingkungan sekitar saya dan lingkungan umum, melihat fakta nyata serta membaca dan menyaksikan di beberapa media televisi dan media online, hampir tiap hari peristiwa kejahatan terjadi yang menunjukkan kondisi zaman ini sangat mengkhawatirkan. Hal ini membuat saya terdorong untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi Sunda dengan kembali menghadirkan narasi berbentuk artikel tentang Patikrama.
Bangsa ini harus menggali kembali ke dalam nilai etika dan kesopanan dari tanah airnya sendiri, karena kita berkaca pada sejarah bahwa bangsa kita pernah berada pada peradaban yang mulia. Artinya, pernah berada pada peradaban yang luhur dan perlu kembali memakai dasar-dasar kehidupan dari peninggalan nenek moyang kita sendiri, karena merupakan dasar dan hamparan ilmu yang perlu kembali diduduki oleh kita anak bangsa sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.

Patikrama merupakan ajaran yang berasal dari pengetahuan Sunda, yang merupakan ajaran sopan santun, tata krama, dan tindakan saling menghormati antara sesama manusia. Leluhur Sunda sudah mewariskan dari Rakeyan Darmasiksa berupa ajaran agar tetap ditaati banyak orang, agar negeri atau negara tenteram, raja tenteram sebagai pemimpin negara yang bertahan lama bertakhta, sang rama menghimpun banyak makanan, sang resi mengurus kesejahteraan lahir batin, melaksanakan ajaran mengikuti orang tua, melaksanakan Parit Galunggung agar unggul perang, subur buah dan tanaman, serta lama berjaya (panjang umur) dengan sungguh-sungguh. Sang prabu menjalankan dunia pemerintahan dengan baik dan taat mengikuti Patikrama (ajaran yang diwariskan oleh para surgawi) yang tertulis dalam Naskah Kuno Amanat Galunggung, yaitu:
“Mulah pabwang pasalah paksa, mulah pakeudeukeudeu, asing rampes, cara purika rutan mulah keudeu di tineung di maneh, iseus iseuskeun carekna patikrama.”
Artinya:
Jangan bentrok karena berselisih maksud, jangan saling berkeras, hendaknya rukun dalam tingkah laku dan tujuan. Ikuti jangan hanya berkeras pada keinginan diri sendiri saja. Camkan Patikrama.
Nilai nasihat dari Naskah Amanat Galunggung yang merupakan nasihat dari kearifan lokal Sunda hasil dari pengetahuan leluhur Sunda sangat jelas bahwa ada narasi tertulis yang berupa pesan untuk kita taati pada aturan dan perintah berupa larangan atau pamali yang disebut ilmu Patikrama. Jauh sebelum tata aturan dari bangsa Eropa dan belahan dunia Timur masuk ke Nusantara ini, negeri kita sudah memiliki peradaban adab, adat, dan budaya kesopanan lebih dahulu. Artinya, bangsa kita lebih dahulu mengenal peradaban menuju kehidupan gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
Dalam Naskah Amanat Galunggung ada nasihat yang merupakan pantangan atau pamali yang tidak boleh dilakukan, yaitu membunuh yang tidak berdosa, memarahi yang tidak bersalah, tidak berbakti pada pendeta, ulama, dan leluhur kita sendiri, menghindari sikap tidak mengindahkan cangahan dan pantangan diri sendiri, jangan bingung menghadapi musuh kasar, musuh halus yang tidak dapat dicarikan penyelesaian, jangan mengabaikan aturan dari leluhur, serta jangan mengabaikan ucapan dan nasihat kakek dan nenek. Untuk hidup tetap dalam kebaikan, jangan berebut kedudukan, jangan berebut penghasilan, jangan berebut hadiah, karena pada dasarnya sama-sama asal-usul, sama-sama berbuat kebaikan dengan penuh pertobatan dan dengan ucapan serta iktikad yang penuh bijaksana, berdasarkan kebenaran, berdasarkan kehakikian, sungguh-sungguh memikat hati, mengalah, murah senyum, berseri hati, dan mantap dalam berbicara. Bagi yang muda jangan berkata dengan berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama, dan berkata mengada-ada.
Dalam ajaran Naskah Amanat Galunggung yang disebut dan dianggap bangsawan adalah orang yang selalu merasa senang, orang yang mulia, sempurna agamanya, serta penuh kasih sayang kepada semua manusia:
“Urang menak maka, rampes agama, haat heman dina janma, mana urang kandel kulina, mana urang dipajarkeun menak ku na rama.”
Artinya:
“Kita merasa senang maka sempurnalah agama, kasih sayang kepada manusia, maka kita dianggap bangsawan, maka kita dikatakan orang mulia oleh rama.”
Menurut ajaran Patikrama, bagi kita baik laki-laki maupun perempuan, yang dikatakan beramal adalah yang bertapanya baik. Buruk amalnya berarti buruk tapanya. Dengan amal pula orang dapat berhasil dan menjadi kaya. Karena amal pula maka disebut berhasil tapa kita. Amal perbuatan dan tingkah laku kita yang baik akan memudahkan jalan mendapatkan kebaikan. Tidak ada satu orang pun yang mau memberi kita uang gaji tanpa kita bekerja. Tidak ada orang dapat naik ke puncak gunung tanpa mendaki dengan susah payah dari bawah.
“Carek na patikrama, na urang lanang wadwan, iya tuwah iya tapa, iya tuwah na urang, gwareng twah gwareng tapa, maja twah maja tapa, rampes twah waya tapa, apana urang ku twah na mana beunghar ku twah na mana waya tapa.”
Artinya:
“Menurut ajaran Patikrama, bagi kita, laki-laki dan perempuan, ya beramal ya bertapa: itulah perbuatan kita. Buruk amalnya berarti buruk tapanya, sedang amalnya berarti sedang tapanya, sempurna amalnya berarti berhasil tapanya. Adapun kita kaya ini karena amal pula dapat berhasil tapa.”
Kesempurnaan amal seseorang bisa dikatakan sempurna apabila memiliki kemampuan cakap, terampil, rendah hati, rajin dan tekun, menjaga harga diri, tangkas, bersemangat, prima, cermat, teliti, dan penuh keutamaan. Dalam ajaran Patikrama, orang tua dan leluhur mengatakan, “Jika ingin masuk surga dan tiba di kahyangan Batara Guru maka berlakulah jujur dan benar pada diri sendiri.”
Ajaran utama Patikrama menurut pengetahuan Sunda yang kita dapatkan dari ajaran budaya Sunda yaitu ajaran sopan santun, tata krama, dan tindakan menghormati orang lain. Artinya hidup selaras dan menghargai nilai-nilai, di antaranya:
- Handap asor, yaitu merendahkan hati, tidak sombong, tahu batas diri, dan tahu diri.
- Tapa salira, yaitu mampu menempatkan diri dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
- Ajing diri saka lathi, artinya harga diri terlihat dari tutur kata yang halus dan jujur.
- Rukun agawe santosa, artinya hidup rukun membawa ketenteraman.
Makna dan filosofi ajaran Patikrama menitikberatkan pada perilaku nyata yang dipraktikkan sehari-hari dengan menggunakan bahasa halus kepada orang yang lebih tua. Harus menghormati orang tua kandung maupun orang yang usianya lebih tua dari kita, tidak berbicara terlalu keras, kasar, atau memotong pembicaraan orang lain, selalu mengucapkan maaf, tolong, terima kasih, dan memanggil dengan sapaan yang sopan.
Bagaimana sikap dan perilaku sehari-hari kepada orang tua, yaitu dengan menghormati, mematuhi nasihat orang tua, meminta restu, dan tidak membantah dengan nada tinggi. Kepada yang lebih tua bersikap tubuh lebih merunduk sedikit, memberi jalan, dan tidak duduk di tempat terhormat. Kepada teman sebaya berlaku ramah, adil, tidak merendahkan, dapat menjaga rahasia, dan tidak menggunjing. Di tempat umum berlakulah tertib, tidak berisik, ikut mengantre, dan menjaga kebersihan. Saat bertemu dengan siapa pun, tua maupun muda, ucapkan salam. Jika ingin masuk, izin terlebih dahulu, duduk sopan, tidak melihat sembarangan, dan jangan memegang barang apa pun yang ada di ruangan orang lain.
Bagaimana penerapan Patikrama di lingkungan rumah, di antaranya saat masuk dan keluar rumah mengucapkan salam, meminta izin sebelum keluar rumah, memberi kabar saat di luar rumah, dan memberi tahu bila akan pulang terlambat. Berbicara menggunakan bahasa halus, tidak membentak, mendengarkan nasihat orang tua, dan tidak membantah dengan kata-kata. Bersikap handap asor, tidak sombong, membantu pekerjaan rumah, dan memberi tempat duduk kepada yang lebih tua. Bila waktu makan, tunggu orang tua lebih dulu mulai, tidak mengambil makanan lebih dulu, makan duduk di meja makan dengan tertib dan rapi. Apabila meminta atau menerima sesuatu, selalu ucapkan terima kasih, tidak meminta dengan ucapan dan tindakan kasar.
Bagaimana sikap Patikrama di lingkungan sekolah, terutama kepada guru, di antaranya menyapa guru dengan sopan, mengucapkan selamat pagi sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Mengetuk pintu sebelum memasuki ruang kelas atau kantor guru, berdiri tegak saat berbicara. Tidak memotong pembicaraan, menyahut jika dipanggil, dan tidak lewat di depan guru. Menggunakan bahasa yang halus, tidak berbicara kasar atau memanggil nama sembarangan.
Bagaimana sikap Patikrama kepada teman di lingkungan sekolah, di antaranya saling menghargai, tidak mengejek dan berkelahi. Gotong royong menjaga kebersihan, menjaga tata tertib, menjaga barang milik orang lain, dan jika meminjam harus meminta izin. Mengakui kesalahan dan meminta maaf jika berbuat salah.
Menurut pemahaman Hindu-Buddha, makna dan filosofi dari Patikrama disebut juga Pradaksina (berjalan ke arah kanan mengikuti arah jarum jam) yang bermakna ritual berjalan mengelilingi objek suci, pura, api suci, atau gunung searah jarum jam. Makna secara inti adalah sikap penyerahan diri dan penghormatan sesuai hukum kosmik.
Pradaksina memiliki filosofi yang mendalam bahwa Tuhan adalah pusat yang semua makhluk menghadap, berasal dari Tuhan, dan Tuhan adalah poros yang tidak terbatas. Memutar mengikuti arah jarum jam adalah penyatuan energi dan pembersihan energi. Hubungan Patikrama dengan tradisi Sunda menjadi tata krama, etika, dan sopan santun yang luas maknanya, lebih pada perilaku mengelilingi kebaikan yang saling menghormati orang yang lebih tua serta hidup selaras dengan sesama dan alam. Patikrama menurut Sunda adalah perjalanan hidup yang selalu berjalan dengan memegang teguh adat, adab, etika, dan kesopanan, agar kita tumbuh menjadi manusia yang baik sejak anak-anak, dewasa, hingga tua, tetap berada pada jalur Patikrama. Orang Sunda sering menyebut, “Mulih kajati, mulang ka asal sampurna” (pulang ke asal, pulang ke asal yang sempurna).
Kondisi zaman modern ini membuat ajaran Patikrama yang berasal dari tanah air, tanah Sunda, harus kembali disampaikan dan disosialisasikan sebagai penyeimbang kehidupan yang sudah jauh dari ajaran leluhur negeri sendiri. Solusi terbaik adalah menghidupkan kembali di dunia pendidikan ajaran P4 dan ajaran Patikrama yang merupakan warisan leluhur bangsa kita. Jadikan nilai Sunda sebagai dasar pendidikan di segala bidang. Jangan berpikir Patikrama adalah nilai kuno dan tidak sesuai zaman. Justru menjadi obat dan rumus untuk kembali menjadi kesembuhan bagi kehidupan di lingkungan rumah, bertetangga, lingkungan luas, berbangsa, dan bernegara.
Dalam Amanat Galunggung terdapat sebagian pesan nasihat untuk kita semua, umat manusia apa pun agamanya, suku mana pun, dan bangsa mana pun, mohon diperhatikan:
“Ada pun amal yang sempurna pada diri kita adalah ilmu padi, pada saat bertunas (sebesar jarum), keluar daun (tiga daun), saat disiangi, tumbuh dewasa, keluar kuncup (seperti bulu hidung), mekar buah, ya menunjuk langit, ya menengadah, indah tampangna, setelah berisi tiba saat mulai merunduk, menguning masak ya makin merunduk, karena merasa diri telah terisi. Bila ada yang mau dan bersedia berbuat dan berlaku demikian ibarat maka kehidupan orang banyak akan seperti perilaku padi.”
Artinya, sungguh seseorang telah mengamalkan ajaran Patikrama seperti padi yang semakin berisi ilmu, kecerdasan, kekayaan, dan kemuliaan tetap merunduk seperti padi. Sungguh luar biasa nenek moyang Sunda dalam mengibaratkan etika dan kesopanan dengan tumbuhan padi yang begitu selaras dengan alam.
“Ku na urang ala iwirna patanjala, pata ngarana cai, jala ngarana apya heunte ti burungngeun tapa kita.
Lamun bitan apwa teya, ongkoh-ongkoh di pilalwaeun di maneh, genah dina kageulisan, malah kasimwatan, mulah kasi weuran ka nu miburungngan tapa, mulah kapidenge ku na carek gwareng, ongkoh-ongkoh dipitineungngeun di maneh iya rampes, iya geulis…..”
Artinya:
“Kita tiru wujud patanjala, pata berarti air, jala berarti sungai. Tidak akan sia-sia amal baik kita bila kita meniru sungai itu. Terus tertuju pada alur yang akan dilaluinya, senang akan keelokan, jangan mudah terpengaruh, jangan memperdulikan hal-hal yang akan menggagalkan amal baik kita, jangan mendengarkan ucapan buruk, pusatkan perhatian kepada cita-cita dan keinginan sendiri. Ya sempurna, ya indah.”
YAYASAN SUNDA13BUHUN
Bandung Selasa 16 Juni 2026
Anggara 8 Kresnapaksa, Kartika, 1963 Caka Sunda

Judul: Patikrama Ajaran Etika Sunda
Penulis: Penulis: Ambu Rita Laraswati (Ketua Yayasan Sunda13 Buhun, Budayawati, Seniman, Spiritualis, Redaktur Majalah Jakarta, Dewan Redaksi MajmusSunda, Dewan Redaksi Mahkota News)
Editor: Parkah












