MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (27/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Pangan Lokal yang Terlupakan!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Pangan lokal adalah makanan yang diproduksi dan dikonsumsi di daerah setempat, mempertahankan kearifan lokal dan keanekaragaman hayati. Sudah sejak lama pangan lokal ini dibahas dan dibincangkan. Bahkan Pemerintah, melalui Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (sebelum bubar) telah menyusun Roadmap Pengembangsn Pangan Lokal di Indonesia.

Pertanyaannya adalah apakah Roadmap Pengembangan Pangan Lokal yang telah disusun itu, kini dikembangkan oleh Badan Pangan Nasional atau tidak ? Rasanya tidak juga. Boro-boro mengembangkan pangan lokal, sesuai dengan anggaran yang diberikan Pemerintah dan DPR, sekedar untuk menghidupi lembaganya saja, pimpinan Badan Pangan Nasional perlu putar otak untuk mengelolanya.
Sebetulnya ada beberapa manfaat pengembangan Pangan Lokal antara lain mempertahankan keanekaragaman hayati; mengurangi ketergantungan pada produk impor; meningkatkan pendapatan petani lokal; melestarikan budaya dan tradisi dan meningkatkan kesehatan dengan konsumsi makanan alami.
Hampir setiap daerah memiliki pangan lokal. Di Jawa Barat ada nasi timbel (nasi dibungkus daun pisang). Lalu ada empal gentong (daging sapi goreng). Ada peuyeum (fermentasi singkong). Kemudian, sate maranggi (sate kambing) dan karedok (sayur mentah khas Sunda).
Di Jawa Tengah ada yang namanya gudeg (makanan dari buah melinjo). Ada sate klathak (sate kambing). Ada nasi langgi (nasi dibungkus daun pisang). Ada juga akpia (kue khas Pathuk) dan ada es teler (es campur buah). Jawa Timur memiliki rawon (sup daging sapi hitam). Ada rujak cingur (rujak dengan cingur). Lalu ada sate Klopo (sate daging sapi). Kemudian ada nasi Krawu (nasi dengan daging sapi) dan bubur Madura (bubur khas Madura).
Di Sumatera ada nasi goreng khas Minang. Ada sate Padang. Ada rendang (daging sapi goreng). Lalu, martabak telur dan kue putu. Di Kalimantan ada sambal goreng Kutai. Ada nasi Kuning. Lalu, Ayam Pepes. Kemudian Kue Bika Ambon dan Roti Gong. Di Sulawesi ada Coto Makassar, Sop Konro, Nasi Jaha, Kue Putu dan Es Teler. Di Bali ada Nasi Goreng Khas Bali; Satay Lilit; Gado-Gado; Lawar (sayur mentah) dan Kue Laklak. Di Papua ada Papeda (bubur sagu); Ikan Bakar dan lain sebagainya.
Pengembangan Pangan Lokal di negara kita terkesan jalan ditempat. Banyak persoalan yang butuh penanganan dengan serius. Beberapa masalah pangan lokal di Indonesia bisa dilihat dari beragam aspek. Dari sisi produksi, kita saksikan ada
ketergantungan pada musim tanam; keterbatasan lahan pertanian; kurangnya teknologi pertanian modern; keterbatasan sumber daya air dan serangan hama dan penyakit tanaman.
Dari sisi Distribusi masih ditemukan infrastruktur yang kurang memadai; biaya transportasi yang tinggi; keterbatasan akses pasar; kurangnya pengawasan kualitas dan distribusi yang tidak merata. Dari sisi Konsumsi antara lain kurangnya kesadaran konsumsi pangan lokal; preferensi konsumen terhadap produk impor; harga yang tidak kompetitif; keterbatasan informasi tentang pangan lokal dan k6urangnya edukasi gizi.
Dari sisi Kualitas masih ada keterbatasan pengawasan kualitas; penggunaan bahan kimia berbahaya; kurangnya standar kualitas; risiko kontaminasi dan keterbatasan laboratorium pengujian. Dari sisi Ekonomi masih tingginya ketergantungan pada subsidi; kurangnya dukungan keuangan; biaya produksi yang tinggi; keterbatasan akses kredit dan fluktuasi harga.
Dihadapkan pada segudang masalah yang ada, pengembangan pangan lokal sebaiknya diarahkan kepada mengembangkan teknologi pertanian modern; meningkatkan infrastruktur; membangun kesadaran konsumsi pangan lokal; mengatur kebijakan pendukung; meningkatkan pengawasan kualitas; .engembangkan industri pengolahan pangan lokal dan membangun kerja sama antara petani, pemerintah, dan swasta.
Di sisi lain, kita juga memahami, masa depan pangan lokal akan dihadapkan pada beberapa tantangan dan peluang. Setidaknya ada tiga tantangan yang mendesak diantisipasi, yakni pertama, perubahan iklim global berdampak pada produksi pangan lokal, seperti gagal panen akibat cuaca ekstrim dan perubahan suhu. Kedua, sistem pangan global yang tidak berkelanjutan membuat pangan lokal rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan. Dan ketiga, fokus pada beberapa komoditas pangan membuat keragaman pangan lokal terancam.
Sedangkan peluang yang dapat diraih, pertama mendorong pertanian ekologis untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi dampak lingkungan. Kedua, mengembangkan dan mempromosikan pangan lokal yang beragam untuk meningkatkan ketahanan pangan. Dan ketiga, membangun sistem pangan lokal yang berkelanjutan dan mandiri untuk meningkatkan ketersediaan pangan.
Dengan adanya tantangan dan peluang diatas, secara realistis, pengembangan pangan lokal ke depan penting dikuatkan pada upaya
mengembangkan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan efisien . Lalyu, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pangan lokal dan keragaman pangan dan membangun kebijakan yang mendukung pengembangan pangan lokal dan pertanian ekologis.
Namun begitu penting dicatat, meragamkan pola makan masyarakat agar tidak tergantung hanya kepada nasi, jelas bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Untuk meraihnya diperlukan perjuangan tak kenal lelah. Banyak tantangan dan rintangan yang harus dilalui. Itu sebabnya, dibutuhkan kampanye diversifikasi pangan, khususnya pangan lokal yang berkesinabungan.
Akhirnya perlu diingatkan, pangan lokal merupakan satu alternatif untuk lebih membumikan program diversifikasi pangan. Ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis bahan pangan karbohidrat yaitu beras, sudah saatnya dihentikan. Itu sebabnya, upaya meragamkan pola masyarakat, menjadi kebutuhan mendesak untuk digarap. Diversifikasi pangan butuh kemauan politik dan tindakan politik yang jelas dan tegas dari Pemerintah.
***
Judul: Pangan Lokal yang Terlupakan!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












